Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 32


__ADS_3

''Qadar!" jerit Laila saat melihat tubuh Qadar terpental dan terhempas beberapa meter di jalan raya.


Mobil yang menabrak Qadar pergi begitu saja tanpa bertanggungjawab. Keadaan jalan yang sepi membuat tak seorangpun yang mengejar mobil tersebut.


Laila dan Handoko segera berlari menghampiri Qadar yang saat ini tergeletak di atas aspal hitam dengan bersimbah darah. Aldo yang tak jauh dari tempat tersebut hanya menangis berdiri di atas trotoar depan mesjid melihat keadaan Qadar kakak sepupunya.


Sedangkan Syarif hanya mematung terpaku menyaksikan kejadian tersebut. Restu segera berlari menghampiri Qadar namun sebelumnya ia sempat menatap Syarif dengan penuh rasa kecewa.


"Restu?" Syarif makin tak bisa berkutik ia seperti orang bingung yang hanya diam berdiri tanpa berbuat apapun bahkan tidak menghampiri Qadar sama sekali.


Laila menangis histeris. Ia takut kehilangan adiknya, satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini.


"Qadar, bangun dek!" pekik Laila sambil meraih kepala Qadar membawanya dalam pangkuan.


Restu tak bisa tinggal diam melihat keadaan Qadar, segera ia menghentikan taksi yang kebetulan lewat.


"Kita bawa Qadar ke Rumah Sakit sekarang juga!" ucap Restu setelah taksi itu berhenti.


Handoko segera menggendong tubuh Qadar membawanya masuk ke dalam taksi.


"Cepat jalan, Pak! Antar kami ke Rumah Sakit terdekat!" titah Restu yang kini duduk di samping sopir taksi itu.


Sementara Laila, Aldo dan Handoko berada di jok belakang bersama Qadar.


Syarif masih terdiam menatap kepergian mereka.


"Bisa lebih cepat lagi, Pak?" kata Restu begitu panik.


"Ini juga udah cepat," ucap sopir taksi yang kini sibuk di belakang kemudinya.


Mobil taksi itu pun memasuki area Rumah Sakit. Segera mereka turun dari mobil tersebut, Handoko meminta bantuan beberapa petugas medis untuk membawa Qadar ke ruang unit gawat darurat.


Restu membayar ongkos taksi lantas segera menyusul masuk bersama Aldo. Handoko dan Laila sudah lebih dulu masuk ke dalam Rumah Sakit setelah beberapa petugas medis membawa Qadar dengan blankar.


Qadar di bawa masuk ke ruang gawat darurat segera di tangani oleh Dokter yang berjaga malam itu.


Sementara yang lain menunggu di luar dengan perasaan cemas dan panik. Laila tak henti menangis, pakaiannya di penuhi bercak darah yang menempel dari tubuh adiknya.

__ADS_1


"Paman, Qadar gimana Paman? Aku takut terjadi sesuatu padanya!" pekik Laila dengan wajah basah karena air mata tak henti mengalir.


"Sabar Laila, kita berdoa yang terbaik untuk adikmu," kata Handoko menenangkan Laila meski dirinya sendiri pun nyatanya tak bisa tenang.


"Restu kamu bawa ponsel?" tanya Handoko.


"Ada Om," jawab Restu yang kini bersama Aldo. Restu mengeluarkan ponsel dari saku celananya menyerahkan benda pipih itu pada Handoko.


"Om mau telepon Dita, kamu ada kontaknya kan?"


"Ada Om."


Handoko pun menelpon putrinya yang saat ini berada di rumah bersama Mira.


"Hallo, Dit. Qadar kecelakaan dan sekarang Ayah sama Laila berada di Rumah Sakit. Sebaiknya kamu jemput adikmu Aldo kesini biar dia pulang bersama mu," ucap Handoko pada Dita di sebrang telepon.


Dita awalnya mengira jika Restu yang menelpon, tapi setelah mendengar suara ayahnya yang memberi kabar buruk tentang Qadar, ia pun segera memberitahu Mira, ibunya


"Bu, Qadar katanya kecelakaan dan sekarang di Rumah Sakit. Ibu ikut sama aku ke sana, sekalian kita jemput Aldo." Dita bergegas mengambil jaket dan kunci motor.


"Apa? Kok bisa? " Mira pun bersiap-siap untuk ikut bersama Dita.


Hanya memakan waktu kurang dari sepuluh menit, Dita pun sampai di Rumah Sakit yang di maksud.


Mereka segera menemui Handoko dan yang lainnya.


"Kenapa Qadar?" tanya Mira saat ia tiba di depan ruang UGD.


"Dia tertabrak mobil saat menyebrang jalan." Handoko menjelaskan.


"Kenapa gak hati-hati sih?" Mira menggerutu namun ia pun panik.


"Qadar tadi berlari mengejar Syarif. Dia tau kalau Syarif adalah ayahnya, Syarif sempat menemui ku saat pergi tarawih," jelas Handoko lagi.


"Lalu kenapa bisa ada Restu?" Dita masih bingung, ia tau ayah Laila dan Qadar bernama Syarif tapi dia tidak tau jika ayah mereka adalah ayah Restu.


"Dia ayah ku." Restu menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Maksudnya?" Dita tak mengerti, ia tampak bingung.


"Ceritanya panjang, nanti saja. " Mira menghentikan Dita agar tak banyak bertanya di saat situasi sedang genting seperti ini.


"Kamu pulang sama adik mu gih!" titah Handoko.


"Kamu juga, " lanjut Handoko pada Mira.


"Biar aku sama Laila menunggu Qadar di sini," kata Handoko lagi.


"Baiklah. Kasih tau aku kalau ada apa-apa," ucap Mira.


Handoko hanya mengangguk ringan. Mira, Aldo dan Dita pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.


Detik kemudian Dokter menghampiri Laila, Handoko dan Restu.


"Gimana adik saya Dok?" tanya Laila cemas.


"Pasien banyak kehilangan darah dan harus segera menerima transfusi. Tapi sayangnya stok darah di Rumah Sakit kami sedang kosong untuk golongan darah pasien. Terpaksa kami harus mencari pendonor," ucap Dokter tersebut.


"Golongan darah Qadar apa Dok?" tanya Restu.


"Pasien memiliki golongan darah B negatif. Yang hanya bisa menerima dari B negatif atau O negatif," ucap Dokter.


"Golongan darahku A, paman gimana?" tanya Laila.


"Paman juga A Laila," ucap Handoko bingung.


Restu teringat dirinya dan Syarif yang memiliki golongan darah tersebut, apa itu artinya dia dan Qadar benar-benar adik kakak? Tapi sepertinya tak mungkin jika Restu harus memanggil Syarif terlebih sekarang saja Syarif tidak menyusul mereka ke Rumah Sakit.


"Dok, golongan darah saya sama dengan Qadar. Biar saya yang akan mendonorkan darah untuknya," kata Restu.


"Baik, kalau begitu kamu ikut saya ke ruang transfusi." Dokter itu pun berlalu dari hadapan Handoko dan Qadar. Restu mengikuti langkah Dokter tersebut.


"Syukurlah Restu punya golongan darah yang sama dengan Qadar. Semoga setelah di transfusi nanti Qadar bisa segera sembuh dan melewati masa kritisnya," kata Handoko.


"Aamiin." Laila berusaha untuk tetap tegar dan sabar meski sebenarnya kakinya sudah terasa begitu lemas saat berdiri, pikirannya kacau dan gelisah memikirkan keadaan Qadar adiknya.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2