Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 57


__ADS_3

Syarif terpaksa mengikuti langkah Ambar, terlebih istrinya itu mencekal pergelangan tangan dan menariknya masuk ke dalam kantor. Beberapa orang yang berada di sana tampak menyaksikan mereka dengan terbengong-bengong.


"Liat apa kalian?" Ambar menatap satu persatu karyawannya hingga mereka langsung tertunduk dan kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.


"Qadar." Restu melangkah berniat untuk mendekat, dengan senyum bahagia karena bisa bertemu dengan Qadar lagi.


Namun Laila sudah lebih dulu berjalan menghampiri Qadar dan menarik lengan adiknya agar segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Ayo Qadar kita pergi dari sini!" ajak Laila tanpa memperdulikan Restu. Lain dengan Qadar yang sesekali menengok ke belakang dimana Restu berusaha mengekor langkahnya.


"Laila, Qadar! Tunggu sebentar!" Restu tampak menyusul langkah keduanya.


Laila menghentikan langkahnya, ia membalik badan dengan tatapan nyalang menatap ke arah Restu yang kini sudah berada tepat di hadapannya.


"Maaf Restu aku rasa akan ada yang menggantikan posisiku mengurus bisnis antara perusahaan kamu dengan perusahaan milik Julian," tegas Laila mengambil keputusan untuk berhenti dalam proyek tersebut dan akan membicarakan hal ini pada atasannya yaitu Julian.


"Laila, aku sedang tidak membicarakan pekerjaan. Aku ingin bertemu dengan Qadar. Aku sangat merindukan adikmu karena sudah lama sekali tidak bertemu, karena itu sekarang aku sangat bahagia bisa kembali bertemu dengannya," kata Restu.


"Sekarang sudah bertemu 'kan? Jadi sudah cukup dan kami permisi." Laila membalik badan dengan satu tangan menarik lengan Qadar.


"Laila jangan begini, aku mohon! Kita satu keluarga, harus menjaga silaturahmi. Maaf jika ibuku sudah bersikap buruk pada kalian, aku rasa beliau belum bisa menerima kalian tapi suatu saat aku yakin hatinya akan luluh dan menerima kalian sebagai bagian dari kami." Restu tampak terus mengikuti langkah mereka.


"Jangan sangkut pautkan masalah keluarga kita dengan projek ini, aku ingin tetap kamu yang menghandle semuanya," lanjut Restu.


Laila menghentikan langkahnya kembali.


"Maaf Pak Restu, saya tidak bermaksud menyangkut pautkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi. Hanya saja saya tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang tidak menyukai saya! Bahkan jika perlu saya tak ingin lagi bertemu dengan kalian, maka dari itu saya putuskan untuk mundur dari proyek ini dan akan saya bicarakan hal ini pada Pak Julian. Terimakasih!" Laila kembali berjalan namun Restu menarik lengan wanita itu.


"Lepaskan saya Pak Restu, anda bukan mahram saya jadi anda tak boleh sembarangan menyentuh saya!" tepis Laila dengan kasar dan kesal.


"Maaf. Tapi kita ini keluarga. Saya tak punya maksud apa-apa."


"Antara kita tak ada hubungan darah, Pak Restu! Anda ingat itu!" tegas Laila.


"Iya maafkan saya, tapi... "

__ADS_1


"Sudah Pak Restu, cukup! Tolong anda hargai keputusan saya!" Laila kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti berulang kali gara-gara di halangi oleh Restu.


Laila dan Qadar pun meninggalkan tempat tersebut, membiarkan Restu mematung di tempat menatap nanar kepergian dua kakak beradik itu.


Tiba di rumah Laila langsung mencerca Qadar dengan berbagai pertanyaan termasuk tentang kenapa Qadar bisa berada di sana, di kantor Restu.


Handoko dan Mira yang menyaksikan mereka berdua tampak saling pandang.


"Maaf, Kak, aku emang ngikutin Kakak tadi. Aku hanya ingin bertemu Ayah dan Kak Restu." Qadar mencoba berkata jujur karena memang dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya juga Restu orang yang dulu sangat baik padanya.


"Untuk apa? Katakan untuk apa kamu ingin bertemu dengan mereka? Untuk menambah luka dan sakit hati kita, itu yang kamu mau?" kata Laila terlihat berapi-api.


Rasa sakit hati yang di torehkan Ambar membuatnya emosi.


"Aku rindu mereka, Kak!" kini Qadar tak kalah lantang suaranya.


"Rindu? Kamu masih merindukan orang yang sama sekali tak pernah mengharapkan kehadiran mu di dunia ini?" Air mata Laila kini tak tertahankan setelah sekian lama ia selalu tegar akhirnya luruh juga.


"Kakak jangan salah. Ayah dan Kak Restu sepertinya juga merindukan kita. Hanya saja Bu Ambar yang membenci dan terus berusaha menjauhkan kita dari Ayah. Aku rasa ini bukan sepenuhnya salah ayah, tapi beliau terpaksa karena istrinya yang memang tak menyukai kita, bukan berarti kita harus membenci ayah 'kan Kak?" desis Qadar.


Hanya tinggal Qadar, Handoko dan Mira yang ada di ruangan itu. Ketiganya tampak diam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Nanti Paman akan bicara pada Kakakmu, mungkin saat ini dia emosi. Biarkan dia tenang dulu, Paman yakin lambat laun Laila akan bisa mengerti apa maksud kamu mengikutinya kesana," ucap Handoko menenangkan Qadar.


***


Keesokan harinya di kantor. Laila menemui Julian di ruangannya.


"Pak, maaf sebelumnya saya ingin agar Bapak mengalihkan pekerjaan saya menangani projek bersama Ambar Group. Saya tidak bisa, dan Bapak bisa cari karyawan lain untuk menangani proyek tersebut," ucap Laila.


"Maaf jika saya lancang, dan jika Bapak keberatan, saya siap mengundurkan diri dari perusahaan ini," lanjutnya.


Julian mengernyitkan kening merasa heran karena tiba-tiba saja Laila tak ingin menangani proyek yang di serahkan sepenuhnya padanya.


"Tapi kenapa? Beri aku alasan yang masuk akal," ucap Julian penasaran.

__ADS_1


Laila terdiam, dia tak mungkin menceritakan masalah pribadinya, mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Laila sadar ini satu kesalahan karena dengan begini artinya dia tidak profesional. Tapi Laila benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan keluarga Ambar.


"Maaf Pak, saya tak bisa mengatakan alasannya." Laila tertunduk dalam.


Julian menghela napas panjang, kemarin Restu sempat bertanya akan hal ini. Restu menanyakan apakah Laila sudah mengatakan jika Laila tak mau lagi mengurus kerja sama dengan perusahaan Ambar Group. Dan sekarang Julian mendengar sendiri dari mulut Laila. Tapi apa alasannya, sampai detik ini Julian tidak pernah tau.


"Ada hubungan apa kamu dengan Restu? Apa sebelumnya kamu pernah mengenal dia? Atau mungkin dia mantan pacar kamu?" tanya Julian penuh selidik, ia menduga jika Laila punya hubungan spesial dengan Restu hingga membuat Laila tak nyaman ketika harus kerja sama dalam satu projek bersama Restu.


Laila mendongakkan wajah dengan kaget, bisa-bisanya Julian berpikiran kesana.


"Maaf, aku cuma asal tebak saja. Makanya kamu berikan alasan yang jelas, projek ini tidak sembarang orang bisa menghandle. Aku menugaskan kamu karena aku percaya sama kamu Laila," jelas Julian ketika melihat ekspresi wajah Laila yang mungkin tersinggung oleh ucapannya.


Laila menghela napas panjang, mau tidak mau ia pun menceritakan semuanya. Julian cukup kaget setelah tau alasan apa yang membuat Laila mundur dari pekerjaan ini.


"Kalau begitu aku akan cari karyawan lain untuk menggantikan posisimu. Maaf, aku sudah salah paham." Julian merasa iba setelah mendengar cerita dari mulut Laila tentang latar belakang keluarganya.


"Terima kasih atas pengertiannya, Pak." Laila merasa lega.


"Andai kamu bicara dari awal, mungkin aku tak akan menugaskan kamu untuk mengurus proyek ini. Aku tak ingin melihat kamu bersedih Laila," ujar Julian.


"Waktu itu saya sendiri pun tidak tau jika Bapak akan bekerja sama dengan perusahaan Ambar Group, dan saya tidak pernah menyangka akan di pertemukan kembali dengan mereka," ungkap Laila.


Sejenak mereka saling diam, lalu Julian mulai mengganti topik pembicaraan. Julian rasa Restu juga menyukai Laila, dan Julian takut Laila pun memiliki perasaan yang sama. Julian ingin segera mendapatkan kejelasan dan kepastian dari Laila perihal lamaran yang seringkali ia lontarkan pada wanita itu.


"Laila, kamu tau jika saat ini aku sedang berusaha untuk menjadi laki-laki yang baik agar bisa menjadi pendamping wanita sholeha seperti mu. Aku sangat butuh kepastian darimu," ucap Julian begitu serius.


"Aku... " Laila masih belum bisa mengambil keputusan.


"Tak apa-apa jika kamu tak bisa menjawab sekarang. Tapi aku minta jangan terlalu lama memberi keputusan, jika memang ada pria lain yang sudah mengisi hatimu maka aku akan mundur tapi insyaallah aku akan tetap meneruskan belajar ilmu agama karena aku sangat membutuhkannya untuk kehidupan ku kedepannya, meskipun tidak berjodoh dengan mu, aku ingin menjadi imam yang baik untuk siapapun pasanganku kelak," ucap Julian.


Laila merasa tersentuh mendengar perkataan Julian. Laila rasa Julian sudah cukup banyak berubah.


"Aku akan secepatnya, mungkin besok atau lusa. Aku harus bicarakan ini pada keluargaku terlebih dahulu," ucap Laila yang di angguki Julian.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2