Klise Diarama

Klise Diarama
Part 19, Ternyata...


__ADS_3

~Sean


"apa informasi ini benar adanya Lay?"tanya Sean ketika Lay sekretarisnya selesai menceritakan tentang keluarganya dengan informasi yang ia dapatkan


"saya juga kurang tau tuan, tapi menurut informasi dari orang yang saya dnegar dan saya juga sudah melakukan analisis semuanya benar, tidak ada yang bohong atau tipuan tuan" jawab Lay, jawaban sekretarisnya itu membuat Sean sedikit percaya dan menganggukkan kepalanya


"baiklah kalau begitu, aku akan mencari taunya lebih dalam lagi. kalau ada informasi lebih lanjut kau langsung laporkan padaku Lay" ucap Sean dan diangguki oleh sekretarisnya itu, mereka kembali diam dan melanjutkan pekerjaan masing masing


setengah jam kemudian, Sean menggerakkan tangannya yang terasa pegal sambil melirik kearah Lay, pria itu masih stay ditempatnya tanpa bergeming atau bergerak sedikitpun, mungkin ada hal yang lebih penting dan serisu yang sedang ia kerjakan


"Lay, apa kau tidak ngantuk. aku tau kau terlalu kelelahan. pulanglah lebih dulu, aku harus mencari tau sesuatu disini"  aku menoleh kearah Lay sekretarisku, ia tampak kelelahan namun tetap bersikeras menungguku sampai kelar


"tidak tuan, saya masih sanggup dan tidak terlalu ngantuk" jawabnya, namun dari ucapannya itu aku bisa melihat ada sedikit paksaan dari dirinya, dan aku paham akan hal itu


"tidak Lay, pulanglah. apa kau mau membantahku!!!" mungkin ucapanku ini terkesan kasar namun harus begini mengusir sekretaris ini agar dia bisa llebih perhatian pada tubuhnya sendiri


"baiklah tuan, jika itu perintah dari tuan, saya tidak bisa menolaknya" jawab Lay membuatku kesal sendiri, mana mungkin aku mengatakan hal itu sebagai perintah. dasar sekretaris tidak tau untung


"hemm" deheman Sean sebagai jawaban atas perkataan Lay, pria itu langsung memberesi barangnya dan keluar sambil minta ijin pada Sean, sedangkan Sean? ia tetap sibuk dengan komputer yang ada didepannya


~Xena


malam semakin larut, gadis yang sedari tadi sibuk dengan gaun yang baru  saja ia desain akhirnya selesai dan terlihat sedikit kelelahan, namun tetap saja diwajahnya terbesit senyuman manis karna telah menyelesaikan desainnya yang dari dulu ia impikan untuk tercipta dari tangan lentiknya


"ahhh... akhirnya selesai juga. gak nyangka akhirnya secantik ini juga hasilnya, ahhh au sangat puas dengan kinerjaku" ucap Xena sambil melihat gaun yang baru saja ia selesaikan sambil memuji dirinya sendiri

__ADS_1


"aaaaa.... kenapa bisa secantik ini?, apakah putri Xena yang menyelesaikannya benar benar sendiri?" tanya seseorang yang baru saja datang dengan membawa bingkisan dan tatobag ditangannya


"aahhh... kenapa  datang tidak memberitahu lebih dulu Ren?' tanya Xena melihat kebelakang, dimana Renata datang dengan barang bawaannnya, sambil duduk dan menemui sahabatnya


"aku hanya iseng saja mampir kesini Xen, aku melihhat tuan putri tadi masih disini. jadi aku berinisiatif menemaninya walaupun telat" jawaban Renata sambil tertawa juga Xena sambil mendekati sahabatnya dan melihat apa yang dibawa oleh Renata


"gimana kiliahmu?, apakah lancar?, atau ada masalah. tidak biasanya kamu keluar tanpa dua cecungguk itu?" tanya Xena, ia ingat jika tiga sahabatnya akan terus bersama sama kemanapun mereka, sama seperti dia dengan Olivia karna mereka memang satu jurusan dikampus


"mereka masih ada kegiatan dikampus, mungkin juga ma;sih ngedate" jawab Renata seadanya sambil bercanda, mereka membuka bawaan Renata tadi dan menikmatinya bersama


"maksudnya?"  tanya Xena kurang mengerti, maklumlah mereka akhir akhir ini jarang ketemu atau hangout bersama. tugas kuliah mereka terlalu banyak dan mereka tidak ada waktu walau sekedar bertemu untuk saling ngobrol bersama


terlebih lagi dua lelaki yang sibuk dengan dunia mereka, Xeno dan Gibran. mereka berdua sibuk dengan bisnis dan perusahaan mereka, meskipun memang keduanya membantu papa mereka, namun tetap saja waktu mereka bertujuh sangat kurang dan bahkan bisa dikatakan tidak ada dua bulan ini


Ivanka dan Fathan akhor akhir ini sangat lengket satu sama lain, kemana mana sellau bersama, bahkan ketika mengerjakan tugas atau ada keperluan pasti mereka saling mencari satu dengan yang lain. entah apa hubungan mereka selain sahabat yang diketahui orang lain


"biarkan saja Ren, mungkin memang mereka saling suka. kan gak masalah tah?" ucap Xena sambil tertawa, ia tau kalau Renata kesal diabaikan dua orang itu


"kamu mah..  gak tau aja kalau aku kaya nyamuk sama mereka hh" ucap Renata dengan wajah kesalnya, namun tidak berselang lama orang yang mereka sebutkan pun datang sambil membawa sesuatu juga ditangan Ivanka


"hallo guyss, ketemuan kok gak bilang bilang, huh dasar" ucap Ivanka sambil memoyongkan bibirnya, kesal dengan kedua sahabatnya yang tidak mengundang dirinya ikut bergabung


"kamu yang sibuk sama Fathan!"  jawab Renata ketus dengan wajah kesal, namun dengan cepat Ivanka tertawa dan langsung merangkul sahabatnya itu


"kok marah sihh..  nanti cantiknya hilang lohh. iyakan Than?" ucap Ivanka pada Fathan, pria itu tampak sibuk dengan ponselnya sampai tidak mendengar apa yang dibicarakan gadis itu

__ADS_1


"hemm" hanya deheman saja sebagai jawaban Fathan, membuat mereka bertiga tertawa dan masih yakin kalau sahabat mereka tidak berubah sedikitpun. masih sama seperti dulu, dingin kaya kulkas


"bagaimana hubunganmu dengan dia Van?" tanya Renata mengesampingkan kekesalannya dan lebih memilih keponya pada sahabatnya itu


"hubungan apa Ren?, aku tidak ada hubungan dengan Fathan. kami seperti biasa" jawab Ivanka bingung, namun aku lebih memilih diam,  mencoba menjadi pendengar yang baik


"lihat Xen, sahabat kita yang satu ini mulai berbohong dan menutupinya" ucap  Renata kearahku, ahh aku hanya diam tertawa. namun tak urung aku juga kepo  dengan Ivanka dan Fathan


"siapa yang bohong Ren?, apa kalian mnegira kami ada hubungan lain karna kedekatan kami?' tanya Ivankan langsung peka dengan apa yang menjadi tatapanku dan Renata


"astaga... Fathan tidak suka padaku dan aku juga gitu. kami dekat karna sedang mengerjakan sesuatu. lagipun itu karna terpaksa" ucap Ivanka sambil mengubah raut wajahnya menjadi kesal


"maksudnya?" aku lebih dulu bertanya alasannya, mengapa Ivanka mengatakan terpaksa. apakah ada hal lain yang tidak kami ketahui?


"yeahhh. aku sengaja dekat dengannya, aku tidak tau juga Fathan. orangtua kami menjodohkan kami berdua, padahal aku dan dia hanya sebatas sahabat, namun karna orangtuaku dan orangtua dia mengancam kami, maka mau tak mau kami harus menuruti"


"lagipula, aku tidak ada niatan menyukai salah satu adri kita. kalian adalah saudaraku, dan aku sudah menyukai orang lain, namun karna terpaksa dan kami selalu dipantau ya begitulah harus dijalani" jawab Ivanka panjang lebar, ternyata dugaanku dan Renata salah


"perjodohan lagi, mengapa diantara kita selalu mendapat masalah perjodohan. apa orangtua kita hanya tau perjodohan, apakah dulu mereka nikah juga karna dijodohkan?, aku,kamu,Sean bahkan Fathan mendapat masalah yang sama, tidakkah nanti juga Renata dan Oliv juga Gibran dan abangku?' tanyaku dengan wajah pias,


kecewa dan terlebih marah pada orangtua kami masing masing, dizaman seperti ini masih sibuk menjodohkan anak anaknya, mereka juga tau kalau zaman ini bukan seperti zaman mereka


"entahlah Xen, aku pun merasa marah pada orangtuaku, tapi karna itu adalah Fathan aku masih bisa bersekongkol dengannya. gimana denganmu Ren?' tanya Icanka sambil menoleh kearah Renata, begitu juga denganku


next novelku👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2