Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 43


__ADS_3

Ambar berjalan dengan langkah gontai di koridor klinik Yusa Medika. Setelah mendengar pernyataan dari Dokter perihal penyakit yang di derita oleh suaminya, Syarif.


Menurut Dokter, Syarif harus segera menjalani operasi agar penyakit yang di deritanya bisa secepatnya di tangani dengan baik sebelum bertambah parah.


Bagi Ambar, Syarif adalah segalanya. Tentu ia akan melakukan apapun demi kesehatan Syarif. Pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dari kesalahan yang dulu ia lakukan. Tanpa adanya Syarif mungkin sepanjang hidupnya akan menjadi cemoohan orang. Syarif sudah menutupi aibnya selama ini.


Perasaannya pada Syarif tumbuh saat pria itu bersedia menikahinya saat dirinya berbadan dua. Hal yang tak mungkin di lakukan oleh pria manapun, namun Syarif sanggup melakukan nya. Meski Ambar tau Syarif melakukan semua itu atas dasar balas Budi terhadap kedua orang tua Ambar yang pernah menyelamatkan ayah dari Syarif.


"Bu, gimana? Apa kata Dokter?" tanya Restu saat melihat ibunya masuk ke dalam ruangan.


"Ayah harus menjalani operasi di rumah sakit. Tapi ibu mau ayah di bawa ke luar negeri agar mendapatkan perawatan terbaik. Kita pergi ke Singapura," ucap Ambar setelah memikirkan hal tersebut di sepanjang langkahnya tadi.


"Biayanya pasti mahal, Ambar. Kenapa tidak di sini saja? Di negara punya rumah sakit yang tak kalah bagus kok," kata Syarif sungkan.


"Udah ayah gak usah mikirin soal itu. Yang penting sekarang kesembuhan kamu," kata Ambar tak mau di bantah.


"Aku pesan tiketnya dulu!" Lanjutnya seraya mengotak-atik ponsel.


Restu sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa agar Syarif sembuh dan bisa kembali sehat seperti sebelumnya. Dengan begitu tak ada lagi alasan bagi Syarif untuk menjauh dari Laila dan Qadar. Restu masih saja memikirkan mereka.


***


Beberapa hari kemudian.


Suara gema takbir terdengar syahdu membuat siapa saja yang mendengarnya merasa terharu sekaligus bergembira menyambut datangnya hari raya.


Qadar menatap langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan bulan yang menggantung penuh di atas sana.


Gema takbir seakan mengantarkan ingatannya pada sosok almarhumah Marni, ibunya. Rasanya baru tahun kemarin ia berkumpul bersama sang ibu. Repot dengan persiapan hari lebaran esok pagi, meyiapkan makanan khas lebaran seperti kupat, sayur, dan yang lainnya. Rutinitas semacam itu tak akan bisa ia rasakan lagi bersama ibunya di tahun ini.

__ADS_1


Laila melihat adiknya yang tengah berdiri di depan jendela kamar. Laila mengelus bahu Qadar membuat adiknya itu menoleh padanya.


"Kamu kangen ibu?" tanya Laila.


Qadar mengangguk ringan dengan ekspresi sedih.


"Sama, kakak juga. Kita berdoa untuk ibu, agar beliau tenang di sana."


Sambil menatap langit malam, mereka berdua berdoa untuk Marni.


"Laila, Qadar! " Pintu kamar di buka oleh Mira, kedua anak tadi pun menoleh ke belakang dimana Mira kini berdiri di ambang pintu kamar.


"Bibi." Laila mengusap tangis yang hampir saja jatuh dari sudut matanya.


"Kalian jangan mengurung diri di sini, nanti yang ada kalian pasti sedih karena teringat sama ibu dan ayah kalian. Mending keluar yuk, " ajak Mira dengan melempar senyum menggiring mereka keluar dari kamar.


"Bibi udah selesai masaknya?" tanya Laila.


"Sini duduk, kita cobain masakan bibi. " Mira menggeser kursi meja makan mempersilahkan kedua anak itu duduk dan memberikan masing-masing mangkuk berisi makanan tadi.


"Bibi punya kejutan buat kalian." Mira menatap keduanya secara bergantian.


" Kejutan apa bi?" tanya Laila dan Qadar serempak.


"Besok selesai sholat Ied kita akan langsung pulang ke kampung, kita ziarah ke makam ibu kalian." Mira mengukir senyum.


"Beneran, Bi?" Qadar membulatkan mata sempurna.


"Iya bener. Paman kalian yang mengusulkan ini. Di sini sepi, orang-orang banyak yang mudik, jadi mendingan kita juga pulang kampung. Biar kalian bisa ziarah ke makam Marni, ibu kalian," kata Mira.

__ADS_1


"Makasih, Bi." Qadar turun dari kursi dan memeluk Mira.


"Sama-sama. Bibi senang kalau kalian tersenyum seperti ini, jadi jangan sedih lagi ya!" ucap Mira.


"Apa Qadar boleh minta satu lagi?" tanya anak itu seraya kembali duduk.


"Apa?" Mira mengerutkan kening.


Begitupun dengan Laila, ia tak tau apa yang akan di minta adiknya pada Mira.


"Sebelum pulang ke kampung, Qadar mau menemui ayah dulu. Qadar mau minta maaf sama ayah, bersilaturahmi dengan keluarga ayah. Sama Kak Restu juga ibunya." Mata anak itu tampak polos.


Mira menoleh pada Laila, kedua mata wanita itu saling beradu. Keduanya bingung harus berkata apa.


"Kita bilang sama Paman kamu dulu nanti ya, kalau misalnya boleh ya kita ke rumahnya," kata Mira.


"Iya, Bi." Qadar mengangguk cepat dengan wajah girang meski belum tentu Pamannya nanti akan mengizinkan dia bertemu dengan Syarif besok.


Namun Qadar yakin jika Handoko tak akan menolak ajakannya. Qadar melahap makanan yang ada di hadapannya.


"Masakan bibi enak, mirip buatan ibu!" puji Qadar.


"Masa sih?" Mira tersenyum, ia tau jika Marni sangat jago memasak artinya masakan dia kali ini benar-benar enak.


"Betul Bi, enak!" ucap Laila membenarkan.


"Makasih."


Mira bersyukur dengan adanya Laila dan Qadar, ia mendapatkan banyak pelajaran dari kedua anak itu. Kehadiran mereka membawa Mira ke jalan yang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mira berharap di hari yang Fitri segala dosa-dosanya di ampuni oleh Allah SWT. Kehidupannya menjadi lebih berkah lagi dengan adanya kedua malaikat kecil itu. Dari mereka Mira harus belajar lebih bersabar lagi, lebih tegar dalam menghadapi segala kesulitan hidup, dari mereka juga Mira belajar untuk tetap tersenyum meski jauh di lubuk hati terdapat luka yang belum sembuh.

__ADS_1


Kasihan Laila dan Qadar, batinnya.


bersambung,


__ADS_2