
Semua takjil sudah siap hanya tinggal Laila menjualnya di sekitar komplek. Laila bersiap-siap terlebih dahulu sebelum berjualan.
Seusai membersihkan diri dan menunaikan sholat, baru Laila berangkat jualan. Laila membawa keranjang berisi takjil-takjil dan berjalan meninggalkan rumah.
Cukup jauh ia berjalan, takjil yang ia jual pun sudah ada beberapa yang membelinya. Panas matahari tak membuat Laila menghentikan niatnya untuk terus mencari pembeli.
"Dek, dek Laila!" seorang ibu komplek memanggilnya.
Laila menoleh lalu berjalan mendekati ibu-ibu komplek yang sedang berkumpul di salah satu rumah. Mereka sedang duduk-duduk di teras rumah tersebut.
"Mau beli takjil ya, Bu?" tanya Laila pada ibu yang memanggilnya barusan.
"Iya sini!" Ibu itu menggerakkan tangan meminta agar Laila segera mendekat.
Laila akhirnya sampai di depan mereka. Menyimpan keranjang di depan para ibu-ibu yang sedang berkumpul itu.
Mereka segera menyerbu takjil yang Laila jual.
"Kemarin kemana gak jualan?" tanya salah satu dari mereka sambil memilih milih takjil yang ia inginkan.
"Kemarin Bi Mira gak enak badan, jadi gak jualan," jawab Laila. Karena itu memang salah satu alasan Mira selain dari uang belanjaan yang hilang.
"O pantesan gak lihat keliling!" Ibu itu manggut-manggut.
Mereka membayar takjil yang sudah di pilih, barang jualan Laila kini mulai berkurang banyak karena di beli oleh mereka.
Laila sangat bersyukur karena mereka mau membeli takjil yang ia jual.
"Laila, rupanya kamu masih punya Ayah, ya?" Ibu yang pertama memanggil Laila tadi kini kembali bertanya.
"Ibu tau darimana?" Laila mengernyitkan kening heran.
"Hari apa gitu liat Handoko tempelin selebaran isinya foto seorang pria yang katanya Ayah kamu sama Qadar. Ayah mu ganteng ya, pantes anaknya cantik. Tapi kemana beliau emangnya?" Ibu itu mulai kepo.
Laila terdiam sejenak, ia baru tau kalau Pamannya Handoko ternyata menyebarkan selebaran foto Syarif ayahnya. Apa mungkin Qadar meminta Handoko untuk menyebarkan kertas itu? Seingat Laila, ia menyimpan selebaran itu di kamar dan sampai saat ini Laila memang belum membuka laci meja itu lagi, belum memeriksa selebaran foto ayahnya.
__ADS_1
"Saya juga kurang tau ayah saya dimana, makanya kami sedang mencarinya. Saya permisi ibu-ibu, terima kasih sudah membeli takjilnya!" Laila bergegas meninggalkan mereka, tak ingin di tanya-tanya lebih jauh lagi tentang ayahnya.
Ibu-ibu komplek itu langsung membicarakan perihal Laila yang sedang mencari ayahnya. Setelah Laila pergi dari hadapan mereka.
"Gimana kalau selebaran itu sampai di temukan oleh Restu, Ayah atau Tante Ambar?" Laila menepuk jidat menghela napas kasar.
Di lihatnya keranjang takjil yang isinya hanya tinggal sedikit. Hari kian sore, Laila rasa tak akan ada lagi yang membeli takjil yang ia jual.
Laila teringat saat Restu membagikan takjil pada orang-orang yang berada di jalanan. Laila bergegas keluar dari komplek, berjalan menuju jalan raya dimana ia bisa menemukan orang-orang yang mungkin saat ini membutuhkan makanan.
Laila membagikan sisa dagangannya pada siapa saja yang ia temui di pinggir jalan raya. Mereka yang menerima pemberian dari Laila tampak senang, bahkan tak jarang di antara mereka memberi doa yang baik-baik pada Laila karena sudah mau berbagi.
Keranjang takjil pun kini kosong, habis tak bersisa. Laila akan membayar sisa takjil yang di bagikannya pada orang-orang itu, agar storan pada Mira utuh dan dia akan bilang pada Bibinya jika takjilnya hari ini laku.
Laila melihat mobil Handoko melintas tak jauh dari tempatnya berdiri. Segera ia memanggil Pamannya itu sambil berlari kecil.
Handoko yang saat itu melajukan mobil dengan pelan pun melihat Laila dari kaca spion.
Segera ia menghentikan laju kendaraannya.
"Masuk sini!" Handoko membuka pintu mobil.
Laila pun masuk ke dalam mobil tersebut.
"Wah jualannya laku ya?" Handoko melihat keranjang yang sudah kosong.
"Iya Paman, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah."
"Paman, ada yang mau Laila bicarakan. Jadi jangan dulu ke rumah," kata Laila mencegah Handoko yang baru saja akan menyalakan mesin kendaraannya.
"Tentang apa? Kenapa bicara di sini?" tanya Handoko heran, ia mengurungkan niatnya untuk menyalakan mesin mobil setelah Laila mencegahnya.
"Tentang Ayah. Laila sudah bertemu dengan beliau. " Mata Laila memandang jauh ke depan dengan benak mengingat perlakuan Syarif terhadapnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau gitu. Dimana? Kapan?" Handoko tampak senang mendengarnya tapi melihat ekspresi Laila yang terlihat bersedih membuatnya heran.
"Kamu kenapa? Bukannya seharusnya kamu senang sudah bertemu dengan ayahmu? Kok mukanya sedih gitu?" Handoko menangkap raut wajah sedih pada Laila.
"Laila senang bisa bertemu ayah lagi, tapi sekarang ayah sudah berubah. Beliau tidak mengakui Laila sebagai anaknya." Laila menoleh pada Handoko.
"Paman tau jika Ayah sudah memiliki istri sebelum beliau menikahi ibu? Sekarang beliau tinggal bersama istri pertamanya dan anak laki-laki nya," lanjut Laila.
Handoko geleng-geleng kepala karena memang ia tidak tau akan hal itu, dia pun seakan tak menyangka jika Syarif seperti itu.
Laila menceritakan semuanya pada Handoko, tentang pertemuannya dengan Syarif dan bagaimana reaksi Syarif terhadapnya.
Handoko benar-benar tak menyangka Syarif setega itu pada Laila dan Qadar. Handoko menutupi kemarahannya pada Syarif di hadapan Laila. Handoko merasakan sakit hati dan luka batin yang di rasakan oleh Laila saat ini. Mental anak itu di hajar habis-habisan oleh kenyataan pahit yang di alaminya.
Laila mengeluarkan amplop berisi uang pemberian ayahnya. Ia serahkan uang itu pada Handoko.
"Ini pemberian ayah. Laila ingin agar Paman menyimpannya untuk keperluan sehari-hari keluarga kita, dan untuk tambahan biaya sekolah Qadar. Sebagain Laila simpan jika sewaktu-waktu Laila butuh untuk keperluan dadakan." Laila menyerahkan uang itu pada Handoko.
"Lebih baik kamu simpan saja, ini hak kamu sama Qadar. " Handoko menolak.
"Laila percaya sama Paman untuk menggunakan uang ini, toh Laila sama Qadar makan dan numpang di rumah Paman. Laila gak bisa memegang uang sebanyak ini, yang Laila simpan sedikit juga udah cukup untuk jaga-jaga saja kalau Laila butuh saat Paman gak ada di rumah." Laila memaksa agar Handoko mau menerimanya.
"Tapi tolong jangan katakan tentang Ayah pada Qadar dan yang lainnya. Hanya aku dan Paman yang tau rahasia ini. Laila tak mau Qadar bersedih, dia pasti akan sangat kecewa jika tau ayah tak mengakui anak-anaknya. Laila mohon agar Paman tak mengatakan pada siapapun," pinta Laila.
"Tapi lambat laun Qadar harus tau tentang semuanya. Kejujuran terkadang menyakitkan tapi kejujuran lebih baik daripada kebohongan yang terdengar manis." Handoko mengingatkan.
"Laila mengerti. Setidaknya tunggu sampai Qadar paham dan bisa menerima semua ini dengan lapang. Paman tau sendiri bagaimana antusias nya Qadar mencari ayah. Ekspektasinya terhadap sosok ayah sangatlah tinggi, Laila tak sanggup mematahkan harapan Qadar saat ini," kata Laila.
"Baiklah, paman paham. Kita tunggu waktu yang tepat baru kita akan ceritakan hal ini pada Qadar," ucap Handoko.
"Makasih Paman, maaf Laila sudah banyak merepotkan," kata Laila.
"Tidak Nak, kamu dan Qadar juga anak ku. Paman menyayangi kalian seperti Paman menyayangi Dita dan Aldo," ucap Handoko sambil mengelus kepala Laila yang terbalut hijab.
"Kita pulang sekarang," kata Handoko seraya menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
bersambung,