
~Author
pernikahan Anna dan Amira berjalan dengan baik, mereka hidup bersama suaminya yang begitu menerima dan mencintai mereka dengan tulus, hingga keduanya sering sekali menghabiskan waktu untuk sekedar menjenguk satu sama lain, juga Erlan dan Abednego sering sekali sibuk dengan bisnis dan pekerjaan mereka yang lainnya.
"Mir apa kamu masih sering merasa mual atau pusing?" tanya Anna pada Amira saat mereka berdua dirumah Anna, Erlan menitipkan istrinya disana karna ia tau rumah Abednogo penjagaanya begitu ketat dan juga Anna ada sahabat istrinya
"gak lagi An, kamu gimana apa masih ada gejala itu?" tanya Mira, saat ini mereka berdua sedang hamil anak pertama, namun jarak keduanya hanya beda satu bulan saja wajar mereka baru saja menjadi calon ibu dan suami mereka sering tidak ada dirumah
"aku masih Mir, makanya aku takut kalo mas Abed gak ada disini aku sering kesusahan untuk jalan saja" ucap Anna tersenyum ,mereka berdua saling mengelus perut berharap yang terbaik yang datang dalam rumah tangga kecil mereka
namun ditempat lain, dimana ada Erlan dan Abed sedang pusing dan emosi karna perusahaan mereka ada yang bermain gelap, juga beberapa karyawan mereka tidak lagi bekerja dengan produktif tidak takut sama sekali degan mereka, padahal selama ini mereka sangat baik terhadap bawahan mereka, entah siapa pelopor semua masalah ini
sayalalu kita harus bagaimana Er, aku tidak mau usaha yang sudah kita bangun sejak dulu begitu saja sia-sia tanpa hasil, aku terllau lama menghabiskan waktu untuk perusahaan ini" ucap Abed yang menjadi rekan Erlan untuk membangun perusahaan ini, mereka berdua juga adalah sahabat yang sudah begitu lama dan bersama sama membangun network terhadap pebisnis diwilayah Asia
"aku juga bingung Bed, bagaimana kalau mereka yang bekerja sama adalah orang-orang yang kita percayakan dari dulu, bisa jadi mereka menghianati kita Bed" ucap Erlan dengan memijat pelipisnya, pusing memikirkan persoalan yang mereka alami saat ini, bagaimana caranya keluar dari masalah ini
"aku juga percaya itu Er, tapi siapa?, siapa yang sudah tega berbuat seperti ini?, apa dia memang tidak peduli dengan nyawanya sendiri?" tanya Abednego sambil tersenyum devil, seringai tipis dibibirnya membuat wajah ria itu yang tadinya sangat tampan dan seketika berubah menyeramkan
"aku juga tidak yakin Bed, tapi aku punya insting yang mengatakan kalau dia adalah orangnya, untuk melakukannya jelas dia sangat bisa, dari dulu dia adalah kaki tangan kita, tau semua urusan kita dan rahasia perusahaan, juga dia salah satu orang yang tinggal dirumahku" ucap Erlan membuat Abednego langsung mengeryitkan alisnya bingung
"maksud kau pria itu?" tanya Abednego dengan mata dan wajah yang begitu terkejut, bagaimana mungkin orang kepercayaan mereka melakukan hal itu, mungkin sahabatnya ini sedang bergurau saat kepalanya sedang pusing
"aku serius Bed, bisa saja dia yang melakukannya, aku sangat yakin dengan instingku karna hanya dia yang tau seeperti apa kita, siapa kita dan bagaimana kita" ucap Erlan saat mendapati tatapan Abednego yang tidak percaya kepadanya
"kalau begitu, kita temui dia sekarang" ucap Abednego dengan tak sabar, pria itu sangat pusing dnegan maslaah ini, perusahaan begitu saja berpindah tangan kepada orang lain, karyawan mengamuk karna tiba tiba ada PHK, pihak Debt Collector hari ini datang dnegan mendesak ingin mengambil perusahaan, ada apa sebenarnya yang terjadi??
"kita akan kesana Bed" ucap Erlan melemparkan kunci mobil kepada sahabatnya dan keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangan, namun saat yang bersamaan ponsel mereka berdua berdering mau tak mau keduanya menghentikan langkah untuk menerima panggilan
"mas... tolong mas"
"jangan kesini mas.. mereka akan membunuh kalian"
"plisss jangan sakiti anakku..."
__ADS_1
"tolong... jangan tolong...""
tangisan, rintihan, dan suara yang mmebuat hati dan pikiran erlan maupun Abed langsung bekecamuk, mendnegar suara istri mereka yang menangis dan dan minta tolong, merintih kesakitan melindungi buah hati mereka, tidak berfikir dua kali, tidak saling berucap lagi, Erlan dan Abed langsung melangkah berlari untuk mencari istri mereka
"dasar keparat gila!!' maki Erlan saat telfon yang tadinya belum mati, ia masih sempat berteriak dan mengumpat dengan orang yang menelfonnya itu
"lepaskan istriku baji**ngan!!, kau tidak pantas untuk menyentuh seujung rambutnya!" Abed juga sangat marah dan meraung smabil mengendalikan mobil untuk pulang kerumahnya terlebih dahulu, sedangkan Erlan sibuk mencari lokasi dimana istri mereka ditahan
"mereka benar benar cari mati, hah!!, tidak akan kubiarkan hidup" ucap Abed dan dengan kecepatan penuh ia mmebawa mobil smapai tidak peduli dengan jalan raaya yang begitu padat, untung saja ia pintar mengendalikannya namun tetap saja snagat berbahaya
"mereka ada dibelakang rumahmu Bed" ucap Erlan dengan mata merah karna amarahnya dan wajah yang mengeras serta tulang pipi yang menonjol keluar, sungguh jika lawanya didepannya saat ini bisa saja akan tersungkur babak belur
"keluar kau kepar**rat gila!!" teriak Abed dengan wajah yang merah, kondisi mereka sangat acak-acakan dan tidak menentu, rambut sudah berantakan namun mereka tidak peduli hal itu
"hahahhaha.... akhirnya dua jagoan kita ino datang juga, kalian lihat suami tercinta kalian datang dengan khawatir hahhaha" pria berwajah menyeramkan tertawa dan menghampiri Erlan dan Abed yang berdiri tak jauh dari Anna dan Amira, kondisi mereka sangat lemas ditambah mereka kehabisan tenagan menangis dan berteriak minta tolong
"kita tidak ada masalah sejak awal, aku tidak kenal siapa kau. tapi kenapa kau membuat masaah diantara kita?" tanya Erlan dengan nafas memburu namun tetap tenang dan tidak mau gegabah
"selamanya kita tiada permusuhan apapun, kita tidak ada masalah apapun, yahh itu memang benar tapi bukan aku yang ada masalah melainkan orang lain, aku hanya menjalankannya saja sebagai bentuk persahabatan" ucap pria itu tertawa lagi, Erlan dan Abed hanya melongo dibuatnya
"hahahha,,, bagaimana suprise ku tuan Erlan dan Abednego terhormat......!!" ucap pria yang sangat mereka kenal, bahkan mereka yang membuat pria itu bisa hidup sampai sekarang, tapi apa hasil yang mereka dapat?, pria itu bahkan menghianati mereka
"kau!!, bisa-bisanya kau melakukan semua ini dengan kami. dasar bedeba*h sialan, apa kau lupa dengan hidupmu sebelum bertemu kami?' tanya Erlan dengan gemuruh didadanya, namun masih menahan diri. ia sengaja tidak melihat istrinya karna jika dia melihat kearah Amira maka kewarasan yang ia punya akan hilang
"aku tidak pernah lupa tuan Erlan, aku bahkan sangat ingat. namun aku hanya tidak suka dengan kalian, aku iri dan benci, bagaimana kalian bisa sehebat ini dan mempunyai istri yang begitu cantik?" ucap pria itu melangkah mendekati Amira dan Anna yang terkulai lemas dilantai
"jangan sentuh istriku bajing*an!!" teriak Erlan yang sejak tadi sudah menahan amarah namun masih saja dipancing, pria itu langsung berlari dan menendang Aaron pria yang menjadi penghianat mereka, dengan sekali tendangan Aaron langsung tersungkur dilantai dengan darah yang keluar dari mulutnya
"ahhhh,, ternyata sekuat itu tenagamu" ucap Aaron dan bangun namun bukannya membenarkan posisinya pria itu malah mengambil sesuatu dari belakang bajunya dan
dor....
satu tembakan dengan peluru panas mengenai salah satu yang ada didepannya, Abed merintih kesakitan dengan kaki bersimbah darah yang segar, pria itu rela menggantikan Erlan yang seharunya menjadi sasaran Aaron
__ADS_1
"mas..." Anna berteriak menangis, wanita itu meskipun keadaan sangat memprihatinkan melihat suaminya terkena tembakan membuat goresan luka yang cukup dalam untuknya
"tidak apa sayang, sabar dan tenanglah" ucap Abed tersenyum, pria itu masih bisa tersenyum dalam keadaaan medesak seperti ini,
"kau baji**ngan tidak tau diri Aaron!!!" teriak Erlan dengan sekuat tenaga berlari menghampiri pira yang tersenyum menyeringai tak jauh dari posisinya, Erlan menghantam tubuh Aaron dengan sekuat tenaganya membuat pria itu terkapar tanpa perlawanan
"jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah melihat anak istrimu lagi" ucap Aaron menyorodkan pistol kearah Amira. Erlan langsung menghentikan pukulannya diudara ia tidak lagi lanjut memukul Aaron
sedangkan Abed, pria itu berusaha keras untuk mendekati istrinya dan Amira untuk membuka tali yang mengikat kedua wanita itu, namun diluar dugaan pria yang menjadi komplotan Aaron tadi langsung mencegan Abed melakukan hal itu dan menampar Abed dengan sekuat tenaganya
"jangan coba coba melakukan hal itu, ingat nyawa mereka denganku!!' ucap pria itu membuat Abed marah namun tidak bisa melakukan apa-apa
"dengar Erlan, kau selamanya tidak akan pernah bertemu dengan istri dan anakmu, dan kau juga Abed, aku membenci kalian berdua sampai meerasuk tulangku!!" teriak Aaron dan menembak kaki dan dada Erlan dengan pistol ditangannya,
"mass...." teriakan Amira menggelengar diseluruh ruangan, menyaksikan suaminya terkapar lemas dengan darah yang segar mewarnai baju Erlan, juga Anna yang sangat tidak tahan melihat hal itu, ia langsung meraih tangan Amira dan menggenggamnya
"tahan airmatamu sayang, suamimu ini pantas mati. kau tidak tau saja siapa sebenarnya suamimu ini" ucap Aaaron melangkah kearah Ammira, mengelus pipi wanita itu dan menciumnya, dengan sekuat tenaga menolak pun Amira tak sanggup lagi
Abed yang melihat ada kesempatan langsung bertindak, mengambil pistol yang ada ditangan Aaron dan menembak pria yang sudah menamparnya tadi, melihat hal itu anak buah Aaron langsung bertindak dan menghantam Abed dengan sentaja mereka
"kalian harus hidup, Amira, Anna jaga anak anak dengan baik. rawat mereka dengan baik" ucap Abed dengan sisa tenaganya dan perlahan menutup mata
Aaron puas tertawa, menatap Erlan yangg saat ini entah masih hidup atau tidak, Abed yang sudah dipastikan tidak akan selamat lagi, dengan sekuat tenaga Aaron tertawa dan melihat kearah Anna dan Amira bergantian
"lihatlah mereka, belum saja bertindak sudah tewas lebih dulu, kalian tidak seharusnya memilih mereka sebagai suami kalian, mereka tidak ada apa-apanya" ucap Aaron mendekati Amira dan Anna yang terus menangisi suaminya yang tak lagi bergerak
"urus mereka, jangan sampai orang luar pada tau masalah ini. dan ingat satu hal mulai saat ini aku pemilik perusahaan" ucap Aaron kepada anak buahnya, mereka langsung melakukan perintah Aaron menyeret tubuh Erlan dan Abed untuk diurus
"kalian berdua... Amira aku mencintaimu sejak kau datang kerumah Erlan, aku tidak akan membunuh kalian dan anak yang kalian kandung. tapi Amira kau harus menjadi istriku!" ucap Aaron membuat Amira melototkan matanya, ia tidak terima hal itu
"dan kau Anna, aku tidak peduli denganmu. kau akan ku bebaskan dan cari kehidupanmu sendiri" ucap Aaron dan memberikan kode kepada pengawalnya untuk membawa Anna keluar, sedangkan Amira ia bawa pulang. dengan sekuat tenaga keduanya menolak dan saling menangisi satu sama lain, namun itulah akir dari mereka, Amira harus rela bertahan hidup dengan Aaron yang melakukan semua hal sesuka hatinya, dan Anna menjalani kehhidupan barunya sampai bertemu Andrew dan kembali menikah
entahlah, mungkin karna hidup Anna lebih ringan dibanding Amira atau alasan apa sampai Amira tidak mau merestui hubungan Sean dengan Xena, atau mungkin Amira akan ingat kejadian memilukan itu jika melihat Xena lagi tidak ada yang tau
__ADS_1
next novelku👇👇👇