
Menjelang sore hari Handoko baru saja pulang ke rumah.
Ia melangkah masuk dan mendapati istrinya masih terlihat sedang bersantai sambil nonton TV. Merasa heran karena biasanya jam segini Mira sibuk dengan jualannya.
"Gak jualan?" tanya Handoko seraya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Mau jualan gimana? Orang duitnya di pakai sama keponakanmu! " kesal Mira mendelik sekilas ke arah suaminya lalu kembali menonton acara TV.
"Di pakai? Maksudnya?" Handoko tidak mengerti.
"Modalnya habis katanya si Laila kecopetan saat aku suruh dia belanja ke pasar. Gak tau bener apa enggak, aku rasa dia cuma ngadi-ngadi. Pasti dia pakai tuh duitnya buat cari bapaknya!" suara Mira terdengar sampai ke dapur dimana kini Laila sedang sibuk memasak atas perintah Mira ia memasak sebagai hukuman karena Laila sudah melenyapkan uang modal jualan.
"Ya kalau kecopetan itu musibah, bukan kesalahan Laila. Gak mungkin dia pakai uangnya, dia anak jujur." Handoko membela Laila karena memang menurutnya Laila tak mungkin berani memakai uang Bibinya.
Seketika Laila muncul dari dapur berniat menjelaskan semuanya pada Handoko.
"Tadi pas Laila naik angkot, ada pria duduk di sebelah Laila. Dan sepertinya dia yang sudah mencopet uang belanjaan itu." Laila tertunduk dalam-dalam.
"Kalaupun ia kamu kecopetan, itu artinya kamu ceroboh! Gini jadinya kita gak bisa jualan, gara-gara kamu ini kita jadi susah!" tukas Mira masih menyalahkan.
"Maaf Bi, Laila juga gak tau kalau orang itu copet," kata Laila.
__ADS_1
"Maaf sih gampang! Duit itu juga gak bakal bisa kamu ganti kan? Udah numpang bikin rezeky seret lagi!" maki Mira tanpa berperasaan.
"Loh kok ngomongnya gitu? Laila udah banyak bantu kamu, dia bantuin kamu bikin takjil dari pagi terus sorenya dia jualan. Masa iya kamu mau minta ganti sementara kamu aja pakai tenaganya dia gak bayar sama sekali. Coba kamu pikir deh, kalau misal pakai tenaga orang lain kamu udah harus bayar lebih dari uang belanjaan kamu itu dibanding di bantu jasa Laila yang gak di kasih imbalan sama sekali. Udah untung banyak kamu itu, apalagi pesanan kamu membludak semenjak Laila tinggal di sini!" kata Handoko tak rela keponakannya terus di sudutkan.
"Lah dia bantu aku karena dia harus tau diri dong tinggal sama siapa? Wajar dia bantuin aku kerja karena dia sama si Qadar adiknya numpang di sini! Kita kasih makan, tempat tinggal, kalau dia ngontrak harus bayar! Kalau mau itung-itungan!" Mira mulai emosi.
"Terus dia jualan juga udah dapat untung, dapat duit! Masalah pesanan aku membludak itu rezekynya aku gak ada hubungannya sama mereka! Aku yang di rugikan kok malah dia yang di bela!" geram Mira terus nyerocos.
"Rezeky yang datang ke rumah ini adalah hak untuk semua penghuni rumah ini. Tak hanya rezeky keluarga kita tapi juga ada rezekynya Qadar dan Laila di dalamnya! Dan masalah kerjaan, Laila gak itung-itungan sama kamu, coba kalau dia kerja di tempat orang mungkin dia udah punya gaji yang sepantasnya dan dia pasti bisa ganti uang kamu yang hilang itu! Tapi sekarang masalahnya Laila punya uang dari mana buat ganti uang mu itu huh? Udahlah jangan perhitungan jadi orang," kesal Handoko.
"Siapa yang perhitungan huh? Kamu atau aku? O.. aku tau dia kan sodara kamu jadi kamu lebih belain dia daripada Istrinya sendiri!"
"Astagfirullah Mira!" Handoko mengepalkan telapak tangan dengan geram namun dia sama sekali tak akan berani berlaku kasar pada istrinya itu.
"Sudah Paman, Bibi. Jangan bertengkar! Maafkan Laila." Lerai anak belia itu.
Mira menoleh tersenyum dengan sinis. Ia mendekat pada Laila.
"Sadar kalau kamu itu penyebab rusuh rumah tangga Paman dan Bibi mu? Makanya jadi anak itu harus tau diri!" Mira mendorong bahu Laila dengan telunjuknya.
Mira melengos masuk ke kamar, sementara Laila masih mematung di tempat dengan hati terluka dan bersedih.
__ADS_1
"Jangan dengarkan Bibi mu, kamu gak salah apa-apa kok!" Handoko berucap pelan.
Aldo dan Qadar yang baru datang bermain tampak menyaksikan keributan itu di ambang pintu ruang utama. Mereka tak berani masuk saat melihat orang dewasa sedang bertengkar.
Sedangkan Dita di kamar acuh tak acuh. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Hanya gawai, pacar, dan penampilan yang ada di pikirannya tak peduli hal lain. Kalau pun dia ikut nimbrung paling cuma ngomporin ibunya saja agar membenci Laila.
Laila segera ke belakang menuju kamarnya. Ia terus berpikir bagaimana caranya agar tidak merepotkan Paman dan Bibinya lagi. Dia harus cari cara untuk bisa hidup berdua dengan Qadar tanpa bergantung pada orang lain.
Tak ada lagi yang bisa dia andalkan, karena ayahnya saja sepertinya sudah tak ingin mengenalinya. Jangankan mengenali, mengakui saja ia tak mau! Laila seakan sedang terhempas di lautan dengan ombak bergelombang yang mengombang ambing dirinya tak tentu arah tujuan dan tak punya haluan.
Haruskah dia pergi dari rumah ini? Atau tetap bertahan sampai dia menemukan cara untuk bisa bertahan hidup bersama Qadar tanpa menyusahkan orang lain.
Tak ada tangis yang keluar dari mata gadis itu. Air matanya seakan sudah kering dan tak bisa keluar lagi. Habis oleh derita yang tak henti menerpa kehidupannya semenjak ibunya meninggal.
Padahal dulu saat hidup susah bersama ibu dia tak pernah merasakan sesakit ini. Ternyata keluarga adalah kekuatan dan harta yang paling berharga di dunia ini, dalam keadaan sesulit apapun tak akan terasa sesakit ini jika di hadapi bersama keluarga.
Terutama ibunya. Laila sangat merindukan sosok pahlawan wanita dalam hidupnya itu. Sosok yang tak pernah mengeluh meski penderitaan kerap kali menerpanya.
"Beritahu Laila Bu, bagaimana caranya agar Laila bisa seperti ibu!" Laila meraih foto ibunya mengelus kaca foto itu dengan lembut, menatap dengan tatapan nanar.
bersambung,
__ADS_1