
''Sudah lebih setengah jam, apa Ayah jadi datang kesini?" bisik Qadar pada Handoko.
Mereka tampak gelisah menunggu, terutama Laila yang sangat mengharapkan kehadiran ayahnya di acara pesta pernikahannya ini.
"Mungkin macet," jawab Handoko menerka-nerka.
"Julian coba hubungi lagi Restu." Handoko meminta Julian agar menelpon Restu, mencari tau keberadaan mereka masih dimana. Apakah sudah dekat dengan lokasi atau masih jauh.
Julian menghubungi Restu. Terdengar nada sambung yang artinya handphone Restu aktif, namun tak kunjung di angkat olehnya.
Julian sampai berulang kali menelpon, hampir semua anggota keluarga berkali-kali menoleh padanya dengan menatap cemas dan penasaran.
"Bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya Pak Penghulu yang mungkin tak bisa berlama-lama dia berada di pesta itu.
Pak Penghulu harus datang ke acara pesta pernikahan yang lainnya, dan ia tak bisa terus menunggu berjam-jam di acara Laila dengan Julian.
"Tunggu sebentar lagi, Pak. Mungkin mereka lagi di jalan, kena macet," pinta Julian.
"Telepon kamu gak di angkat kan? Kita mulai saja. Aku gak mau gara-gara menunggu mereka, hingga menghambat pernikahan orang lain yang mungkin sedang menunggu kedatangan Pak Penghulu." Laila tampak menegarkan diri meski sebenarnya hatinya rapuh dan matanya terasa panas menahan tangis.
"Laila, sabar. Kita tunggu sebentar ya!" kata Julian, ia bisa menangkap raut kekecewaan dari wajah Laila.
"Sabar? Sampai kapan? Mungkin Tante Ambar melarang mereka untuk datang kesini. Kita sudah cukup lama menunggu, mau sampai kapan?" pekik Laila tertahan.
"Laila, benar kata Julian. Gak ada salahnya kita tunggu. Paling tidak seperempat jam lagi," ucap Handoko.
"Iya Kak, sabar ya. Aku yakin Ayah pasti datang kesini bersama Kak Restu," kata Qadar ikut angkat bicara.
"Aku gak yakin. Telepon saja gak dia angkat." Bulir bening akhirnya lolos jatuh dari mata indah gadis itu meski hanya satu tetes saja tapi cukup menunjukkan betapa kecewa dan sakit hatinya.
"Mungkin Restu lagi nyetir. Berfikir positif saja, bukan itu yang selalu kamu ingatkan padaku?" kata Julian.
"Tapi ini lain urusannya. Segala hal yang berhubungan dengan Tante Ambar, Ayah dan Restu nampaknya sudah cukup membuat banyak kekecewaan untukku hingga aku sulit saat harus percaya pada mereka, berpikir positif terhadap mereka." Laila tertunduk menahan air mata agar tak jatuh lagi.
Mira mengelus punggung Laila, ia menyodorkan tisu pada keponakannya.
"Maaf, aku terlalu rapuh saat menghadapi sesuatu yang berkaitan dengan mereka. Sudah cukup bagiku menerima segala perlakuan mereka terhadap aku dan Qadar. Aku sudah tak mau lagi berharap banyak, tapi kenapa mereka seolah memberikan harapan kosong." Suara Laila terdengar serak.
Semua nampak menatap miris keadaan Laila saat ini. Mereka tau betapa hancurnya hati Laila saat ini.
"Baiklah, kita mulai acaranya? Itu yang kamu inginkan?" tanya Julian yang tak tega melihat tangis Laila.
Tanpa bersuara, Laila hanya memberi sebuah anggukan untuk menjawab pertanyaan Julian.
"Pak Penghulu, kita mulai saja," tegas Julian.
__ADS_1
Beberapa tamu tampak saling berbisik terutama mereka yang tau masalahnya. Begitupun dengan anggota keluarga mempelai pria, mereka terheran-heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Qadar masih tetap di posisinya semula, ia seakan enggan beranjak ke depan Pak Penghulu untuk mewakili ayahnya menjadi wali nikah bagi Laila kakaknya.
Handoko menoleh pada Qadar, memberi kode sebua kedipan mata pelan, meminta agar Qadar segera menempati tempat yang seharusnya.
Dengan langkah berat Qadar pun pindah ke tempat duduk yang di sediakan untuk wali nikah. Dimana ada satu meja dengan tiga kursi yang tersedia yang telah di duduki oleh Pak Penghulu, Julian dan satu kursi untuk wali yang kini di tempati oleh Qadar. Sementara Handoko, Mira dan Laila berada di kursi lain, tak jauh dari tempat tersebut. Begitupun dengan pihak keluarga mempelai pria berada di tempat yang sudah di sediakan.
Qadar menoleh sekilas pada Julian sebelum memulai. Julian mengangguk ringan sebagai tanda jika Qadar harus yakin dan segera melangsungkan ijab kabul.
Dengan tangan gemetar Qadar menjabat tangan Julian. Pak Penghulu memberi arahan pada keduanya tentang apa-apa saja yang harus mereka ucapkan saat ijab kabul.
Qadar menelan saliva sebelum akhirnya ia berkata, " saya nikahkan dan saya kawinkan..."
"Tunggu!" tiba-tiba muncul Restu menghentikan ijab kabul yang sedang di ucapkan Qadar.
Sontak semua yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara. Dimana ada Restu berdiri di depan pintu bersama Syarif yang duduk di kursi roda dengan keadaan lemah, pucat dan tampak kesakitan memegangi dadanya.
"Ayah!" Qadar mengukir senyum tatkala melihat kedatangan ayahnya.
Bergegas Qadar melepas jabatan tangannya dari tangan Julian. Qadar berlari menghampiri ayahnya. Sampai di sana ia bersimpuh di depan ayahnya sambil menangis membenamkan wajah di kaki pria tua yang tampak sudah tak berdaya itu.
"Qadar, maafkan Ayah. Maafkan semua kesalahan Ayah," lirih pria berusia lebih dari setengah abad itu.
Laila pun berdiri berjalan pelan ke arah ayahnya di ikuti Mira di belakangnya. Air mata menggenang di pelupuk mata indah wanita berpakaian pengantin itu. Rasa bersalah menyelimuti hati karena telah berpikiran buruk terhadap ayahnya. Semua tamu dan sanak saudara yang ada di sana tampak menyaksikan suasana mengharu biru di ruangan itu.
"Maaf, kami terlambat. Ayah sebenarnya sakit dan harus di bawa ke Rumah Sakit. Tapi beliau memaksa untuk tetap di bawa kesini." Restu menjelaskan keadaan Syarif saat ini, meski tak ia jelaskan pun semua orang bisa melihat betapa parahnya keadaan Syarif saat ini. Namun Syarif berusaha terlihat seolah ia baik-baik saja, demi bisa menjadi wali nikah untuk putrinya, Laila.
"Ayah!" Laila menangis menjatuhkan diri di hadapan sang Ayah. Bersimpuh di kaki Syarif bersebelahan dengan Qadar.
"Bangun, Nak. Kita harus mulai acaranya. Maaf jika Ayah sedikit terlambat." Suara Syarif terdengar terpatah-patah dan serak.
"Maafkan Laila, Ayah!" pekiknya dengan sesenggukan.
"Sudah, Nak. Di hari bahagia ini, kamu harus tersenyum. Berikan senyuman untuk Ayah, karena selama ini Ayah selalu membuat tangismu jatuh. Ayo Nak, kita mulai ijab kabul," kata Syarif.
Handoko mendekat membangunkan Laila.
Handoko rasa Syarif sudah tidak bisa berlama-lama berada di sini, setelah ijab kabul selesai Syarif harus segera di bawa ke Rumah Sakit.
Acara pun di mulai, perasaan Laila campur aduk.
Syarif mulai mengucapkan ijab meski dengan suara lirih dan pelan namun masih bisa terdengar jelas.
Lantas Julian pun mengucap Qabul, " saya terima nikahnya dan kawinnya Lailatul Jannah Bin Syarif Airlangga dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.''
__ADS_1
"Sah para saksi?"
" Sah... "
" Alhamdulillah. " Semua mengucapkan hamdalah seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Setelah semua acara pokok selesai, tiba-tiba saja Syarif lunglai seperti hampir pingsan, namun dia masih ada dalam kesadaran. Tentu saja hal itu membuat semuanya panik.
"Ayah!" Teriak Laila dan Qadar tangis mereka pecah.
" Kita bawa ke Rumah Sakit." Restu beranjak mendekat seketika tangan Syarif menahan lengan Restu yang hendak mendorong kursi rodanya.
"Jangan... Ayah tak ingin pergi kemana-mana."
"Tapi Ayah harus ditangani Dokter," kata Restu.
"Biar aku telepon Dokter." Julian berdiri dan menelpon Dokter.
Mira dan Dita juga keluarga Julian tampak meminta para tamu untuk menikmati jamuan yang sudah tersedia. Agar keadaan Syarif tak jadi tontonan mereka.
Tanpa mereka sadari ternyata Ambar mengikuti mobil Restu, ia kini di ambang pintu sambil menangis. Mira yang melihat wanita itupun segera mengajak Ambar masuk dan memberitahu keadaan Syarif yang tengah kritis saat ini. Syarif sudah di bawa ke kamar Qadar, dia di baringkan di sana oleh Restu.
Ambar di bawa masuk ke kamar tersebut oleh Mira.
"Mas Syarif." Suara jerit tertahan keluar dari mulut Ambar ketika melihat kondisi suaminya terkulai lemah tak berdaya. Tampaknya azal sedang menjemput suaminya itu.
Tangan Syarif terjulur ke arah Qadar seakan ia meminta Qadar untuk menuntunnya di detik-detik ia harus meregang nyawa.
Dengan di banjiri air mata, Qadar mendekatkan wajahnya ke telinga Syarif. Qadar menuntun Syarif membaca kalimat tahlil. Syarif yang sedang sakaratul maut pun mengikuti ucapan Qadar meski dengan lafal yang tak jelas dan terbata.
"Ayah!" sontak semua berteriak histeris ketika Syarif menghembuskan nafas terakhirnya.
Miris. Di hari pernikahan Laila, ia harus kehilangan sosok sang Ayah. Laila yang tak kuat melihat kepergian ayahnya pun seketika limbung, ia tumbang di pangkuan Julian.
"Innalilahi wainailaihi rojiun." Handoko dan semua orang yang ada di sana mengucap kalimat tersebut dengan serempak.
Isak tangis memenuhi seisi ruangan itu. Qadar memeluk ayahnya dengan air mata terus mengalir. Begitupun dengan Ambar yang berada di sisi lain, ia menangisi suaminya.
***
Qadar menyimpan secarik kertas berisi tulisan tangan dirinya. Corat-coret nyanyian yang sering ia tulis saat merasa rindu pada sang Ayah. Kini ia simpan di antara bunga-bunga yang bertabur di pusara ayahnya.
Laila dan Qadar harus mengikhlaskan kepergian orang tuanya. Memaafkan semua kesalahan yang pernah di lakukan ayahnya semasa hidup.
Laila pun kemudian hidup bahagia pada akhirnya bersama Julian. Laila merasa lega setelah Qadar bisa lulus kuliah dan di wisuda. Tak sia-sia perjuangannya selama ini.
__ADS_1
~SELESAI~