
''Aku ingin melamarmu, aku tau kamu tidak suka pacaran jadi aku memilih untuk langsung melamarmu. Will you marry me?" ucap pria itu tampak sangat tulus dan serius.
Laila menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Seakan tak percaya dengan apa yang di katakan Julian saat ini.
"Gimana Laila? Apa kamu mau menerima lamaran ku ini?" tatapan Julian penuh harap.
"Kamu pasti bercanda kan? Gak lucu tau!" ucap Laila masih tak yakin jika seorang Julian melamar dirinya secara tiba-tiba.
Laila tak mungkin begitu saja menerima lamaran dari pria itu, ia harus terlebih dahulu mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan. Dia tak ingin gegabah.
Mungkin bagi wanita lain adalah hal yang sangat spesial jika di lamar dengan cara seperti ini. Terlebih jika yang melamar adalah Julian mungkin tak seorang pun yang akan berpikir dua kali untuk menerimanya. Namun tentu tak berlaku bagi Laila.
Laila tau Julian orang yang baik, perhatian, tampan dan mapan. Untuk di jadikan suami Julian adalah tipe ideal bagi semua kaum hawa, tapi Laila menilainya bukan dari segi itu saja. Laila ingin imam yang taat pada agama agar nanti bisa membimbingnya dengan baik. Jauhnya kedekatan Julian terhadap Tuhan dan ajaran agama menjadi nilai minus bagi Laila.
Seketika terdengar seseorang bertepuk tangan tak jauh dari tempat mereka berada.
Seorang wanita mengenakan rok mini berjalan mendekat ke arah mereka.
Namanya Alea, salah satu orang yang dekat dengan keluarga Julian. Bahkan rumor beredar tentang mereka yang akan di jodohkan oleh keluarga masing-masing. Hal itu membuat Laila selalu tak nyaman ketika Julian berusaha mendekati dirinya.
Alea menyambar cincin berlian dari tangan Julian, dengan senyum mengembang memperhatikan cincin tersebut.
__ADS_1
"Cukup latihannya, sekarang kamu bisa langsung melamar ku!" kata wanita berambut panjang bergelombang itu.
Laila dan Julian hanya bengong menatap kehadiran Alea yang secara tiba-tiba.
"Maksud mu apa?" kata Julian sambil berdiri dan berusaha meraih cincin tadi dari tangan Alea.
"Kamu sedang latihan melamar ku 'kan? Sudahlah aku tau itu, dan kamu jadikan perempuan ini sebagai percobaan agar tidak nervous saat berhadapan dengan ku," tebak Alea dengan melirikkan mata ke arah Laila yang masih duduk di kursi terlihat bingung.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi dari sini. Permisi!" Laila bangkit dari kursi meraih tas yang ia simpan di atas meja dan berlalu dari hadapan kedua orang itu.
Merasa jika dirinya sudah di jadikan bahan percobaan seperti yang di katakan Alea barusan. Meski pun dia tak berniat menjawab lamaran Julian, dan tak mengharapkan lamaran itu untuknya, namun di jadikan bahan latihan bukanlah hal yang menyenangkan menurutnya. Laila seperti sedang di injak-injak harga dirinya oleh Julian.
Bagaimana kalau tadi dia gegabah dan menerima lamaran itu sementara semua hanya sandiwara? Mau di taro dimana mukanya? Laila cukup kesal hingga ia bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Tak peduli Julian terus memanggil namanya, Laila enggan untuk kembali dan menoleh ke belakang.
Sedangkan Julian yang ingin mengejar Laila kini malah di tahan oleh Alea.
"Biarkan saja dia pergi!" kata Alea sedikit membentak.
"Apa-apaan kamu ini? Kamu tau kalau kamu baru saja menghancurkan rencanaku untuk meluluhkan hati Laila." Julian menatap tajam Alea.
"Oh jadi benar kalau selera mu turun! Menyukai gadis yang sama sekali tidak menarik bahkan tidak selevel dengan mu," kata Alea mengingat perkataan karyawan perusahaan Julian yang sering mengadu padanya tentang kedekatan Julian dengan Laila.
__ADS_1
"Jangan sembarangan kalau ngomong! Laila itu gadis yang cantik, pintar dan sholeha. Siapa bilang dia tidak menarik?" kata Julian.
Alea tersenyum kecut mendengar Julian memuji Laila di hadapannya.
"Sejak kapan kamu buta? Apa menariknya gadis itu? Pakaian serba tertutup, apa yang bisa membuatmu tergoda, huh! Lihat penampilan ku? Aku seksi, cantik dan tubuhku indah enak di pandang mata. Jauh di bandingkan dia yang memakai pakaian besar dan serba tertutup itu!" Alea menunjuk ke arah luar meski sadar jika Laila sudah tak berada di sana.
Julian memandang Alea dari ujung kaki hingga ujung kepala membuat gadis itu menunjukan pesonanya merasa sedang di perhatikan oleh Julian keindahan yang di milikinya.
"Wanita macam kamu itu banyak berceceran dimana mana, dan aku bisa mendapatkan sepuluh orang seperti kamu! Sedang Laila, dia limited edition, dia mahal dan terjaga dari pandangan laki-laki. Dia itu cerminan wanita muslimah yang baik." Julian masih membela Laila karena memang begitu kenyataannya
Kalau dia mau dia bisa mendapatkan lebih dari sepuluh wanita yang penampilannya seperti Alea.
Sedangkan wanita seperti Laila sangat sulit ia temukan, ini saja ia harus berjuang lama dan sulit sekali mendapatkan nya. Membuat Julian tertantang untuk bisa meluluhkan hati wanita itu.
"Sejak kapan kamu peduli dengan muslimah atau apalah itu namanya. Wanita semacam itu mana mau sama kamu yang sama sekali tak pernah belajar agama? Dia pasti nyari pangkat ustad, kiai atau paling enggak santri anak pesantren bukan pria seperti mu!" Alea tertawa menghina.
"Kamu itu pantasnya sama aku. Orang tua kita bahkan sudah sepakat untuk menjodohkan kita. Jadi sudah seharusnya kamu berhenti mengejar wanita itu! Dia tak pantas untukmu dan kamu tak pantas untuknya, Paham!" perkataan Alea seakan menampar Julian.
Julian sadar jika dirinya bukan seorang muslim yang baik, namun demi Laila dia pasti akan berubah. Julian akan belajar banyak tentang ilmu agama pada Laila jika Laila mau menerima nya sebagai pasangan hidup. Apakah wanita seperti Laila tak pantas bagi seorang pendosa seperti nya? Julian terus memikirkan hal tersebut dan cukup mengganggu pikirannya.
Julian merasa kesal ia rebut cincin dalam genggaman Alea, lalu segera meninggalkan Alea sendiri di sana. Tak peduli Alea memanggilnya ia terus berjalan keluar restoran. Sampai di mobil ia segera melajukan mobilnya sebelum Alea mengejarnya. Julian tau pasti wanita itu akan membuntuti nya sampai kantor.
__ADS_1
bersambung,