
Ayah Ayuna berfikir merenung dalam. Kehidupan sangat Puterinya, niat harinya ingin segera melihat sangat Puteri berdampingan dengan pasangannya dan berumah tangga sendiri bahkan dalam impiannya segera ingin memiliki sebuah cucu yang akan menjadikan ramai rumah yang besar itu.
Tetapi ego sangat Ayah yang masih takut untuk memberikan puterinya kepada seorang laki-laki, Ayah harus berfikir siapa yang cocok dan pantas buat pendamping sang Puteri tercintanya.
Dari seribu lelaki yang melamar Puterinya semua telah di tolak bahkan tidak di restui walaupun sudah berpacaran selama lama, dan akhirnya mereka satu persatu meninggalkan Puteri yang lama menerima restu dari sang Ayah, ayuna merasa menjadi seorang boneka yang diatur dan di siapkan dengan baik oleh sang Ayah.
Ayahnya sangat tidak ingin hidup sang Puteri disakiti dan dikecewakan oleh seorang laki-laki karena dia sangat terpukul dengan kisah hidupnya masa remaja yang dimana Ibu tercintanya di sakit ayahnya dan dirinya harus berjuang secara sendiri.
Terbayang ketika apa yang terjadi kepada sang namanya, yang melihat dengan mata kepalanya sendiri di balik lubang kecil di pintu kamarnya yang melihat mamanya di siksa dan di tampar dengan kasar olehnya, bahkan mamanya terjatuh bahkan tersungkur tetap tidak ada rasa untuk menolong, setiap hari dilakukan yang sama ketika Ayah tidak ada, Jika ada Ayahnya seolah olah baik kepada Ibunya, pintar berakting dan bersandiwara.
Ayah meneteskan air matanya yang sangat sayang untuk diingat dan dikenang sang mama yang di cintainya sudah meninggalkannya selama-lamanya.
Ayah sangat merenungi apa yang terjadi kepada kehidupan masa lalunya.
" Aku kenapa harus trauma sampai sekarang, gara-gara masa laluku, aku selalu melarang seorang lelaki yang datang untuk melamar Puteriku selalu aku tolak begitu, apakah aku akan membuat Puteri menjadi seorang yang sendirian nantinya, aku harus bisa merubah diri dan aku harus mulai memberikan kebebasan untuk Puteriku, pasti apa yang terja,di cerita manusia berbeda, semua kejadian yang sudah terjadi sebagai bahan perbaikan dan waspada untuk tidak terulang lagi," Ucap Ayah Yusuf
" Kalau begitu aku harus membuka sedikit demi sedikit pintu restu dan hati siapa lelaki yang siap dan berani untuk meminang Puteriku," Ucap Ayah Yusuf
Tak lama Mama Nadia melihat dari kejauhan melihat hati Ayah yang dimana tidak wajar melainkan rasa cinta terhadap Puterinya sampai segitu dalam mengatur kehidupan sang puterinya.
" Ayah, pasti sedang mengingat dan merenungi semua masa lalu hidupnya dengan keluarganya," Batin Mama Nadia sambil berjalan menghampirinya
" Bik Suni, tolong buatkan Minuman hangat untuk Ayah dan aku, nanti bawa kesana ya," Ucap Mama Nadia
" Siap Tuan, nanti saya bawakan kesana dan saya siapkan makanan ringan untuk cemilannya," Jawab Bik Suni
__ADS_1
" Ya sudah, " Ucap mama Nadia
Mama Nadia sampailah didekat Ayah. Dan langsung mendekap dari belakang.
" Ah mama ini ada apa apa ngagetin Ayah saja," Ucap Ayah Yusuf
" Ayah sedang sedih dba teringat cerita masa lalu kan, dan pasti Ayah mulai mengerti apa yang harus dilakukan," Jawab Mama Nadia
" Iya Mama kok tau, " Ucap Ayah Yusuf
" Tau lah apa yang Ayah lakukan itu salah, walaupun Ayah sangat menyanyangi Ayuna, semua itu beda cerita itu cara agar Ayuna tidak merasa cerita kehidupan masa Ayah, yakin kehidupan Ayuna akan indah jika kita baik dan mencarikan sesuatu yang baik, yakinlah," Ucap Mama Nadia
" Coba pikirkan, sekarang Ayuna sudah dewasa ia perlu pendamping dan ia juga butuh seorang laki-laki yang akan menjadi pemimpin kehidupannya Ayah," Ucap Mama Nadia
" Benar Ma, Ayah merasa egois untuk kehidupan Puteri kita, serasa ikut campur dalam kehidupan Puteri kita, aku akan mulai membuka hati dan membuka siapa saja yang lantas menjadi pendamping Puteri kita itu yang berani dan siap bertanggung jawab untuk Ayuna," Jawab Ayah Yusuf
" Permisi ini minuman hangat dan cemilannya tuan, permisi, " Ucap Bik Suni
" Terima kasih ya bik," Jawab Ayah Yusuf
" Sama-sama tuan," Jawab Bik Suni
" Ya sudah Ayah harus merasakan minuman hangat terlebih dahulu agar merasa agak plong dan makanan cemilan ringat agar merasa ringan pikiran yang Ayah pikir sekarang," Ucap Mama Nadia
" Iya Mama, sangat tercinta kepadamu, Terima kasih sudah menjadi wanita yang baik dalam kehidupan Ayah," Jawab Ayah Yusuf
__ADS_1
" Sama-sama Ayah, Terima kasih juga Ayah yang menjadi Ayah yang sangat baik dan bahkan tidak kasar terhadap wanita, " Jawab Mama Nadia
Mereka menikmati suguhan yang sudah di siapkan Mama yang di minta dari Bik Suni. Ayah yang saat itu menikmati jamuan minuman hangatnya menjadi hatinua semakin tenang dan mulai membuka perasaan untuk Puteri menentukan kehidupannya, bahkan Mama yang hanya bisa memberikan solusi dan pendapat yang baik soal ini.
" Bagaimana Yah, cemilannya Mama beli kemarin di pasar dan itu baru dari teman Mama yang tinggal di kampung, " Ucap Mama Nadia
" Enak sekali MA, ini sangat beda dan unik, jajan ini belum Ayah rasakan baru pertama ini, " Jawab Ayah Yusuf
" Emang aku request untuk rasa dan jajan yang beda Yah, " Ucap Mama Nadia
" Oh iya ngomong-ngomong Ayuna belum pulang dari kerjanya, " Tanya Ayah Yusuf
" Belum sama sekali, paling masih banyak kerjaan, dan tidak lama lagi waktu pulang tiba," Ucap Mama Nadia
" Iya ma, aku mau menemui Ayuna jika sudah pulang," Ucap Ayah Yusuf
" Ya tunggu Ayuna dirumah nanti, Ayah bebas mau bertemu dan mau ngomong apa terserah, pesan Mama gunakan waktu itu untuk meluangkan dan memberikan jawaban kepada Puteri kita, semoga hal terbaik utnuk untuk kita semua," Jawab Mama Nadia
" Kalau begitu Mama mau kedapur mau memasak bersama Bik Suni menyiapkan makan malam buat nanti malam kalau begitu Yah, aku tinggal sebentar ya Yah," Ucap Mama Nadia
" Iya Ma, silahkan," Jawab Ayah Yusuf
Mama Nadia meninggalkan Ayah, saat itu juga Ayah Yusuf menuju ke kamar untuk bersih diri agar dirinya lebih fresh dan kelihatan bersih dan segar.
Mama Nadia yang langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan malamnya dengan Bik Suni. Mama Nadia menyiapkan sayuran yang di berikan temannya kemarin untuk masak, Mama Nadia memasak menu baru untuk hidangan malam itu, dengan bahan yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Mama Nadia dan Bik Suni sibuk dengan kerjaan masing-masing, mereka bertugas dan menyelesaikan tugas masaknya sendiri dan tugasnya dengan baik.
bau yang di masak sudah sampai terasa di sudut ruangan rumah bahkan dari arah para satpam dan pembantu lainnya, merasakan bau lezat menu hidangan makan malam yang berbeda.