Klise Diarama

Klise Diarama
BAB 18, Berjuang 2


__ADS_3

~Sean


Aku, memang bukankah anak kandung dari keluarga terhormat ini. bisa dikatakan aku adalah anak mamaku namun bukan dengan papaku. sejak kecil kutahu itu, namun aku diam saja dan menikmati kehidupanku, menurutku tidak ada yang aneh dengan kehidupanku. sampai akhirnya aku paham, bahwa kepergian papa dengan wanita itu, dan ambisi mama yang selalu ingin unggul dari papa adalah semata mata ingin membalas dendam, selama ini papa selalu memberikan kasih sayang yang kurang kepada kami


"baiklak. aku tidak mau bergantung dengan kalian, aku bisa dan selamanya akan bisa. tidak ada yang bisa membuatku takut atau goyah. selama jalan yang aku mabl adalaha yang terbaik menurutku" ucap Sean dan langsung masuk kedalam kamarnya, banyak al yang harus ia lakukan


sudah dua tahun, yeahh dua tahun ia berada dimasa sulit ini. namun tetap sangat susah untuk keluar dari posisi ini, Sean bahkan setiap hari mengeluh kepada sahabatnya dan meminta solusi yang baik untuk dirinya,dan akhinrya ia tetap memilih untuk melanjutkan apa yang telah ia mulai


malam ini, setelah pertengkaranku dengan mama. aku memilih untuk berdiam dikamar smabil memperhatikan sejauh mana sudah kulalui, ternyata tidak sedikit yang aku kerjakan selama ini


aku melihat sekelilingku, kamar yang sudah kutempati selama dua tahun, namun semakin aku berfikir aku lantas teringat dengan Xena, wanita itu selalu menganggu pikiranku, namun selama setahun terakhir hubungan kami semakin menjauh saja


"apa yang ia kerjakan sekarang?"


"apakah dia masih marah pada oranggtuanya, atau sekarang menerima perjodohan itu?"


pertanyaan itu selalu terngiang dikepala Sean, tepat ketika Xeno memberitahu bahwa adiknya dijodohkan sama seperti dirinya membuat Sean harus memikirkan cara bagaimana dia bisa menghindari masalah dirinya terlebih dahulu dan membantu Xena untuk kembali padanya


"hallo" Sean mengangkat telfon yang masuk, ia harus bekerja demi perusahaan yang ia rintis sekarang, siang kuliah dan sore sampai malam bekerja, mungkin menurut orang lain sangat melelahkan, namun itulah harga yang harus ia bayar demi masa depannya


"tuan, apakah tuan bisa kesini sebentar. ada sedikit masalah pada proyek kerja hari ini, juga ada beberapa karyawan yang tidak melakukan tanggung jawabnya dengan baik, saya harap tuan dapat secepatnya kesini" ucap sekretaris kepercayaan ean selama satu tahun terakhir ini yang selalu membantu Sean mengurus perusahaan


"baiklah, saya kesana. tunggu lima belas menit saya sampai" ucap Sean dengan datar. mendengar ada masalah mmebuat kelapanya langsung pusing, sudah berapa kali seperti ini selalu terjadi

__ADS_1


dalam perjalanan Sean hanya memikirkan masalah perusahaannya, ia bahkan tidak lagi memikirkan pertengkarannya dengan mamanya tadi sore


dikantor milik Sean, beberapa karyawan dikumpulkan oleh Lay sekretaris Sean yang menyuruh tuannya segera datang kekantor itu


"dimana mereka Lay!?" tanya Sean dengan suara baritonnya dan datar, sembari melangkah masuk dan diikuti oleh Lay sekretarisnya


"didalam tuan, mereka bahkan takut bertemu dengan tuan" ucap Lay sambil terus mengikuti langkah kaki Sean dan sibuk dengan ponsel miliknya, melalukan pengecekan perkembangan perusahaan


"selamat malam semuanya, apa kabar!!?" ucap Sean dengan senyuman yang mengerikan dan sangaat dingin, membuat mereka yang ada disana bergidik ngeri


"mengapa tidak lekas menjawab, ahh kalian terlalu sepele padaku" ucap Sean sambil melangkah satu persatu mengelilingi karyawannya, membuat mereka menunduk semakin menunduk dan tidak sanggup melihat Sean


"mengapa?, mengapa harus melakukan hal sekeji dan sekotor itu?" tanya Sean sambil melihat salah seorang yang sedari tadi tidak mau menegakkan kepalanya


"bagaimana pendapatku Lay, akan kita apakan orang ini?. bicara tentang kekuasaan, mungkin aku akan kalah, bicara tentang kekuatan juga aku kalah, lalu apa yang harus kulakukan Lay?"tanya Sean dengan senyuman msirk dan menakutkan


"tuan Widjaksono, bagaimana pendapat anda tentang usul sekretaris Lay?, apakah kita harus melakukan hal demikian atau kita memberi pelajaran sedikit demi sedikit?' tanya Sean dan langsung saja tangan pria itu mencekram bahu Widjaksono dengan kasar


"m..maa..maaf.. tu..tuan..saya tidak mengerti apa maksud tuan tuan" jawab Widjaksono dengan gemetar,tubuhnya lemas dan tidak lagi berdaya, menatap Sean menurutnya sama dengan menatap setan


"baiklah kalau kau tidak tau, akan ku perjelas dan dengarkan baik baik. mengapa kau berbuat demikian, bukankah sejak awal kukatakan jangan bermain main denganku?"  tanya Sean dan mengerbrak meja tepat didepan pria paruh baya itu


"maaf tuan, saya terpaksa melakukan ini. saya terpaksa tuan, maafkan saya" ucap Widjaksono gemetar dan tidak sanggup untuk buka suara lagi, apalagi Sean berada didekat dirinya membuat pria itu bernafaspun susah

__ADS_1


"baiklah, apaapun alasan kalian itu tidak bisa kumaafkan, kalian tau perusahaan ini dibangun dnegan kerja kerasku selama ini. kalian hanya bisa datang dan membuat masalah, bukankah itu sangat keterlalua?, kukatakan sekali lagi pda kalian, tidak ada maaf bagi pengkhianat" ucap Sean dan mengambil ponsel miliknya


"aku minta bantuanmu" kali ini aku membutuhkan bantuan dari sahabatku yang bergerak dibidang eksekusi manusia, jika aku yang melakukannya mugnkin aku tidak akan sanggup bukan?


"ada apa Sean, jangan mengangguku. aku sedang belajar bersama Xeno, ganggu dia saja" ucap Gibran, ya kali ini Gibranlah yang kubutuhkan untuk menyelesaikan hal ini


"aku ada tugas untukmu Gib, akan ku kirim data dan kuserahkan semuanya padamu" aku langsung mengakhiri panggilan itu begitu saja, segera kuterima data dari Lay sekretarisku


"Lay, satu langkah lagi. segera lakukan pertemuan  dengan pemilik perusahaan XX, aku ingin tau sebepara hebat mereka akan bertahan" Sean langsung mengembalikan ponsel milik Lay dan menatap kembali para pengkhianat perusahaannya


"untuk kalian, tunggu saja apa yang akan terjadi, untuk maslaah yang lain sudah kutangani. apaun yang datang pada kalian tidak ada hubungannya denganku, namun aku tau" ucap Sean dan melangkah keluar, ia menuju ruangan miliknya dikantor itu


"Lay, bagaimana dengan proyek yang ada di NY. apakah berjalan dengan lancar atau tidak?' tanya Sean dan mengambil berkas yang ada diatas mejanya


"berjalan dengan baik tuan, saya selalu memantaunya. juga kerjasama dengan perusahaan YY sudah selesai, mungkin kedepannya tuan bisa bertemu langsung dengan mereka" ucap Lay memberikan data terbaru perusahaan kepada Sean


"baguslah kalau begitu. apakah ada hal lain yang ingin kau bicarakan Lay?" tanya Sean, melhat lagak lagu sekretarisnya itu, kemungkinan Lay menyimpan sesuatu dipikirannya


"saya... saya ingin mengatakan sesuatu tuan" ucap Lay gugp. melihat sorot mata Sean yang begitu tajam membuat nyalinya sedikit menciut


"katakanlah Lay, aku mendengarkanmu" ucap  Sean namun matanya tetap memantau ponsel milik Lay sambil membuat perhitungan dengan perusahaannya kedepan seperti apa, tidak mungkin Sean hanya diam dan mengandalkan sekretarisnya itu


"terkait dengan orangtua anda tuan. saya mendapat informasi yang menurut saya penting untuk anda" ucap Lay menunduk dan seketika membuat Sean berubah menjadi sangat serius dan rait wajahnya tampak berkerut

__ADS_1


"katakan!!" ucap Sean dengan tajam, matanya tertuju pda Lay dan tubuhnya siap mendengarkan apapun informasi itu, sesuatu yang menurutnya sangat penting dan sudah lama ia cari cari


next novelku👇👇👇


__ADS_2