Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 25


__ADS_3

"Kak Laila masih sedih karena Bi Mira ya?" tanya Qadar saat Laila kembali mengantarkan Qadar sekolah.


"Tidak, Kak Laila gak sedih kok. Lagipula Bibi Mira gak salah. Kakak yang salah." Laila mengukir senyum meski hatinya sedang kalut dan benaknya terus berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa punya penghasilan lebih untuk mengganti uang Mira yang hilang.


Semenjak sahur tadi Mira tak mau bicara padanya. Laila merasa tak nyaman jika tinggal satu atap dengan orang yang sedang marah padanya sampai tak ingin sedikitpun berbicara.


Meski Laila sudah mencoba mengajaknya berkomunikasi, Mira tetap diam enggan bersuara. Hal itu membuat Laila tak enak hati. Laila di acuhkan begitu saja oleh Mira. Handoko Pamannya pun tau jika saat ini istri beliau sedang mendiamkan Laila bahkan pada beliau pun nampaknya Bibi Mira juga acuh tak acuh. Hanya bicara seperlunya saja. Laila makin merasa bersalah karena sudah membuat mereka tak akur.


Hari ini Laila memutuskan untuk kembali mengantarkan Qadar sekolah. Karena di rumah pun dia tak di anggap ada oleh bibinya.


Sekalian Laila mau cari kerjaan dengan begitu dia bisa punya penghasilan sendiri dan tak lagi merepotkan Paman dan Bibi nya. Setidaknya Laila bisa memenuhi kebutuhan dirinya dan Qadar agar tak bergantung terus pada keluarga Handoko.


Qadar segera masuk ke dalam lingkungan sekolah sementara Laila berjalan ke sekitar sekolah berniat mencari toko, warung atau apapun itu yang bisa memberinya pekerjaan. Masalah upah Laila tak begitu memikirkan berapa upah yang akan dia terima, yang penting cukup untuk hidupnya berdua dengan Qadar. Untuk mengisi perut menyambung hidup dia dan adiknya.


Laila berjalan di atas trotoar mendatangi beberapa kios yang berjejer di sana. Hanya ada beberapa kios saja yang buka selebihnya tutup karena saat ini bulan puasa jadi warung-warung kecil di tempat itu tampak tutup sebagian.


Namun sayangnya setiap warung yang ia datangi tak memerlukan tenaganya. Laila pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah Qadar.


Saat dia mulai dekat dengan gerbang sekolah, ia melihat mobil hitam berhenti di sana. Laila tau persis siapa yang berada di dalam mobil hitam itu. Restu dan Syarif ayahnya. Laila memutuskan untuk bersembunyi, menunggu sampai Restu masuk ke dalam gerbang sekolah.


Laila memperhatikan kedua pria itu dari kejauhan. Sikap Syarif begitu manis pada Restu. Perlakuan ayah terhadap anaknya. Terlihat Syarif begitu menyayangi Restu.

__ADS_1


Laila jadi berpikir kenapa Syarif tak memperlakukan hal yang sama terhadap dirinya dan Qadar? Bukankah dia dan Qadar sama-sama anaknya? Sama seperti Restu.


Apakah Syarif ayahnya membencinya? Tapi kenapa? Apa salah Laila dan Qadar? Dia dan Qadar hanya korban di sini, kalaupun antara Ayah dan ibunya ada masalah tentu Laila dan Qadar tak tau apa-apa. Lantas kenapa sikap Ayahnya seperti ini? Seakan enggan mengakui anaknya sendiri. Apalagi Syarif tau jika Marni sudah tiada dan dia tau jika saat ini Laila dan Qadar tinggal di rumah Handoko, kenapa dia tidak mendatangi rumah Handoko untuk sekedar melepas rindu dengan anak-anaknya atau menitipkan kedua anaknya pada Handoko jika memang dia tidak bisa memboyong Laila dan Qadar untuk hidup dengannya, dengan keluarga barunya?


Cukup lama Laila mematung di sana menyaksikan pemandangan yang sangat menusuk hatinya. Sampai akhirnya Restu masuk ke dalam gerbang sekolah dan kini hanya tinggal Syarif yang berada di sana.


Laila memutuskan untuk mempertanyakan semuanya pada Syarif. Menanyakan semua hal yang memenuhi benaknya.


Laila berjalan dengan langkah besar tak ingin sampai terlambat karena Syarif hendak masuk ke dalam mobilnya kembali.


"Ayah!" sahut Laila yang kini berjarak sekitar tiga meter dari Syarif berada.


Sontak Syarif menghentikan langkahnya, saat lengannya hampir saja menyentuh pintu mobil. Ia urungkan dan membalik badan melihat siapa yang memanggil 'ayah' padanya.


Laila yang sadar akan ketidaksukaan Ayahnya dengan sahutan Laila tadi, ia pun meralat kembali kata-katanya. Apalagi setelah ia tau jika satpam penjaga sekolah memperhatikan mereka berdua.


"Ayahnya Restu!" ralat Laila.


Satpam itu pun kembali sibuk menutup pintu gerbang saat mendengar bel masuk berbunyi. Ia tak lagi memperhatikan Laila dan Syarif yang berada di luar gerbang.


Kini Laila sudah berada tepat di hadapan Syarif.

__ADS_1


Tatapan keduanya saling bertemu. Laila menatap rindu pada ayahnya, berharap agar ayahnya itu merasakan hal yang sama dan memeluknya karena sudah sekian tahun mereka terpisah. Tapi itu sepertinya hanya angan dan mimpi Laila saja. Syarif bahkan seolah enggan mengakui kalau Laila itu putri sulungnya, meski saat ini hanya ada mereka berdua tak ada siapapun di sana selain kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya depan sekolah. Tentu mereka tak akan mengenali kedua orang tersebut dan mereka yang lewat tak akan memperhatikan keduanya. Lantas kenapa Syarif masih enggan mengakui Laila?


"Kenapa ayah pergi meninggalkan kami? Ibu sekarang sudah meninggal, hanya tinggal aku dan Qadar berdua. Kami tak punya siapa-siapa lagi, dan hanya ayah harapan kami. Qadar sangat rindu sama ayah, dia tak pernah tau siapa ayahnya karena selama dalam kandungan hingga ia besar ia tak tau rupa ayahnya. Tapi keinginannya untuk bertemu ayah sangatlah besar. Jika ayah menyayangi kami, izinkan kami ikut dengan ayah." Laila menatap penuh harap.


Syarif menggelengkan kepala dengan cepat seolah mengartikan jika dirinya tak bisa membawa Laila dan Qadar ke rumah itu. Rumah dimana Syarif tinggal bersama Restu dan istrinya Ambar.


Sakit hati Laila melihat bahasa tubuhnya saja yang seperti itu. Apa artinya Syarif ayahnya benar-benar tak ingin di ganggu lagi kehidupannya?


"Laila tau, ayah punya anak dan istri. Tapi aku dan Qadar juga anak ayah, kami punya hak di beri kasih sayang oleh mu. Dan Ayah juga punya kewajiban besar terhadap kami. Laila janji tak akan mengatakan hal ini pada istri dan anak ayah itu, tapi tolong bawa kami rawat kami di tempat lain yang mungkin ayah bisa sesekali hidup bersama kami. Entah itu di rumah kontrakan sekalipun asalkan kami tidak merepotkan lagi Paman Handoko dan keluarganya," pinta Laila memelas.


"Maaf Laila aku tidak bisa membawa kamu dan Qadar. Tunggu sebentar!" Syarif masuk ke dalam mobil mengambil sesuatu dari sana.


Lalu ia kembali di hadapan Laila dengan sebuah amplop berwarna coklat yang sepertinya isinya adalah uang.


"Terima ini sebagai tanda maaf dan sebagai kewajiban ku yang terlewatkan selama ini. Tapi ingat, aku tak ingin kamu membongkar semuanya di hadapan keluarga ku. Akan aku tambah lagi nanti kalau uang itu habis. " Syarif lantas pergi setelah menyerahkan uang itu pada tangan Laila.


Laila hanya diam mematung, tercengang tak percaya akan apa yang ia dengar dari mulut ayahnya barusan.


Seakan langit dan bumi ini runtuh mendengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut seorang ayah. Bahkan Syarif tak menyebutkan dirinya itu ayah dalam setiap kalimatnya. Hanya kata 'aku' yang dia katakan seolah mempertegas jika Laila tak lagi menjadi anaknya. Apakah bisa hubungan darah di putus begitu saja? Apakah Laila pantas menyimpan rasa benci pada ayahnya karena luka yang di torehkan oleh beliau begitu dalam dan sakit sekali rasanya.


Setetes air mata lepas, dan itu adalah air mata terakhir bagi Laila menangisi Ayahnya. Tak akan lagi dan tak akan pernah lagi ia keluarkan di kemudian hari.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2