
Setelah mengetahui latar belakang tentang keluarga Restu dan juga Laila. Julian semakin bersimpati kepada Laila, selain rasa cinta yang tumbuh sejak lama di hatinya, kini rasa prihatin pun turut di rasakan oleh Julian.
Pria itu ingin membahagiakan Laila mengingat kehidupan Laila yang cukup keras sedari kecil hingga detik ini, Julian berniat untuk merubah semua kenangan kelam wanita itu dengan memberinya kebahagiaan jika saja Julian di beri kesempatan untuk bisa menjadi pendamping hidup Laila kelak.
Karena Laila mengundurkan diri dari projek yang sedang berjalan dengan Ambar Group. Terpaksa Julian yang harus turun tangan. Julian belum menemukan karyawan yang tepat untuk menangani projek besar ini.
Restu menatap kedatangan Julian di tempat projek mereka. Restu sudah bisa menebak jika Laila tak akan lagi bekerja sama dengannya, makanya saat ini Julian datang sendiri ke tempat tersebut.
"Assalamualaikum," salam Julian sambil menjabat tangan Restu.
"Wa'alaikumsalam." Restu tampak menunjukan ekspresi datar, ia cukup kecewa karena tak bisa bertemu dengan Laila lagi. Bahkan dia tidak tau dimana Laila tinggal saat ini.
"Gimana projek kita? Sudah berapa persen pekerjaan yang rampung?" tanya Julian sesekali melirik arloji di tangan mengingat dia cukup padat jadwalnya hari ini.
"Belum setengahnya, tapi aku pastikan projek ini akan secepatnya selesai," jawab Restu.
"O ya, mana Laila? Dia jadi mengundurkan diri?" kini Restu balik bertanya.
"Ya, aku sudah tau semuanya. Alasan apa yang membuat Laila mundur," jawab Julian tanpa menoleh ke arah Restu.
"Jadi Laila sudah cerita sama kamu? Sedekat itu kalian hingga Laila mau bercerita masalah pribadinya," ungkap Restu ada rasa kecewa di hatinya, juga cemburu yang mendominasi.
"Aku yang memintanya cerita, karena aku butuh alasan yang tepat. Meski sebenarnya masalah ini tak bisa di sangkut pautkan dengan pekerjaan tapi aku tak mungkin membiarkan Laila membuka trauma lamanya kembali dengan terus bertemu sama kamu dan keluargamu." Julian kini menatap tajam Restu, bentuk rasa kecewa terhadap apa yang terjadi antara keluarga Restu dengan Laila.
Restu melempar pandangan lurus ke depan, ia tau betul traumatik yang mungkin di rasakan Laila juga Qadar. Rasa sakit yang tak akan pernah hilang dalam sekejap bahkan mungkin akan selalu membekas di seumur hidup Kakak beradik itu.
"Sebenarnya aku sudah sangat berusaha mempersatukan Laila dengan ayahnya yang juga adalah ayahku. Tapi aku belum berhasil karena permasalahan kami cukup pelik," sesal Restu mengingat ibunya lah yang menjadi penghalang atas bersatunya anak dan ayah itu.
"Apa kamu menganggap Laila sebagai adik? Atau lebih dari itu?" selidik Julian memicingkan mata.
Spontan Restu menoleh padanya, dan pandangan keduanya pun beradu.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Restu membuang muka.
"Aku laki-laki, sama seperti mu. Aku bisa menangkap hal yang sedang kamu sembunyikan, terutama perasaan yang kamu simpan terhadap Laila. Perhatian kamu terhadap Laila, aku rasa bukanlah perhatian dari Kakak terhadap adiknya," kata Julian tersenyum kecut.
__ADS_1
"Kamu sudah tau, kenapa harus bertanya lagi?" Restu menyipitkan mata saat terik matahari menyilaukan menerpa wajahnya.
"Apa dulu kalian dekat dan saling suka?" tanya Julian, yang ingin ia pastikan saat ini bukanlah perasaan Restu terhadap Laila, tapi sebaliknya. Julian ingin tau apakah Laila punya perasaan khusus pada Restu.
"Sepertinya tidak. Aku rasa Laila tidak akan mungkin menyukai aku. Kami memang cukup dekat sebelum Laila tau jika ayahnya adalah ayah tiri ku, setelah ia tau semuanya hubungan kami pun renggang," jawab Restu mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Andai tak ada masalah keluarga di antara kalian, apa mungkin kamu akan melamar Laila?" tanya Julian.
"Aku tidak tau." Restu ragu pada Ambar ibunya, jangankan melamar Laila saat ini saja Ambar sangat membenci Laila. Meski situasinya akan berbeda, tapi tetap saja Ambar belum tentu menyukai Laila.
"Kalau aku jadi kamu, maka aku akan bicara dari hati ke hati pada ibumu. Kamu harus memperjuangkan kebahagiaan Laila meski kamu tidak akan bisa memiliki gadis itu, setidaknya kamu bisa membuatnya bahagia dengan bersatu kembali dengan ayah kandungnya," kata Julian.
"Aku akan berusaha. Lantas bagaimana dengan kamu? Apakah kalian akan menikah?" tanya Restu dengan bersusah payah menelan saliva saat bertanya demikian.
"Laila akan memberikan kepastian hari ini. Doakan agar Laila menerimaku, dan jika sampai itu terjadi kamu yang harus bisa membujuk ibumu agar mengizinkan ayah Laila menjadi wali nikah kami," kata Julian.
"Pasti, aku akan usahakan."
"Tapi jangan bicarakan permintaan ku ini pada Laila, cukup kita saja yang tau. Setidaknya Laila akan sangat bahagia ketika ia menikah dan ayahnya menjadi wali untuknya. Ya... meski pernikahan aku dengannya baru angan-angan, tapi entah kenapa aku yakin Laila akan menerima aku menjadi pendampingnya," kata Julian.
"Aamiin, semoga." Suara Restu tampak serak, sesuatu seakan mengganjal di tenggorokannya saat harus mengaminkan pernikahan gadis yang ia cintai bersama pria lain.
Restu mengangguk pelan sambil melempar senyum tipis.
Julian pun bergegas menuju kediaman Handoko. Ia akan datang melamar Laila kembali bersama Dewi Neneknya. Kebetulan saat ini kedua orang tua Julian sedang berada di luar kota, mereka tampak sibuk mengurus kantor yang berada di luar pulau.
Kedua orang tua Julian awalnya kurang setuju karena mereka lebih dekat dengan Alea. Namun setelah melihat perubahan sikap Julian yang lebih alim dari biasanya, serta atas bujukan Nenek Dewi pada kedua orang tua Julian, akhirnya orang tua Julian pun mulai setuju dengan keinginan Julian mempersunting gadis bernama Laila.
Sebelum menuju rumah Handoko, terlebih dahulu Julian menjemput Nenek Dewi.
"Kamu gugup?" tanya Nenek Dewi melihat Julian sedikit melamun. Saat ini mereka duduk di jok belakang, sementara ada sopir pribadi mereka yang mengemudi.
"Sangat gugup. Aku takut Laila menolakku," jawab Julian.
"Apapun jawaban Laila nanti, itu adalah yang terbaik buat kamu, dan itu adalah jalan dari Tuhan untukmu." Nenek Dewi mengelus lengan cucunya.
__ADS_1
Tiba di kediaman Handoko, mobil mereka memasuki halaman luas dengan sebuah taman yang di tumbuhi bunga berwarna-warni dan air mancur tepat di tengah-tengah taman tersebut.
Julian menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Bismillah," gumamnya yang di iringi senyum tipis sang Nenek.
Tampak Handoko, Mira, Qadar, Dita dan suaminya menunggu kedatangan mereka di depan rumah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Mari masuk!" ajak Handoko ramah.
"Silahkan duduk, " ucap Mira pada kedua tamunya.
"Saya panggilkan Kak Laila dulu," kata Qadar seraya beranjak dari sana.
Tangan Julian tampak dingin bisa Handoko rasakan saat bersalaman dengan pemuda itu. Handoko tau persis jika saat ini Julian sangat grogi. Tak seperti biasanya Julian gugup seperti ini.
Seketika Laila muncul menuruni anak tangga yang langsung menuju ruangan itu. Semua mata tertuju padanya, Laila tampak sangat cantik hari ini.
Laila duduk di antara Handoko dan Mira. Nenek Dewi segera mengutarakan maksud kedatangannya, yakni ingin melamar Laila untuk cucunya Julian.
"Jadi bagaimana Laila? Apakah kamu akan menerima Julian?" tanya Nenek Dewi.
Tampak semua orang yang ada di sana menunggu jawaban dari mulut Laila.
Laila terdiam tampak berpikir, tak di pungkiri bayangan Restu kerap kali mengganggu pikirannya. Restu adalah pria pertama yang ia sukai namun keadaan membuat mereka tak mungkin saling memiliki, Laila sudah berulang kali membuang perasaan itu. Hingga pada akhirnya Laila bertemu Julian, seorang pria yang terus berusaha mencuri hatinya yang beku karena Restu.
Melihat perjuangan Julian dari awal hingga detik ini, akhirnya hati Laila perlahan mencair. Mungkin Julian adalah pria yang di kirim Tuhan untuk pelipur lara nya selama ini, mengobati rasa sakit dan trauma dalam hidupnya.
"Ya, saya terima lamaran Pak Julian." Perkataan Laila membuat Julian senyum sumringah dan bahagia.
"Alhamdulillah." Semua yang ada di sana tampak lega mendengarnya.
Tak mau berlama-lama mereka pun langsung membicarakan rencana pernikahan untuk Laila dan Julian.
__ADS_1
Julian tampaknya tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi untuk menghalalkan Laila. Masalah biaya pesta pernikahan bukan hal yang sulit bagi keluarga Julian, tapi tampaknya Laila tak ingin acara mewah. Ia hanya ingin acara sederhana saja di hari pernikahan yang sakral. Yang terpenting kehidupan rumah tangga mereka kedepannya seperti apa, bukan pesta pernikahan mewah yang menjadi tolak ukur kebahagiaan Laila.
bersambung,