
Author
California, As. rombongan Sean dan yang lainnya telah sampai dikediaman Sean yang dulu. mereka istirahat dirumah itu menunggu nanti malam, perjalanan mereka cukup panjang dan membutuhkan mengisi energi masing-masing dan harus istirahat penuh agar nanti malam memulai misi penyerangan
Sean dan empat lainya tidur dikamar milik Sean karna harus membahas sesuatu yang perlu dipersiapkan dengan matang, karna mereka juga yang akan memimpin dan mengarahkan anak buah mereka
sementara yang lain tidur dikamar tamu dan sebagaian lagi masih di markas mereka yang ada disana, tidak perlu menghabiskan tenaga untuk ikut berkumpul karna markas mereka sendiri ada disana, tadinya Fathan juga ingin tidur dimarkas tapi dicegah oleh sean karna mereka harus berdiskusi lebih dulu
"Sean.. apakah senjata yang dipesan sudah datang?' tanya Lay bicara non formal kepada Sean karna diluar daru pekerjaan mereka teman atau bahkan keluarga
"sudah Lay..senjatanya ada disana" ucap Sean menunjuk benda yang tak jauh dari mereka
"baguslah.. aku membutuhkan itu" ucap Lay berjalan mendekati benda itu
sebuah benda berbalut tas warna hitam dan dilapisi dengan kain berwarna hitam juga, Lay langsung membukanya dan mengambil senjata yang ia maksud
"sangat bagus" puji Lay dan diangguki mereka semua, sebnarnya bukan Sean yang mengatur itu semua melainkah Fathan yang menggunakan koneksinya diberbagai penjuru dunia untuk mendapatkan sentaja itu
itu bukanlah senjata yang bebas diperjual belikan, sangat sulit mendapatkan itu namun Fathan bisa mendapatkannya bahkan dirinya sendiri juga punya benda itu
"sebenarnya itu untuk apa Lay?, kan yang memantau Xeno dan Gibran, kita akan terjun langsung kepalangan" ucap Fathan heran
untuk apa Lay meminta benda itu karna yang akan memantau dari atas adalah Xeno dan Gibran, mereka percaya dua orang itu bisa melakukan bidikan yang tepat dengan sasaran, penembak jitu diantara mereka berlima
"tidak untuk apa, aku hanya ingin belajar nanti" ucap Lay sigkat dan kembali meletakkan benda itu, ia kembali duduk bersama Sean dan membahas rencana mereka
"aku sudah memantau mansuion milik Aaron, dia memiliki beberapa kamar yang harus kita selidiki, tapi nona dan yang lainnya tidak disana" ucap Lay tertawa karna dirinya sendiri
__ADS_1
"apaan sih Lay.. gak jelas tau" ucap Gibran yang kesal dengan sekretaris Sean itu. ia memberitahu hal dengan wajah serius namun bukannya penting malah membuat kesal
"hahahha.. tenang dulu jangan esmosi, maksudku nona dan yang lainnya ada diruang bawah tanah Aaron mereka dikurung disana" ucap Lay serius, kasian mereka jika dirinya kembali bercanda yang ada akan diusir dari sana
"lalu bagaimana kami akan kesana Lay?' tanya Sean yang dirinya juga akan terjun bertarung dan ikut masuk kedalam mansion itu untuk menyelamatkan istri serta mama dan mertuanya
"aku akan memberi petunjuk karna aku juga ikut disana Sean" ucap Lay menatap Sean tajam, kenap bisa tuan muda itu lupa jika dirinya juga akan ikut bertarung
"baiklah kalau begitu" ucap Sean menyengir dan minta maaf pada Lay
"lalu kalian berdua.. pantau Aaron jika keluar dari ruang kerjanya. Xeno akan sembunyi digedung tepat didepan ruang kerja Aaron dan Gibran, kau sembunyi digedung depan kamar Aaron, karna aku tidak yakin nanti malam dia dimana pastinya tapi diantara dua ruangan itu" ucap Lay dan diangguki oleh Xeno dan Gibran
"dan kau Fathan... kau dan anak buahmu datang dari pintu belakang mansion, aku akan datang dari pintu depan agar bisa mengalihkan anak buah Aaron, mereka sudah mengenalku" ucap Lay dan lagi-lagi mereka menganggu menurut perkartaan bos mereka wkwkwk
"ya sudah begitulah nanti malam, jangan ada yang bertanya lagi ketika sudah disana, jika da pertanyaan tanya disini saja" ucap Lay menatap satu persatu mereka
"kau tentulah ikut Fathan, bagaimana caramu keruang bawah jika ikut denganku!" ucap Lay mengeram, kesal dengan tuannya yang selalu bertanya padahal ia sendiri yang membuat rencana ini awalnya
"baiklah... maaf seklai lagi" ucap Sean cengir menunjukkan deratan gigi putihnya
"kau sangat jauh beda dengan dia" ucap Lay yang didengar oleh semuanya
"dia siapa Lay?" tanya Sean bingung, mengapa sekretarisnya ini selalu bicara tentang dirinya
"tidak ada!, ayo istirahatlah semua. kalau lapar katakan pada pelayan disini" ucap Lay seolah itu ada;ah rumah miliknya yang bebas berbuat apapun disana
"sebenarnya pemilik rumah ini siapa Sean.. dia atau kau" uap Gibran tertawa, jika dilihat Lay lebih paham dan tau stiap sudut rumah itu, sedangkan Sean hanya tau kamarnya dan ruang tamu saja
__ADS_1
"entahlah.. dia menguasaiku sekarang" ucap Sean acuh dan memilih mengekori Lay yang melangkah kearah rooftop kamar itu
"Lay.. kuharap jangan ada yang kau sembunyikan dariku!" ucap Sea mode awal, dia menatap Lay dengan tatapan yang datar dan tajam seolah mengatakan jika Lay harus membuka semua hal didepannya saat ini juga
"bukan saatnya sekarang Sean, sabarlah sampai rencana ini selesai dia akan datang menemui kalian semua" ucap Lay menatap pemandangan kedepan
"dia siapa Lay?, apakah orang itu penting untukku maka dari tadi kau hanya membahas dia dan dia terus" ucap Sean meninggikan nada suaranya, ia kesal sendiri dengan sekretarisnya ini
"sangat penting. jadi utnggulah setelah misi ini selesai kalian akan bertemu kembali" ucap Lay dan menghiudpkan rokoknya, ia menghirup udara segar dengan pemandangan yang lumayan bagus didepannya
"kau membuatku kesal Lay!!" ucap Sean ketus dan pergi dari sana, lama-lama bicara dengan sekretarisnya bisa membuat Sean naik darah
skip
malam telah menyambut, mereka semua siap untuk melakukan misi malam ini, semuanya berpakian lengkap dengan sentaja masing-masing ditubuh mereka. jika sesuatu mendesak terjadi mereka akan menggunakan benda itu
"baiklah.. jet sudah menunggu diatap kita berangkat dari sana" ucap Lay mengomando mereka semua.. anak buah mereka juga sudah menunggu untuk melakukan penyerangan malam ini, sudah lama mereka tidak terjun kedalam dunia seperti ini
berbeda dengan mereka semua yang akan berperang, seorang pria tengah duduk dikursi miliknya dan menatap layar lebar didepannya, melihat orang-orang yang sibuk dilayar itu membuat dirinya hanya tersenyum menatap
matanya kosong namun menggambarkan kesedihan didalamnya, dendam yang sejak dulu sudah tertanam dan hari ini ia akan membalaskan semuanya itu, bahkan sampai titik darah pengahabisannya
"siapkan orang-orang yang kita percayai semuanya, senataja yang baik untuk berperang. kita akan melatih otot kita kembali, sudah lama rasanya tidak merasakan bagaimana memegang senjata" ucap pria itu kepada seseorang disampingnya
"baik tuan" ucap anak buahnya dan segera mempersiapkan apa yang diminta oleh tuannya itu. mereka akan melakukan latihan otot malam ini
next novelku👇👇👇
__ADS_1