Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 47


__ADS_3

Qadar baru saja pulang dari sekolah. Kini ia berada di satu tempat yang mana tempat itu seringkali ia datangi setiap saat.


Qadar berdiri menatap pintu gerbang yang mulai usang di makan waktu. Rumah Syarif berdiri kokoh di antara rumah yang berderet di komplek elit itu, tampak tak terurus.


Dari dulu Qadar sering diam-diam datang ke rumah itu untuk memastikan ada atau tidak Ayahnya di sana. Tanpa sepengetahuan Laila dan yang lainnya.


Rumput di halaman rumah itu memang terkadang bersih seperti ada yang habis memotongnya, namun cat rumah itu terlihat sudah lapuk dan berlumut. Mungkin ada tukang kebun yang di perintahkan keluarga ayahnya untuk merawat halaman rumah itu. Tapi tidak dengan bangunannya. Entahlah, itu hanya perkiraan Qadar saja. Bahkan dia tak pernah bertemu dengan orang yang membersihkan halaman rumah tersebut. Jika saja ia di pertemukan dengan orang itu, maka Qadar pasti akan bertanya pada orang itu tentang dimana keberadaan ayah nya saat ini.


Sementara itu di bandara internasional satu keluarga tampak baru saja mendarat dari pesawat dan kini mereka masuk ke salah satu mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Pak Karjo!" sahut Ambar melambaikan tangan pada pria berusia sekitar 50 tahunan yang mengenakan pakaian seragam sopir serba hitam.


Pria itu menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya.


Segera ia mendekat dan membantu Ambar membawa beberapa koper besar memasukan ke dalam bagasi mobil.


Restu yang saat ini berusia 27 tahun pun mengedarkan pandangan ke sekeliling. 10 tahun lamanya ia meninggalkan kota ini dan sekarang untuk pertama kalinya ia kembali menginjakan kaki di tanah kelahirannya ini.


Rasa rindu akan tempat yang sudah menyimpan banyak kenangan membuatnya bahagia bisa kembali melihat langit di kota ini.


Restu bergegas masuk ke dalam mobil setelah Syarif dan Ambar lebih dulu masuk ke dalam mobil berwarna biru itu.

__ADS_1


"Kita balik ke rumah lama atau... "


"Rumah itu sudah aku jual, kemungkinan lusa orangnya mulai pindah dan menempati rumah lama kita. Sekarang kita akan tinggal di apartemen saja, di sana keamanan lebih terjaga dan ketat. Jadi aku tak perlu khawatir lagi akan ada orang yang bisa mengganggu kesehatan mu," kata Ambar memotong kalimat Syarif.


"Jadi ibu masih berpikir kalau Laila dan Qadar adalah penyebab penyakit ayah? Kan Dokter sudah menjelaskan kalau Ayah sudah lama mengidap penyakit itu, jadi bukan karena mereka." Restu menoleh ke jok belakang dimana ibu dan ayahnya duduk.


"Tapi kehadiran mereka bikin jantung ayah kamu kumat dan tambah parah. Bersyukur sekarang ayah mu sudah sembuh, jadi ibu gak mau lagi ayahmu bertemu dengan mereka di kota ini. Kalau saja tak ada urusan bisnis, malas sekali harus kembali ke sini!" kata Ambar keras kepala.


Restu menghela napas panjang mendengar perkataan ibunya yang selalu menyalahkan Laila dan Qadar atas penyakit yang di derita ayahnya. Berdebat pun rasanya hanya akan memperkeruh keadaan. Restu lebih memilih diam daripada meladeni omongan ibunya, hanya nambah dosa saja.


Mobil berwarna biru itupun melaju membelah jalanan raya menerobos hiruk pikuk keramaian kota. Sepuluh tahun berlalu banyak hal yang berubah di kota ini. Restu menikmati sepanjang perjalanannya sambil melayangkan pandangan ke luar kaca jendela mobil.


"Nah itu dia gedung PT. Nusantara. Kita bakal kerja sama dengan perusahaan itu." Restu menunjuk sebuah gedung pencakar langit yang berada di ruas kiri jalan yang sedang mereka lewati.


"Besar sekali ya, perusahaan nya?" kata Ambar.


"Iya Bu, perusahaan itu melesat maju semenjak kita pergi ke Singapura. Awalnya perusahaan mereka berada di luar kota, dan sekarang sudah mulai merambah kemana-mana cabang nya." Restu tampak bersemangat dan tak sabar untuk bertemu dengan pemilik perusahaan itu yang katanya CEO perusahaan itu seumuran dengannya.


Sejak mereka tinggal di Singapura, Ambar menitipkan pengelolaan perusahaan peninggalan ayahnya pada sepupunya. Satu-satunya orang yang bisa ia percaya. Namun saat tau sepupunya itu meninggal, ia pun terpaksa harus kembali ke kota ini. Beruntung Restu sudah mengenyam pendidikan di Singapura, Ambar sudah tak meragukan lagi kemampuan Restu untuk meneruskan perusahaan keluarga nya.


Mobil mereka menepi di basemant sebuah apartemen. Segera mereka turun dari mobil, sopir mereka pun tampak sibuk menurunkan koper majikan nya.

__ADS_1


"Bu, Ayah. Aku jalan-jalan sebentar ya! Kangen banget sama kota ini," pinta Restu.


Ambar menunjukan ekspresi curiga pada Restu.


"Jangan-jangan kamu mau menampakan diri di depan anak-anak Marni? Biar mereka tau kalau ayah mereka sudah kembali ke kota ini!" tuding Ambar.


"Ibu ini kok suudzon, orang cuma mau jalan-jalan keliling sini saja, aku kangen karena udah lama gak pulang ke kota kelahiran. Kalau udah puas, aku pulang kok." Restu meyakinkan.


"Ya udah sana. Awas kalau berbohong, ibu pasti akan tau! " ancam Ambar seraya melenggang pergi menuju pintu apartemen.


Syarif tak banyak bicara, dia tak mau memicu pertengkaran dengan istrinya. Selama sepuluh tahun, Syarif merasa rindu pada kedua anaknya. Semula ia pikir penyakit yang di derita akan merenggut nyawanya, ia terlalu pesimis. Nyatanya sampai detik ini dia masih hidup, Allah masih memberikan kesempatan untuknya meminta maaf pada anak-anak nya.


Syarif harus mencari cara agar bisa bertemu mereka suatu saat, tapi tentu tanpa sepengetahuan Ambar. Di terima atau tidak ia oleh kedua anaknya, itu urusan nanti. Yang jelas ia hanya ingin bertemu dan meminta maaf pada Laila dan Qadar karena sudah banyak menyakiti mereka berdua.


Sopir pribadi memberikan kunci mobil pada Restu. Restu pun segera melajukan kendaraan tersebut keluar dari basemant apartemen Green leaves.


Restu merasa kangen pada teman-teman masa sekolahnya dulu. Saat pindah dia belum sempat bertemu dengan mereka. Karena saat itu Pamannya yang mengurus semua kepindahan nya ke Singapura.


Restu masih penasaran apakah Laila dan Qadar masih tinggal di Agria Regency atau bahkan sudah pindah? Dan seperti apa sekarang mereka? Restu sangat ingin melihat Qadar besar.


Restu mengemudikan mobilnya ke arah Agria Regency. Dia mungkin tak akan mendatangi rumah Handoko, dia hanya ingin lewat saja di komplek itu sambil mengenang masa lalu yang pernah ia lalui bersama Laila.

__ADS_1


Di sekitar gerbang menuju perumahan tersebut, Restu teringat masa lalu saat ia dan Laila berjualan takjil di pinggir jalan. Kala itu keduanya sama-sama belum tau jika Syarif adalah ayah mereka. Restu menyunggingkan senyum mengingat kenangan itu. Rasa rindu pada Laila makin mengganggu pikirannya. Entah perasaan rindu layaknya seorang kakak kepada adiknya atau perasaan lain? Restu seakan sulit memastikan perasaannya itu.


bersambung,


__ADS_2