
Sepanjang malam Laila berdoa untuk kesembuhan Qadar yang sampai saat ini belum siuman. Benturan di kepala membuat Qadar sukar untuk sadar dari pingsannya, meski menurut Dokter Qadar sudah berhasil melewati masa kritisnya tetapi Laila belum bisa tenang sebelum melihat mata Qadar terbuka dan bangun dari pingsan.
"Lebih baik kamu istirahat Laila, semalaman kamu tidak tidur. Kamu juga harus menjaga kesehatan agar bisa merawat Qadar, kalau kamu sakit nanti Qadar akan mencarimu, dia pasti sedih melihat mu seperti ini," ujar Handoko.
"Laila gak ngantuk Paman, Laila mau tunggu sampai Qadar bangun." Gadis itu bicara tanpa menoleh pada Handoko, tatapan mata sayu terus tertuju pada Qadar adiknya yang terbaring lemah di atas ranjang besi rumah sakit.
"Mau sampai kapan kamu gak tidur? Mendingan kamu istirahat biar nanti Paman bangunkan kamu kalau Qadar siuman. Jangan menyiksa dirimu seperti ini Laila," kata Handoko.
Laila terdiam sejenak, sebenarnya dia enggan jauh dari adiknya meski hanya sekedar tidur saja. Tapi ucapan Pamannya ada benarnya, ia memang harus menjaga kesehatan karena siapa lagi yang akan merawat Qadar nanti kalau dia sendiri sakit.
Laila pun bangkit dari tempat duduk yang berada di samping ranjang Qadar, beralih ke sofa yang berada di ruangan tersebut.
Sekarang Handoko beralih duduk di sana menggantikan posisi Laila.
"Paman tidak masuk kerja?" tanya Laila.
"Paman sudah izin untuk beberapa hari, untungnya atasan Paman mengizinkan," kata Handoko.
Laila merogoh saku rok mengeluarkan sejumlah uang yang di berikan Restu tadi malam padanya.
"Paman, pegang uang ini untuk biaya Rumah Sakit Qadar. Semalam Restu memberikan uang ini padaku, katanya dari ayah." Laila menyodorkan uang tunai tersebut pada Handoko.
"Semua biaya sudah Paman bayar dari uang titipan kamu waktu itu, selebihnya dari Bibi mu." Handoko tak segera menerima uang tersebut.
"Kalau begitu ambil saja untuk mengganti uang Bibi yang terpakai," ucap Laila.
__ADS_1
"Tidak nak, seharusnya Paman yang membiayai kalian. Tak perlu kamu ganti uang itu, biar kamu simpan saja uangnya untuk jaga-jaga kedepannya kalau misal Paman gak pegang uang," kata Handoko.
Seketika Dita dan Mira masuk ke ruangan tersebut, dari kediaman Ambar tadi mereka langsung ke Rumah Sakit.
Melihat sejumlah uang di tangan Laila membuat mata Mira membulat dan berkilat.
"Itu uang dari Syarif kan? Sini biar aku yang simpan, soalnya semalam aku yang bayar sisa administrasi rumah sakit. "Mira teringat ucapan Restu yang katanya sudah menerima uang dari Syarif untuk di berikan pada Qadar dan Mira yakin uang yang kini berada dalam genggaman tangan Laila yang di maksud.
"Mira, uang kamu biar nanti aku yang ganti. Qadar pasti masih butuh banyak biaya di rumah sakit, biar Laila yang pegang uangnya!" kata Handoko mencegah istrinya agar tak minta ganti dari Laila.
"Nanti minta saja lagi sama Syarif. Gampang kan? Tapi minta nya harus lewat Restu biar di kasih soalnya tadi saja aku sama Dita ke rumah Syarif malah di suguhi pertengkaran mereka, " jelas Mira tanpa merasa berdosa.
"Apa? Kamu datang ke sana? Ngapain?" Handoko terkejut begitupun dengan Laila.
"Ya minta ganti uang ku lah sama bapaknya si Laila. Eh tau gak kalau sebenarnya Syarif nikahin Ambar saat Ambar berbadan dua dan lebih gilanya lagi anak dalam kandungan Ambar itu bukan anaknya Syarif. Gak tau siapa bapaknya, makanya Syarif nikahin kakakmu karena ia gak cinta sama Ambar, dia terpaksa nikahi wanita kaya itu mungkin karena di iming-imingi kekayaan, " kata Mira menarik kesimpulan sendiri atas apa yang ia tau setelah menyaksikan pertengkaran kedua pasutri tadi.
"Kamu jangan ngawur kalau ngomong, tau dari mana?" Handoko tak begitu saja percaya pada ucapan istrinya.
"Ya dari mereka. Barusan aku sama Dita menyaksikan perang dunia ketiga antara Ambar dan Syarif. Malah Restu sempat datang juga tapi habis itu dia pergi entah kemana, sepertinya anak itu terpukul setelah tau latar belakang keluarganya seperti apa," cerocos Mira.
Laila yang dari tadi mendengarkan cerita dari Mira mulai merasa iba pada Restu. Awalnya dia pikir Restu adalah kakak satu ayah dengannya tapi ternyata antara dia dan Restu tak ada hubungan darah. Laila tau hati Restu pasti sangat hancur, sama seperti dirinya. Baik Restu, Qadar maupun dirinya sama-sama hanya korban dari ke perbuatan orang tua mereka.
Laila merasa heran kenapa Syarif ayahnya begitu menyayangi Restu ketimbang dirinya dan Qadar. Padahal Restu bukanlah anak Syarif, tapi perlakuan Syarif lebih baik terhadap Restu di banding pada Laila dan Qadar yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri. Apa yang mendasari Syarif berbuat setega itu? Apa benar yang di katakan Mira jika Syarif memilih hidup bersama Ambar dan Restu karena mereka memiliki harta kekayaan sedangkan jika Syarif memilih Marni dulu maka hanya kesengsaraan yang di dapat.
Mira terus nyerocos menceritakan kejadian perselisihan yang terjadi antara Ambar dan Syarif, sementara Laila terus mendengarkan dan mencerna semuanya.
__ADS_1
Andai Laila punya banyak uang, apa Syarif akan mengakui dirinya? Apakah uang lebih berarti bagi Syarif di banding kedua anaknya? Jika memang begitu, Laila benar-benar tak habis pikir.
Laila segera duduk di sofa memejamkan mata dan tak menghiraukan cerita Mira dan Dita yang saat ini sedang bercerita pada Handoko.
Berkisah tentang rumah tangga Ambar dengan ayahnya Syarif, sama sekali Laila tak ingin tau menau lagi tentang mereka. Sebelum beristirahat Laila mengembalikan uang Mira yang terpakai oleh biaya perawatan Qadar. Semata-mata agar Mira dan Handoko tak bertengkar hanya karena masalah uang itu.
Tiba-tiba Dokter masuk ke dalam untuk memeriksa Qadar. Saat itu juga Mira berhenti bicara dan membiarkan Dokter memeriksa keponakannya.
Mira dan Dita keluar dari ruangan, uang dari Laila sudah mereka dapatkan. Meski tidak semuanya dan hanya mengganti uang yang ia pinjamkan semalam.
Dokter memeriksa keadaan Qadar. Sementara Laila sudah tertidur pulas karena mungkin dia lelah hingga mudah sekali dia tertidur hingga tak menyadari kedatangan Dokter tersebut.
"Gimana kondisi keponakan saya, Dok?" tanya Handoko.
"Sepertinya pasien butuh suport dari seseorang. Jika ada sosok orang tua nya, yang mungkin bisa mendorongnya untuk segera sadar," saran Dokter.
"Tapi saya Pamannya sama saja orang tuanya kan Dok? Terus ada kakaknya juga, Laila." Handoko mengarahkan jari telunjuknya pada Laila yang kini terbaring pulas di atas sofa.
"Mungkin pasien membutuhkan suport dari selain kalian. Mungkin ada yang ingin Qadar rindukan selama ini, misalnya." Dokter menjelaskan.
Seketika Handoko teringat pada Syarif . Tapi tak mungkin dia membawa Syarif ke sini, bahkan Syarif saja tak punya inisiatif untuk menemui putranya yang mengalami musibah.
"Jika ada tolong usahakan agar pasien bisa segera sadar. Tak ada salahnya mencoba sesuatu," kata Dokter sebelum ia keluar dari ruangan.
"Akan saya usahakan!" ucap Handoko dengan tatapan mengawang.
__ADS_1
bersambung,