Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 22


__ADS_3

Wanita tua yang semula membawa keranjang takjil ke dapur kini sudah kembali.


Ambar memberikan sejumlah uang pada Dita, membayar takjil yang ia pesan.


Dita pun meraih uang tersebut memasukannya ke dalam saku celana. Sementara Laila mengambil keranjang dari tangan si Mbok.


"Kami pamit Tante, Om, Restu!" ucap Dita pada mereka.


Sesaat sebelum Laila keluar dari rumah itu, ia dan Syarif sempat bersitatap sekejap lantas saling membuang muka.


Syarif merasa lega saat Laila meninggalkan kediamannya dan tak mengatakan pada Ambar jika sebenarnya dia adalah anak kandung hasil dari pernikahan Syarif dengan Marni.


Laila dan Dita pun pergi meninggalkan rumah mewah tersebut. Mereka harus mengantarkan beberapa pesanan ke pelanggan lain. Sementara pesanan dari kantor Handoko sudah di bawa oleh rekan kerja Handoko ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang Laila hanya diam, menata hatinya agar tiba di rumah nanti dia tak lagi bersedih karena sikap ayahnya tadi.


Seketika Laila ingat pada almarhumah ibunya. Apakah ibu tau semua ini? Jika memang beliau tau, artinya selama ini Marni ibunya telah menutupi keburukan Syarif di depan Laila dan Qadar. Bisa Laila bayangkan sakit hati ibunya, mungkin lebih sakit dari apa yang Laila rasakan saat ini.


Laila hanya menyerahkan semuanya pada Allah, apapun yang terjadi pada keluarganya semua atas kehendakNya. Laila yakin suatu saat nanti Allah akan menggerakan hati Syarif ayahnya hingga Syarif sadar dan mau mengakui anak-anaknya. Meski entah kapan hal itu terjadi tapi Laila yakin dan percaya Allah mampu membolak balikan hati manusia.


Tiba di rumah Laila bergegas ke dapur menyimpan keranjang setelah itu masuk ke kamarnya.


"Kak Laila sudah pulang?" Qadar baru saja selesai sholat ashar. Ia melipat kain sarung dan di simpannya di atas meja.

__ADS_1


Laila mengangguk lalu duduk di tepi ranjang, masih menenangkan hatinya yang sesak.


Qadar duduk di sebelah Laila menatap wajah Laila yang tampak letih.


"Kakak pasti capek, biar aku pijit." Qadar menggeser duduknya dan memijat bahu kakaknya.


Tangan mungilnya bergerak-gerak memijat bahu Laila.


"Kamu pintar mijit juga rupanya," puji Laila.


"Iya dong, Qadar kan suka liat kakak pijitin ibu. Qadar juga suka bantu mijit kan!" celotehnya tanpa tau apa yang saat ini sedang Laila rasakan.


Tak bisa Laila bayangkan jika suatu hari Qadar tau kenyataan tentang ayah mereka.


"Kak Laila sakit?" tanya Qadar membuyarkan lamunan Laila.


"Enggak kok gak sakit. Kakak ambil wudhu dulu, udah terlambat waktu sholat." Laila bangkit dari duduknya berjalan keluar menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Qadar hanya memandanginya hingga Laila menghilang dari balik pintu.


Banyak pertanyaan memenuhi benak Qadar sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Laila kakaknya.


Qadar menunggu Laila yang tengah mengambil wudhu. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Hingga tatapannya berhenti di satu titik, selebaran kertas yang berisi gambar foto ayahnya terselip di salah satu laci.

__ADS_1


Perlahan Qadar berjalan mendekat membuka laci dan mengambil tumpukan lembaran kertas tersebut. Hanya beberapa saja yang ia ambil. Lantas Qadar berjalan keluar menuju ruangan televisi tanpa menunggu Laila kembali ke kamar.


Qadar celingukan tak ada siapapun di ruangan itu. Sepertinya Dita dan Mira sedang berada di kamar masing-masing. Qadar pun berjalan keluar rumah hendak menempelkan selebaran itu di sekitar komplek. Sambil menunggu waktu magrib tiba.


Kebetulan sekali saat yang bersamaan Handoko muncul. Mata Qadar langsung berbinar, ia mendekati pamannya.


"Kamu pegang apa Qadar?" tanya Handoko sambil membuka sepatu.


Qadar menunjukkan lembaran kertas tersebut pada Handoko.


"Loh ini selebaran itu kan? Kenapa masih ada di rumah? Apa kalian belum menempelkannya di tempat umum?" tanya Handoko heran seraya meraih kertas tersebut dari tangan Qadar.


"Sepertinya Kak Laila terlalu sibuk jadi dia belum sempat menempelkan selebaran ini," jawab Qadar.


"Paman bisa bantu kami untuk menyebarkan selebaran ini?" tanya Qadar pada Handoko.


"Baiklah, nanti Paman akan tempelkan di tempat-tempat umum saat Paman berangkat kerja besok." Handoko memasukan kertas itu ke dalam tas kerjanya.


Sementara di dalam Laila yang baru saja masuk kamar celingukkan saat tak mendapati Qadar di sana.


"Kemana dia?" ucap Laila seraya meraih sajadah dan mukena yang berada di atas meja dekat sarung Qadar.


"Mungkin dia lagi nonton TV atau ngabuburit bareng Aldo," gumamnya lantas mulai mengenakan mukena setelah sebelumnya menggelar sajadah.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2