Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 39


__ADS_3

Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dokter pun keluar dari ruangan.


"Gimana keadaan Qadar, Dok?" tanya Handoko.


"Alhamdulillah kondisi pasien kembali stabil. Tadi sempat drop namun hanya sebentar saja, mungkin pasien memberikan respon pada sugesti yang di berikan oleh orang yang menemaninya tadi. Bahkan sekarang pasien sudah siuman. Tapi saya sarankan agar menjenguknya secara bergilir karena kondisi pasien masih lemah, di dalam pun harus tetap steril demi kebaikan pasien," ucap Dokter.


"Alhamdulillah," kata mereka yang ada di sana secara bersamaan.


"Laila mau ketemu sama Qadar," ucapnya lirih.


"Iya kita masuk temui Qadar sekarang." Handoko memapah Laila masuk, tak lupa mereka menggunakan pakaian khusus agar kesterilan tetap terjaga.


Sementara Syarif dan Restu menunggu di luar. Mereka mulai merasa lega setelah mendengar kabar baik dari Dokter.


Qadar menoleh saat Laila dan Handoko masuk ke ruangannya.


"Qadar." Laila mendekat duduk di kursi yang berada di samping Qadar, menggenggam tangan adiknya. Rasa haru bercampur bahagia menyelimuti hati Laila.


Ia bersyukur karena Qadar akhirnya sadar. Laila hampir saja putus asa saat melihat keadaan Qadar beberapa menit lalu.


"Qadar, kakak senang kamu bangun. Cepat sembuh, dek! Kakak cemas," kata Laila mengulas senyum meski air mata masih berlinang di pipinya. Laila sudah berusaha agar tak menangis di depan Qadar tapi begitu sulit rasanya agar air mata itu tak mengalir di pipinya.


Perasaannya campur aduk antara panik dan kini bahagia karena kesadaran Qadar sudah kembali.

__ADS_1


"Memangnya apa yang terjadi sama aku, Kak?" Qadar sepertinya lupa jika ia sudah tertabrak saat mengejar ayahnya.


Laila dan Handoko saling bertukar pandang beberapa saat.


"Kamu ketabrak mobil. Alhamdulillah Allah masih menyayangimu yang akhirnya kamu selamat. Kami senang kamu sudah sadar sekarang," kata Handoko juga mengulas senyum, dia berdiri di samping Laila.


Qadar mencoba mengingat kejadian sebelum akhirnya ia berada di ranjang rumah sakit. Seketika melintas bayangan seseorang dalam benaknya.


"Ayah." Qadar mengedarkan pandangan meski gerakannya terbatas.


Laila mulai khawatir Qadar menanyakan Syarif ayah mereka.


"Kak, Ayah mana?" Qadar kembali bertanya.


Laila menoleh pada Handoko.


"Ada Paman, tadi Qadar dengar suaranya. Makanya Qadar bangun karena Qadar mendengar suara ayah," katanya yakin.


"Mungkin kamu bermimpi." Laila mengelus tangan Qadar.


"Tidak kak, Qadar yakin tadi mendengarnya," ucapnya.


"Sudah nak, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang kamu fokus dengan kesembuhan kamu dulu agar kita bisa berkumpul lagi." Handoko mengalihkan pembicaraan supaya Qadar tidak lagi bertanya tentang Syarif.

__ADS_1


Diam-diam Syarif mendengarkan pembicaraan mereka yang ada di dalam. Syarif berdiri di dekat pintu memastikan jika keadaan Qadar sudah benar-benar membaik.


Namun dia tak bisa masuk ke dalam. Dia tak mau membuat Qadar terus berharap padanya untuk bisa membawa Qadar hidup dengannya.


"Restu kita pulang sekarang!" ajak Syarif.


"Loh ayah gak mau temui Qadar dulu?" Restu merasa heran bahkan sedikit menuntut agar Syarif menemui Qadar sebelum mereka pulang.


"Ibu mu pasti gelisah menunggu kedatangan kita. Dia sangat khawatir. Besok-besok kita bisa temui Qadar. Nak, kamu sudah tidak pulang selama dua hari, ibu pasti mencemaskan keadaan mu." Syarif beralasan.


"Kita bisa chat ibu, bilang saja kalau ayah sudah menemukan aku," kata Restu.


"Tidak nak, ibumu pasti curiga. Kamu mau ayah sama ibu bertengkar lagi?" ujar Syarif.


"Baiklah, kita pulang. Tapi aku minta ayah harus kembali menjenguk Qadar. Kasihan dia, dia sangat ingin bertemu dengan ayah," pinta Restu.


Syarif mengangguk ragu, ia segera merangkul bahu Restu menggiringnya pergi meninggalkan tempat itu.


Handoko berjalan keluar, ia berniat memanggil Syarif memintanya untuk menemui Qadar satu kali lagi. Namun saat melihat Syarif berjalan pergi bersama Restu di koridor Rumah Sakit, Handoko pun mengurungkan niatnya. Sudah di pastikan Syarif tak ingin menemui Qadar lagi. Handoko tampak geram melihat tingkah Syarif yang tampak acuh seakan tak mempedulikan kesehatan Qadar anaknya.


Handoko kembali masuk dengan menekuk wajah. Laila yang melihat itu sudah bisa menebak apa yang di lihat Handoko di luar sana. Ayahnya pasti sudah tak ada di depan ruangan Qadar.


Laila makin kecewa dengan sikap ayahnya yang tampak tak peduli pada Qadar dan dirinya. Berapa kali ia harus di kecewakan oleh sosok bergelar Ayah itu. Rasa sakit yang dulu saja belum sembuh, malah makin bertambah setiap kali ia bertemu dengan sosok ayahnya. Laila lelah dengan semua ini. Laila bisa berhenti mengharapkan ayahnya tetapi bagaimana dengan adiknya, Qadar?

__ADS_1


Mungkin akan lebih sulit bagi adiknya itu untuk berhenti memikirkan ayah mereka. Buktinya saat tak sadarkan diri saja Qadar bisa merasakan keberadaan Syarif. Sepertinya akan berat bagi Qadar menerima kenyataan ini.


bersambung,


__ADS_2