Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 40


__ADS_3

Hampir seminggu Qadar menjalani perawatan di Rumah Sakit hingga akhirnya dia di perbolehkan pulang oleh Dokter.


Semenjak kedatangan Syarif ke Rumah Sakit terakhir kali, sejak saat itu juga Syarif tak pernah kembali menjenguk Qadar bahkan sampai anak itu pulang ke rumah pun Syarif enggan menemuinya kembali. Sesuai apa yang dia katakan pada Qadar saat tak sadarkan diri, Syarif tak bisa berkumpul kembali dengan Laila dan Qadar.


Syarif lebih memilih hidup bersama Ambar, mempertahankan rumah tangganya dengan wanita itu ketimbang memilih hidup membesarkan kedua anak kandungnya.


Setiap kali Restu menagih janji Syarif untuk menjenguk Qadar, selalu saja ada alasan pria itu untuk menolak. Syarif selalu bilang jika dia sibuk dengan pekerjaannya di kantor, membuat Restu tak bisa lagi mendesak ayahnya itu.


Lain dengan Restu yang selalu menyempatkan diri menemui Qadar saat masih di Rumah Sakit. Tentunya tanpa sepengetahuan Ambar, karena pasti Ambar tak akan mengizinkan putranya menemui anak dari hasil pernikahan suaminya dengan wanita lain.


Malam itu Restu menemui Syarif yang sedang sibuk di ruang kerja. Restu pastikan jika Ambar ibunya sudah tidur di kamar. Restu berjalan menuju ruang kerja Syarif yang berada di lantai bawah. Mengetuk pintu ruangan hingga akhirnya Syarif menyahut dari dalam mempersilahkan Restu masuk.


Syarif tau apa yang akan di katakan Restu padanya. Pasti Restu akan terus memintanya untuk menemui Laila dan Qadar.


Syarif fokus dengan layar laptop, ia bekerja so sibuk agar Restu tak berlama-lama mengganggu dirinya dengan membicarakan hal itu itu lagi.


"Ayah, apa ayah tak bisa menyempatkan diri menemui Qadar? Sebentar lagi hari raya idul Fitri dan... "


"Ayah akan kirim uang untuk beli baju baru mereka." Syarif memotong ucapan Restu, dengan mata masih tertuju pada laptop.


"Bukan itu yang aku maksud. Aku rasa mereka tidak butuh baju baru atau apapun itu yang berhubungan dengan uang. Mereka ingin berkumpul dengan ayah. Bukankah sebagai muslim kita harus menjaga silaturahmi dengan baik apalagi hubungan kalian adalah ayah dan anak. Di hari lebaran nanti, insyaallah semua akan kembali ke fitrah saat bisa saling maaf memaafkan satu sama lain." Restu menghentikan kalimatnya saat melihat Syarif menoleh padanya tak lagi sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di meja itu.

__ADS_1


Syarif menyandarkan punggung di kursi kerja dengan mata menatap Restu.


"Harus berapa kali ayah bilang. Ayah tak mau membuat rumah tangga ayah dan ibumu berantakan gara-gara ayah menemui mereka. Harusnya kamu lebih pro kepada ibu mu bukan malah sebaliknya, apa kamu tak mau menjaga perasaan ibu mu?" ucap Syarif.


"Ayah sendiri tak bisa menjaga perasaan kedua anak ayah tapi malah mementingkan perasaan ibu saja. Jika aku berada di posisi ayah, aku rasa mereka lebih membutuhkan ayah kalau dibandingkan aku sama ibu."


"Mengerti apa kamu soal itu? Ayah punya janji pernikahan yang tak mungkin ayah ingkari lagi. Kamu pikir ayah tidak bingung? Di hadapkan pilihan antara istri sah atau kedua anak itu? Ayah pusing. Tapi ayah rasa Laila dan Qadar masih bisa hidup layak tanpa ayah. Mereka tinggal bersama Handoko paman mereka, masalah biaya ayah bisa memenuhi kebutuhan mereka. Nanti ayah akan transfer setiap bulannya pada Handoko. Tapi untuk membawa mereka tinggal bersama kita rasanya tidak mungkin," kata Syarif.


"Hanya itu yang bisa ayah lakukan buat mereka, memberi uang mencukupi kehidupan mereka. Bukankah memang begitu tugas ayah?" lanjut Syarif.


"Tidak hanya itu, Ayah. Mereka butuh kasih sayang ayah. "


"Loh mencukupi kebutuhan mereka juga termasuk bentuk kasih sayang Ayah," sergah Syarif.


Restu dan Syarif saling lirik satu sama lain, keadaan di ruangan itu mulai membuat keduanya kikuk.


"Jadi kalian masih membahas mereka di rumah ini? Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari ayahmu untuk mereka, Restu?" Ambar menarik kursi di sudut ruangan mengambil posisi berhadapan dengan putra semata wayangnya itu.


Ambar duduk bersandar di kursi dengan tumpang kaki, matanya tampak mengintimidasi kedua orang laki-laki di hadapannya.


"Kamu tidak memikirkan perasaan ibu mu ini saat tau kalau kamu begitu peduli pada mereka? Kamu tau jika mereka itu orang yang hampir saja merebut kebahagiaan kita? Kenapa kamu malah ingin mereka tinggal bersama kita, dan terus mendesak ayahmu?" Ambar terus menghujani pertanyaan pada putranya itu merasa tak habis pikir dengan keinginan Restu.

__ADS_1


"Karena aku rasa sekarang giliran ibu memahami kondisi ayah. Membalas semua kebaikan ayah karena beliau telah menikahi ibu yang-- maaf... sudah berbadan dua," ucap Restu dengan ragu dan takut menyakiti hati ibunya, dan itu sudah pasti membuat Ambar marah besar.


Plak!


Ambar melayangkan tamparan pada putranya. Baru kali ini Ambar bersikap kasar terhadap Restu. Selama ini Ambar begitu menyayangi Restu bahkan tak pernah sekalipun mencubitnya walau sedang jengkel. Tapi kali ini Restu membuatnya naik pitam.


Restu memegang pipinya yang terasa panas.


"Maafkan Restu, Bu. Restu memang hanya anak kecil dan tak pantas bicara seperti ini. Tapi Restu ingin agar ibu membuka hati untuk mereka, Laila dan Qadar."


"Kenapa aku harus menerima mereka, huh? Lama-lama kamu banyak di racuni pikirannya oleh kedua bocah kampung itu!" Bahu Ambar nampak naik turun karena emosi.


"Ayah saja bisa menerima aku yang jelas-jelas bukan anak kandungnya, lantas kenapa ibu tidak bisa menerima anak-anak ayah? Ini gak adil menurutku!" kata Restu seraya berdiri lantas berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


"Restu! Tunggu jangan pergi, kita belum selesai bicara!" Ambar berdiri sambil berteriak.


"Sabar sayang, jangan marah-marah. Maklumi Restu dia masih labil." Syarif mendekati istrinya berusaha menenangkan.


"Ini gara-gara kamu! Coba kalau dulu kamu tidak selingkuh dan gak punya anak dari wanita lain, mungkin kehidupan kita baik-baik saja!" Ambar menepis kasar lengan Syarif, lalu melengos pergi dari sana.


Syarif menjambak rambut dengan frustasi, menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja.

__ADS_1


"Aku harus menyuruh Laila dan Qadar pergi dari kota ini agar rumah tanggaku tidak kacau seperti sekarang!" ucapnya bermonolog.


bersambung,


__ADS_2