
Nenek Dewi mengantar cucunya Julian ke sebuah pesantren yang berada di pinggiran kota. Suasana tenang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota membuat Julian berdecak kagum, terutama saat melihat lingkungan yang masih asri seakan ia sedang berada di pedesaan yang sekelilingnya di penuhi pepohonan hijau yang rimbun meneduhkan.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Nenek Dewi saat melihat ekspresi kagum terpancar dari wajah Julian.
"Suka. Sangat tenang dan nyaman." Senyuman terus terlukis di bibir pira itu.
"Ayo kita masuk." Nenek Dewi mengajak Julian untuk melanjutkan langkah mereka mendekati pondok dimana Kiai Abdullah berada.
Beberapa santri menyambut kedatangan mereka, mengantar keduanya ke tempat Kiai Abdullah pemilik pesantren Al-Hikmah.
Langkah mereka akhirnya sampai di depan pintu sebuah rumah yang berada di sekitar pesantren.
"Assalamualaikum," mereka mengucap salam.
Tak lama salam merekapun berbalas, seseorang membuka pintu rumah tersebut.
"Wa'alaikumsalam." Nampak seorang perempuan yang di duga istri dari Kiai Abdullah muncul membukakan pintu.
"Umi, ini ada tamu yang ingin bertemu dengan Kiai," kata santri itu.
"Silahkan, mari masuk!" Perempuan berpakaian syar'i itu mempersilahkan Nenek Dewi dan Julian masuk ke dalam rumah.
Keduanya pun masuk dan segera duduk setelah di persilahkan.
"Sebentar saya panggilkan dulu Abi." Perempuan berhijab itu melangkah masuk memanggil suaminya.
Julian yang kini duduk di sofa tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dimana terdapat banyak kaligrafi yang menghiasi dinding ruangan tersebut.
"Assalamualaikum." Seorang pria berjenggot panjang dengan mengenakan jubah putih muncul dari dalam. Penampilan yang bersahaja, sederhana dan raut muka meneduhkan membuat Julian seakan terhipnotis menatapnya.
"Wa'alaikumsalam." Nenek Dewi menyenggol lengan cucunya yang kini malah terbengong-bengong bukannya menjawab salam.
"Wa'alaikumsalam," ucap Julian sedikit kikuk.
Pria berkharisma itu lantas duduk bersebrangan dengan mereka. Namun perempuan berhijab tadi tak kelihatan lagi, hanya Kiai Abdullah yang muncul di ruang utama sedang istrinya sepertinya tengah menyiapkan makanan dan minuman untuk tamu mereka.
"Lama tidak bertemu, Bu Dewi. Bagaimana kabar anda?" tanya Kiai yang di taksir seumuran dengan Nenek Dewi.
"Alhamdulillah baik, Kiai sendiri sehat?"
"Alhamdulillah sehat."
Tak lama muncul istri Kiai membawa nampan berisi minuman dan makanan lalu menyimpan semua itu di atas meja.
__ADS_1
"Silahkan di sambil," ucap perempuan itu dengan sopan.
"Terima kasih." Nenek Dewi tersenyum ramah.
"Jadi apa yang bisa saya bantu, Bu Dewi?" tanya Kiai Abdullah.
"Maksud kedatangan saya kesini untuk meminta bantuan Kiai agar membimbing cucu saya belajar agama. Semoga belum terlambat untuknya memperdalam ilmu agama di usianya yang sudah matang ini," kata Nenek Dewi.
"Tak ada kata terlambat, selama masih ada keinginan untuk belajar maka masih bisa di lakukan, apalagi cucu anda ini masih terbilang muda. Yang Alhamdulillah Tuhan sudah menggerakkan hati cucu anda untuk mendekatkan diri pada-Nya. Semoga Nak... "
"Julian, Kiai."
"Nak Julian ini bisa terus Istiqomah, berada di jalan Allah sampai akhir hayat. Saya akan sangat senang sekali membantu kalian," ucap Kiai itu dengan tersenyum.
Mereka pun berbincang-bincang apa saja yang ingin di pelajari Julian di pesantren ini. Julian akan datang setiap dua atau tiga Minggu sekali bahkan lebih dari itu jika ia memiliki waktu luang. Mengingat Julian saat ini mengemban tugas di perusahaannya milik keluarga hingga ia tak bisa tinggal di pesantren tersebut dan hanya bisa bolak-baik untuk belajar di sana.
Sementara itu di tempat lain. Laila sedang bersama Restu, saat ini mereka melakukan survei ke lapangan dimana proyek kerja sama mereka akan berlangsung.
Sebidang lahan yang luasnya berhektar-hektar milik perusahaan PT.Nusantara akan di kelola oleh perusahaan Ambar Group yang bergerak di bidang properti.
Cuaca cukup panas hari ini, matahari bertengger gagah di langit yang biru cemerlang. Sinarnya yang terik seakan membakar kulit, apalagi saat ini Restu dan Laila berada di lahan kosong yang gersang dan hanya di tumbuhi beberapa pohon saja.
Payung yang di jadikan pelindung teriknya panas matahari dan suhu udara tampaknya tak berpengaruh sama sekali.
Laila mengangguk lantas mengikuti langkah Restu. Kalau bukan karena pekerjaan, Laila tak berniat bertemu kembali dengan Restu.
"Bang, tolong belikan minuman dingin sama makanan sekalian. Kalau gak salah tadi aku lihat ada mini market di sekitar jalan ini," titah Restu pada salah satu pegawai yang mengukur tempat itu.
"Baik, Pak." Pegawai pria itu pun segera menerima uang yang di sodorkan Restu dan berlalu dari sana menuju mini market.
Laila dan Restu duduk di dekat pohon yang tumbuh di sana. Udara panas masih cukup menyengat padahal mereka berada di bawah pohon yang teduh.
Laila mengipas-ngipaskan dokumen yang ia pegang saking panasnya udara di sana.
Kepalanya sedikit pusing, mungkin karena pagi tadi dia hanya sarapan sedikit saja, hingga perutnya saat ini kosong.
"Laila, gimana kabar Qadar?" tanya Restu memulai percakapan. Sedari tadi pandangan Laila terus menatap ke segala arah namun tak sekalipun mau menoleh pada Restu yang duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah, baik." Laila menjawab singkat masih enggan menoleh pada lawan bicara.
"Alhamdulillah." Restu merasa lega mendengarnya, ia bahkan sangat ingin bertemu dengan Qadar.
"Laila, sekarang kamu pindah rumah ya? Pas aku baru pulang dari Singapura, aku sengaja jalan-jalan ke sekitar komplek tempatmu dulu tinggal. Tapi aku gak ketemu sama kamu, Qadar atau yang lainnya," kata Restu.
__ADS_1
Laila hanya diam, dia seakan enggan memberitahu jika memang saat ini dia tak lagi tinggal di sana.
"Kamu gak mau kasih tau aku dimana sekarang tempat tinggalmu?" lanjut Restu melihat Laila hanya diam saja.
"Maaf kita di sini sedang bekerja, jadi saya tidak mau membahas masalah pribadi, tolong hargai privasi saya, Bapak Restu!" tegas Laila.
"Maaf." Restu lihat Laila sedikit berubah, apa memang sengaja Laila menghindar dan tak ingin lagi berhubungan dengan siapa saja yang menyangkut ayahnya?
"Laila, ayah ingin bertemu denganmu, dengan Qadar." Restu seakan tak peduli dengan ucapan Laila tadi, dia terus membahas tentang hal di luar pekerjaan mereka. Biar bagaimanapun Restu ingin mempertemukan Laila dengan ayahnya. Secara sudah sepuluh tahun lamanya mereka tak bertemu.
Laila kini menoleh menatap Restu dengan tatapan tajam.
"Jika memang benar beliau ingin bertemu, pastikan dulu istrinya tau agar tak ada masalah dan kesalahpahaman lagi," kata Laila.
Restu terdiam, rasanya itu sangat tidak mungkin. Ambar tak mungkin mengizinkan Syarif bertemu dengan anak-anaknya.
Ponsel Laila bergetar dan berbunyi. Laila meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang menelpon.
"Bapak Julian?" gumam Laila masih bisa terdengar oleh Restu, dan pastinya membuat Restu sedikit tak nyaman. Meskipun mungkin Julian hanya akan bertanya soal pekerjaan pada Laila tapi entah kenapa Restu seakan cemburu melihat keduanya berkomunikasi.
"Assalamualaikum, Laila!" sahut Julian dari seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam."
"Laila, kamu tau sekarang aku mulai belajar di pesantren Al-Hikmah, aku ingin menjadi pria yang lebih baik lagi agar nanti bisa menjadi imam yang baik untukmu," ucap Julian tanpa basa-basi.
'Astaga!' batin Laila.
"Alhamdulillah aku senang mendengarnya. Semoga bapak istiqamah meskipun kita tidak tau dengan siapa bapak nanti berjodoh, bapak harus tetap menjadi imam yang baik untuk pasangan bapak kelak," ucap Laila menyadarkan Julian secara halus.
Mendengar perkataan Laila, Restu tau apa yang sedang di bicarakan mereka, tentu saja membuat hatinya makin panas. Sudah udara di sana panas ditambah pembicaraan Laila dan Julian yang menjurus pada pernikahan membuat Restu makin panas terbakar.
Setelah Laila berbincang sebentar tentang masalah pekerjaan, lalu ia pun menutup telepon.
"Kamu mau menikah dengan Julian?" Seketika Restu bertanya pada Laila.
Laila menoleh sedikit terkejut.
"Siapa bilang?"
"Julian yang bilang, katanya dia mau melamar kamu."
"Aku tidak tau, belum kepikiran untuk menikah." Laila menjawab singkat namun jawaban Laila itu sedikit membuat adem hati Restu yang gersang. Restu tampak lega mendengarnya.
__ADS_1
bersambung,