
Setelah Vania memberikan dan bertemu dengan Danil untuk segera melakukan rencana pertama, Vania merasa tidak tahan untuk menunggu lama. Saya itu juga Vania menelepon Hamra.
Danil yang saat itu berdiam diri mendengar omongan Vania dengan Hamra, membuat Danil juga siap melakuan aksinya bahkan Danil sudah tau mau lakukan seperti apa.
Hamra saat itu tidak merasa akan terjadi seperti itu, mendengar ocehan vania dirinya seperti orang yang dipaksa untuk menuruti maunya. Walaupun Hamra tidak mau sama sekali di hati dan geraknya.
" Bagus kalau kalau kamu mau berjuang untuk mantan kekasih dulu, juga bagus juga jika kamu bisa memiliki seutuhnya Ayuna," Ucap Vania
" Sungguh aku menyesal dulu pernah meninggalkannya dan tak mau bertahan karena sikap ayahnya, dan dirinya hanya memiliki memberi sesuatu yang hanya membuatku tak sabar," Jawab Danil
" Emang bodoh kamu dari dulu, memiliki orang yang dimana keluarganya posesif, dan menolak aku yang menerima dan keluarga untuk bersama, Danil..., " Batin Vania
" Tak usah di sesali, masih ada jalankan, makanya kita harus serius untuk rencana kita ini," Jawab Vania
" Pastinya," Ucap Danil
Vania mengambil handphonenya dan segera menghubungi Hamra, handphone yang sudah di taruh di dekat telinganya. Suara sering di handphone Vania, serta panggilan masuk di handphone Hamra.
Hamra saat itu melihat panggilan dari Vania membiarkannya, Vania menghubunginya akhirnmulainra mulai mengangkatnya.
" Ayo angkat.. Kok lama banget," Batin Vania
" Kenapa perempuan ini memanggil ku, aku sudah membiarkan dia tetap menghubungiku, jika aku tidak mengangkat pasti akan semakin berabe dan perempuan itu akan nekat melakukan apa yang dia mau, kalau begitu aku angkat, " Ucap Hamra
" Hallo, ada apa telpon aku, ganggu orang saja," Jawab Hamra
" Siapa, " Sahut Danil
" Hust... " Kode ke Danil
" Aduh kok marah-marah sih, nanti jelek lho, aku hanya kangen, " Ucap Vania
" Jika tidak ada hal yang penting, aku matiin, " Jawab Hamra
__ADS_1
" Sabar mas, ini baru mau bilang mas udah marah-marah saja, Vania mau bilang dari mana jika mas marah-marah dulu," Ucap Vania
" Makanya buruan jangan buang waktuku yang tidak berguna ini, " Jawab Hamra
" Iya iya... Sabar ini mau kasih tau, kalau besok aku ada acara pernikahan teman aku mas harus temanin aku ke acaranya dan kamu harus bisa menjadi pasangan untuk aku," Ucap Vania
" Aku tidak mau," Jawab Hamra
" Mas tidak mau, tenang saja dan tunggu aja kalau begitu, " Ucap Vania
" Ok ok.. Aku akan turutin mau kamu, hari kapan jam berapa kamu tau aku kerja namun harus tau kapan aku luang, " Jawab Hamra
" Tenang saja aku bisa mengaturnya, mas tenang tidak akan menganggu kerja mas, waktu dan kapan aku akan kasih mas lewat chat, " Ucap Vania
" Terserah kamu, aku masih banyak kerja, " Jawab Hamra langsung mematikan panggilan
" Haha.. Dasar cewek gila, siapa pun orang jika tidak suka di paksa apapun tidak akan mau, siapa yang mau sama wanita seperti mu, aku ja tidak tertarik kepadamu, " Batin Danil
" Pasti kamu telpon dengan Hamra calon suaminya Ayuna," Sahut Danil
" Syukurlah kalau dirinya mau, jadi akan memudahkan rencana kuta bukan, " Ucap Danil
" Iya Danil, semoga kita akan berhasil di rencana satu ini, " Jawab Vania
Hamra berpikir keras dan panjang permintaan Vania, bahkan Hamra mulai binggung harus bagaimana untuk melakukan sesuatu yang dirinya tidak mau sama sekali dan sulit menerimanya, cara yang kotor membuat dirinya sangat marah dan jijik bahkan merasa ingin jauh dari wanita itu dan membuat pengalaman yang tak sama sekali ia inginkan.
" Aduh bagaimana ini wanita itu mulai berani melakukan apa yang dirinya mau, aku harus bagaimana, jika aku menolak maka semua akan banyak masalah yang aku hadapi, jika aku menerimanya maka aku menjadi orang yang bodoh," Ucap Hamra
" Hamra hanya pasrah dan menjalankan semua apa yang dirinya minta, jika dia masih bisa mempermainkan aku aku harus siap untuk melawannya," Ucap Hamra
" Ya sudah aku sudah memulai star jadi untuk Ayuna kamu pastinya sudah tau mau seperti rencana kamu, aku mau pergi masih ada urusan yang menungguku," Ucap Vania
" Tenanglah, aku akan lakukan sebisa aku, aku sudah tau apa yang harus aku lakukan," Jawab Danil
__ADS_1
" Bagus kalau begitu, aku tidak susah-susah untuk memikirkan lagi," Ucap Vania
" Oke, " Jawab Danil
" Aku mau pergi dulu, sampai jumpa lagi, jika ada apa-apa segera hubungi aku," Ucap Vania
" Santai, pastinya, " Jawab Danil
Vania meninggalkan cafe Camelia dan menuju ke urusan yang lainnya, Danil memulai untuk menghubungi Ayuna.dan Ayuna saat itu menolaknya untuk diajak bertemu dengan pintarnya Danil berbicara membuat Ayuna menerima tawarannya.
" Aku harus menghubungi Ayuna, aku akan mengajak Ayuna untuk makan malam," Ucap Danil
Danil mulai menghubungi Ayuna. Panggilan Masuk di handphone Ayuna.
" Siapa yang menelponku, ternyata Mas Danil, ada apa mas Danil menghubungi ku, apa ada sesuatu, aku angkat saja," Ucap Ayuna
" Hallo, Selamat siang, Mas Danil bisa Ayuna bantu, " Jawab Ayuna
" Ayuna, maaf menganggu waktunya sebentar, aku mau mengajak kamu untuk keluar makan malam, apakah kamu bisa," Ucap Danil
" Aduh bagaimana ya mas karena masih banyak kerjaan aku, dan hari ini saja aku masih banyak kerja, dan jika malam nanti aku kelaur bagaimana dengan tugas aku, jauh juga," Jawab Ayuna
" Tolong please, aku juga mau cerita dan ada masalah ingin minta bantuan kepada dirimu, hanya sebentar, karena aku sedang sangat binggung bagaimana caranya," Jawab Ucap Danil
" Hem ya sudah iya, tapi nanti aku agak telat, dimana," Jawab Ayuna
" Tempat biasa saja di cafe Amanda," Ucap Danil
" Ya sudah mas kalau begitu, aku mau lanjut kerja dulu, selamat siang," Jawab Ayuna
" Iya sama-sama, maaf menganggu waktunya, selamat beraktivitas lagi, aku tunggu nanti," Ucap Danil
" Emang masalah Mas Danil apasih seperti kayak serius saja, dan kenapa harus dengan diriku harusnya dia cerita kepada sahabat dan keluarga bukan kepada orang lain, jadi aku tidak bisa mengawasi Mas Hamra donk, terus aku izin ke mas Hamra atau tidak ya," Ucap Ayuna
__ADS_1
Ayuna merasa takut dan bimbang dirinya harus izin kepada Mas Hamra atau tidak, perasaannya snagat binggung, Ayuna berpikir panjang Ayuna memutuskan untuk berani untuk bilang kepada mas Hamra untuk menemukan temannya yang sedang butuh dirinya untuk bercerita.
Ayuna saat itu langsung mengambil handphone di meja serta segera untuk memberikan ya bukan kepada Mas Hamra soal rencana dan izinnya.