Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 18


__ADS_3

''Dek, hari ini kamu berangkat sekolah sendiri ya! Kakak gak bisa antar kamu ke sekolah lagi, " kata Laila.


"Loh kenapa Kak? " tanya Qadar.


"Kakak harus bantuin Bibi Mira. Kamu bisa pergi sendiri kan?" ucap Laila.


"Iya Kak, kalau gitu Qadar berangkat dulu ya." Qadar pun berlalu pergi dari hadapan Laila.


Laila sengaja tidak mengantar Qadar ke sekolah karena dia tidak mau bertemu dengan Restu yang mungkin akan menanyakan tentang selebaran foto ayahnya.


**


Tiba di sekolah Qadar bertemu dengan Restu.


Restu merasa heran saat tidak melihat Laila bersama Qadar. Restu menghampiri Qadar dan menanyakan ke mana kakaknya Laila.


"Tumben nggak diantar sama kakakmu? Ke mana Laila?" tanya Restu.


"Kak Laila nggak bisa antar aku kak, soalnya dia harus bantu Bi Mira, " jawab Qadar.


"Jadi kamu ke sini naik apa?" tanya Restu pada Qadar.


"Naik angkot, Kak, " jawab Qadar.


"Sendiri? "


"Kebetulan ada teman satu komplek yang sekolah di sini juga, jadi Qadar berangkat bareng dia, " jawab Qadar.


"Baguslah kalau ada temannya." Restu sedikit lega mendengarnya.


"Tadinya ada yang mau kakak bicarakan sama Kak Laila. Ibu Kak Restu mau pesan takjil buat besok," ujar Restu.


Tak jauh dari tempat mereka berada tampak Dita memperhatikan, lantas gadis itu menghampiri mereka.

__ADS_1


"Pagi Restu!" sahut Dita saat ia sudah berada di dekat mereka.


Restu tak menjawab sahutan Dita ia dan Qadar hanya menoleh ke arah gadis itu.


"Aku denger tadi kamu mau pesen takjil ya sama ibuku? Gimana kalau kita tukeran nomor handphone, biar kamu bisa hubungi aku buat pesan takjil nanti." Dita merogoh saku bajunya mengeluarkan benda pipih di dalamnya.


Dita menyerahkan ponselnya pada Restu.


"Masukin nomor kamu," titah Dita.


Dengan ragu Restu menuruti permintaan gadis itu. Ia meraih ponsel dari tangan Dita, memasukkan beberapa digit nomor ke dalam ponsel tersebut.


Dita tersenyum menyeringai setelah berhasil mendapatkan nomor Restu.


"Kalau gini kan gampang kamu tinggal hubungi saja aku, kalau misal butuh takjil buatan ibu. Udah aku kirim nomorku, save ya!"


Restu mengangguk ringan ia mengajak Qadar masuk ke dalam gerbang sekolah meninggalkan Dita mematung berdiri di sana.


**


Siang harinya saat Mira dan Laila sibuk membuat takjil, Dita malah sibuk main ponsel. Seketika matanya membulat sempurna saat melihat pesan chat masuk dari nomor Restu.


Segera ia buka pesan itu. Senyuman terukir di bibirnya.


Dita beranjak dari sofa berjalan ke dapur untuk memberitahu ibunya.


"Bu, Restu mau pesen takjil nih!" Dita menunjukan pesan chat pada Mira.


Wanita paruh baya itu melongok menatap layar ponsel yang berada dalam genggaman Dita.


Laila sontak menoleh saat mendengar nama Restu. Ia ingat kemarin Restu bilang kalau ibunya mau pesan takjil, bahkan tadi pun Qadar sempat cerita pada Laila kalau Restu mencarinya.


"50 porsi?" Mata Mira membulat seakan ingin meloncat dari tempatnya.

__ADS_1


"Banyak ya, Bu?" ujar Dita.


"Iya alhamdulillah. Kalau gitu besok ibu harus belanja bahan lebih banyak. Soalnya ada pesanan dari kantor ayahmu juga, rezeky emang gak kemana!" ucap Mira senang.


"Besok aku yang antara ke rumah Restu ya, Bu!" kata Dita membayangkan dirinya datang ke rumah Restu yang pasti mewah.


"Iya biar sekalian pedekate sama mertua." Mira seakan mendukung putrinya agar menjadi pacar Restu.


"Iya dong, tau aja Ibu ini!" kekeh Dita.


"Tau lah, orang ibu juga pernah muda. Nyesel dulu putus dari pacar ibu yang tajir, coba kalau gak pilih ayahmu, mungkin sekarang hidup ibu udah enak gak bakal jadi tukang takjil kayak gini," cicitnya.


Laila merasa tak terima saat Mira mengatakan hal tersebut. Sama saja Mira menjelekan Handoko, pamannya Laila.


"Ssstt,, Bu!" Dita menggerakan dagu ke arah Laila saat mengetahui Laila sedang menoleh dan mendengarkan pembicaraan Dita dengan ibunya.


Segera Laila tertunduk ketika Mira menoleh padanya.


"Ngadu aja kalau berani, udah siap di usir?" sinis Mira yang di iringi tawa Dita.


"Tapi besok aku sama siapa ke sana ya? Pasti susah kan bawa takjil banyak kalo sendirian." Dita mengetuk-ngetuk jari di atas meja sambil berpikir.


"Sama aku aja Kak!" seru Laila dengan semangat.


Dita dan Mira saling lirik satu sama lain lantas pandangan mereka tertuju pada Laila.


Sebenarnya Dita malas ngajak Laila ke sana, yang ada Restu pasti ngajak ngobrol sepupunya itu. Tapi apa boleh buat, gak ada pilihan lain selain ngajak Laila. Gak mungkin juga Dita ngajak temannya karena biasanya teman-teman Dita sibuk ngabuburit sama pacar mereka masing-masing. Apalagi besok hari Minggu hari libur, udah pasti gak ada teman yang bisa ia ajak jalan ke rumah Restu.


"Ya udah sama dia aja, biar dia nanti yang bawa takjilnya kan jadi aku gak perlu berat-berat jinjing keranjang," ucap Dita.


Laila cukup senang mendengarnya karena Dita mengizinkannya ikut. Laila akan segera tau dimana tempat tinggal ayahnya. Dan dia harap dia bisa bertemu dengan ayahnya di sana. Laila ingin tau gimana reaksi ayahnya saat melihatnya.


bersambung ,

__ADS_1


__ADS_2