Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 12


__ADS_3

Pukul tiga dini hari Laila membantu Mira menyiapkan makan sahur. Kali ini sikap Mira agak lebih baik dan dia mengijinkan Laila untuk makan sahur bersama yang lainnya.


Mungkin karena saat ini Mira membutuhkan tenaga Laila untuk membantunya berjualan takjil. Jika tak saling menguntungkan sepertinya Mira akan tetap membiarkan Laila makan makanan sisa keluarganya. Prinsip simbiosis mutualisme yang ia terapkan dalam kehidupannya, jika tak menguntungkan maka ia enggan membantu orang lain sekalipun saudaranya sendiri.


Handoko, Aldo dan Qadar sudah duduk di kursi meja makan. Laila dan Mira baru selesai masak dan makanan pun siap di hidangkan. Namun Dita belum juga keluar dari kamar, nampaknya anak gadis yang satu itu masih nyenyak tertidur setelah semalaman bergadang.


"Laila, tolong panggilkan Kak Dita suruh dia bangun dan makan sahur!" titah Handoko.


"Baik Paman. " Laila pun berjalan menuju kamar Dita.


Tiba di depan kamar bercat putih dengan hiasan gantung bertuliskan nama Dita Asmara pada daun pintunya. Laila langsung mengetuk pintu dan memanggil nama Dita.


Dita yang berada di dalam merasa terganggu tidurnya mendengar suara ketukan pintu berulang yang di lakukan Laila, di selingi suara sahutan sepupunya itu.


Dita menutup wajah dengan guling yang semula berada dalam dekapannya.


"Kak! Kak Dita, bangun sahur!" seru Laila sambil terus mengetuk pintu.


"Aish rese nih anak!" Dita pun beranjak dari tempat tidur dengan malas-malasan.


"Iya, iya! Berisik banget sih," kata Dita sambil membuka pintu kamar dan melihat Laila berdiri di depan pintu kamarnya.


"Berisik, ganggu orang tidur aja!" sungut Dita pada Laila yang hanya diam tak berkata apapun.


Dita berjalan ke ruang makan mendahului Laila.


"Cuci muka, kita makan sahur," kata Handoko saat Dita muncul di ruang makan di ikuti Laila di belakangnya.


"Kak Dita tidurnya kebablasan, orang pada nungguin sahur ini malah tidur mulu kerjanya," celoteh Aldo sambil mencibir.


"Halah bocil usil, tak cubit mulutnya baru tau rasa!" ketus Dita sambil masuk ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Udah-udah, ngapain juga berantem gak baik!" tegur Handoko.


"Aldo jangan bicara seperti itu sama Kak Dita, gak sopan namanya. Iyakan Kak Laila?" ucap Qadar.

__ADS_1


Laila hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Tuh lihat mereka gak pernah berantem. Aldo baik-baik bicara sama kakaknya ya!" ucap Handoko sambil mengelus rambut putra bungsunya.


"Iya Ayah," kata Aldo manggut-manggut.


Mira yang melihat itu mendelik sinis merasa anak-anaknya terus di banding-bandingkan dengan kedua keponakannya.


"Wajar mereka gak berantem, tau diri lah mereka lagi numpang di rumah siapa," cetus Mira sambil memulai makan sahurnya.


Laila dan Qadar hanya terdiam tak menggubris perkataan Bibinya. Sedangkan Handoko geleng-geleng kepala mendengar perkataan istrinya yang selalu nyeleneh saat menanggapi Laila dan Qadar.


Tak lama Dita pun keluar kamar mandi dan bergabung bersama mereka untuk makan sahur.


***


Seperti biasa rutinitas setiap harinya Laila mengantarkan Qadar ke sekolah. Kali ini Laila membawa kabar baik tentang Ayahnya yang masih hidup, pada Restu ia bercerita jika kemarin Pamannya yang bernama Handoko sempat melihat Ayahnya di suatu tempat.


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya! Kalau gitu kamu harus cepat-cepat sebar foto biar Ayahmu segera di temukan. Nanti aku bantu kamu sebarkan foto ayahmu ke setiap sudut kota ini, lebih cepat lebih baik," ucap Restu.


"Iya aku juga berpikir begitu," kata Laila.


Laila tampak berpikir sejenak, ia harus punya uang untuk memperbanyak foto Ayahnya. Ia teringat ucapan Mira yang menawarkannya untuk jualan takjil keliling, mungkin dari sana dia bisa dapat keuntungan lantas bisa punya uang untuk mencetak dan memperbanyak foto ayahnya.


"Mungkin besok atau lusa. Pulang dari sini aku mau jualan dulu takjil punya Bibi Mira, nah kan nanti aku dapat uang tuh jadi bisa langsung print foto Ayah ku, fotocopy juga biar banyak!" ucap Laila bersemangat.


"Oh bibi mu suka bikin takjil ya?" tanya Restu.


"Iya." Laila manggut-manggut.


"Kalau gitu pulang sekolah aku antar kamu dan Qadar pulang ke rumah kalian," kata Restu.


Laila mengernyitkan kening tak mengerti maksud Restu.


"Kamu mau beli takjil buatan bibi ku?" tebak Laila.

__ADS_1


"Iya aku mau beli beberapa biji dulu, kalau misal ibuku suka nanti aku bisa pesan lebih banyak lagi, soalnya ibu sering adain acara buka bersama dengan keluarga besar," kata Restu.


"Wah bagus tuh! Bibi pasti senang," ucap Laila membulatkan kedua bola matanya.


"Makanya aku harus tau dulu rumah mu, biar nanti mudah kan kalau misal aku sama ibu mau pesan takjil," ucap Restu yang sebenarnya dia memang ingin tau dimana Laila tinggal.


"Oke, makasih loh sebelumnya."


"Sama-sama. Yaudah aku masuk dulu bentar lagi bel, nanti tunggu aku pulang ya jangan kemana-mana," ucap Restu.


"Siap!" Laila menggerakan tangannya di depan kepala memberi hormat pada Restu.


Restu makin gemas melihat tingkah Laila. Sebagai anak remaja tentunya benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Restu semenjak ia bertemu dan mengenal Laila lebih dekat. Kesederhanaan dan ketegaran Laila membuatnya tertarik pada gadis belia itu.


Pukul 10.00 Qadar sudah keluar dari pintu gerbang, namun sepertinya mereka harus menunggu Restu keluar sekitar satu jam lagi.


"Kita nunggu Kak Restu bentar ya, katanya dia mau antar kita pulang sekalian mau beli takjil bikinan bibi," ucap Laila pada Qadar.


"Asyik, kita gak naik angkot dong!"


"Kok asyik?" tanya Laila heran.


"Abisnya di angkot berdesak-desakan, mana bau keringat segala macam. Aku suka mual apalagi puasa gini, bisa-bisa puasaku batal," cetus Qadar.


"Aish,, gak boleh gitu kali. Besok-besok kita naik angkot lagi kan, sehari ini aja di anter sama Kak Restu," kata Laila.


"Kalau bau tutup idung atau pake masker, kalau enggak tahan napas," sambungnya sambil di iringi tawa.


"Kak Laila aneh, masa iya tahan napas. Dari sini ke rumah bisa seperempat jam loh, mana kuat aku tahan napas selama itu," ucap Qadar polos.


"Makanya jangan rewel, namanya juga naik angkot bukan naik mobil pribadi," ucap Laila sambil memijit hidung adiknya karena gemas.


Qadar langsung mengusap-usap hidung mungil yang di pencet Laila kakaknya.


"Kak, Ayah pasti punya mobil pribadi kan? Secara ayah kerja di kota bertahun-tahun udah pasti beliau kaya dong! Nanti kalau udah ketemu sama Ayah, kita gak akan berdesak-desakan lagi naik angkot, terus kakak juga bisa lanjutin sekolahnya," ucap Qadar berangan-angan.

__ADS_1


"Mungkin, kita doakan saja semoga ucapanmu benar." Laila pun turut membayangkan suatu hari nanti bertemu dengan Ayah mereka dengan keadaan mapan namun bagi Laila bertemu saja sudah lebih dari cukup, masalah harta bukanlah hal penting. Laila yakin sekalipun Ayahnya tak sekaya yang Qadar pikirkan tapi beliau pasti akan berusaha mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Sama seperti yang di lakukan Ayah-ayah lain di luar sana.


bersambung,


__ADS_2