
Seperti hari biasanya sepulang sekolah Qadar pasti menyempatkan diri mengunjungi rumah bekas Syarif dulu.
Qadar menghentikan motor matic yang ia kemudikan di sebrang rumah tersebut. Kedua alisnya saling bertaut saat melihat ada satpam penjaga di sana, bahkan tak hanya itu keadaan rumah itu pun tampak seperti berpenghuni. Tidak seperti sebelumnya di biarkan kosong dan terbengkalai.
Qadar turun dari motor menghampiri satpam yang sedang berjaga di sana.
"Permisi Pak!" sahut Qadar.
Satpam itu menoleh menatap Qadar dengan menelisik.
"Cari siapa dek?" tanya Satpam itu sedikit ketus.
"Saya mau ketemu sama Pak Syarif. Ini rumah beliau 'kan? Pak Syarif sudah datang dari luar negeri ya?" tanya Qadar merasa cukup senang, setelah sekian lama akhirnya ia akan bertemu ayahnya.
"Bukan. Pemilik rumah ini bukan Pak Syarif." Satpam itu menjawab tegas.
Qadar sempat tak percaya karena bisa saja ayahnya sengaja tak ingin di temui oleh siapapun terutama dirinya.
Qadar masih mematung berdiri di depan pos satpam dengan mata celingukan ke dalam sana, membuat satpam itu curiga pada Qadar, mengira jika anak ini mau berbuat macam-macam.
"Ngapain masih berdiri di situ?" ketus satpam.
"Beneran bukan rumah Pak Syarif? Karena setau saya dulu ini rumah beliau," kata Qadar masih kekeh.
Satpam itu geleng-geleng kepala tak habis pikir jika anak berseragam SMA itu tak bisa dibilangin olehnya.
"Gak percaya? Atau jangan-jangan kamu mau nyuri ya di rumah ini?" tuding satpam berperawakan peot itu.
__ADS_1
"Astagfirullah. Mana mungkin saya nyuri nyapa Bapak dulu, Pak? Ada-ada aja Bapak ini." Qadar cukup geram di tuding demikian.
"Ya kali mau hipnotis," cetus satpam itu sambil mencibir.
"Ya ampun, Pak! Gak liat seragam saya ini?" Qadar mulai terpancing emosi.
"Bisa aja, jaman sekarang banyak motifnya." Satpam itu masih terus memojokkan Qadar.
Tiiiddd!
Bunyi klakson mobil menghentikan perdebatan mereka. Segera satpam tadi keluar dari pos berniat membuka gerbang untuk majikannya.
Gerbang pun di buka. Qadar masih mematung di tempat memandangi siapa yang ada di dalam mobil sedan tersebut.
Seketika yang mengemudikan mobil pun menurunkan kaca jendela mobil saat merasa ada seseorang asing memperhatikan dirinya.
"Kamu siapa?" seorang gadis berpakaian seragam SMA swasta bertanya pada Qadar. Gadis itu yang mengemudikan mobil tersebut.
"Saya Qadar, saya cari Pak Syarif. Yang saya tau beliau tinggal di sini," jawab Qadar tak memperdulikan celotehan satpam menyebalkan itu.
Gadis yang masih berada di belakang kemudi pun tampak berpikir sejenak mengingat nama Syarif yang di sebut oleh cowok seumurannya itu.
"Sepertinya orang yang kamu cari sudah menjual rumahnya sama orang tua aku. Soalnya aku baru pindah ke rumah ini, mungkin Pak Syarif pemilik lama rumah ini," jelas gadis berambut curly itu.
Qadar rasa ucapan gadis itu ada benarnya, bisa saja ayahnya menjual rumah ini dan mereka pindah ke luar negeri. Harapan Qadar untuk bertemu dengan sang ayah pun tampaknya hanya tinggal angan-angan.
Melihat Qadar melamun gadis itu membunyikan klakson hingga Qadar dan satpam itu terjingkat kaget.
__ADS_1
"Astaga!" Qadar mengelus dadanya saking kagetnya.
Sementara gadis itu malah tergelak melihat wajah Qadar yang lucu saat terkejut.
"Sorry, kaget ya?" Gadis berlesung Pipit itu terus tertawa kecil sementara Qadar menatapnya sambil menetralisir degup jantungnya yang hampir saja copot.
"Ya udah aku masuk. Bye!" gadis itu melajukan mobil ke dalam pintu gerbang yang sedari tadi sudah terbuka lebar oleh satpam penjaga rumah.
Qadar tetap mematung ditempatnya memandangi mobil gadis itu yang lambat laun lenyap dari pandangan.
"Ngapain masih di situ? Belum jelas apa perkataan Neng Aulia tadi?" ketus satpam penjaga dengan wajah songong ia menutup gerbang keras-keras membuat Qadar kembali kaget di buatnya.
''Syukurin!" gumam satpam itu saat melihat Qadar terkejut akibat ulahnya.
Merasa tak ada lagi yang bisa Qadar lakukan di sana. Ia pun bergegas menuju motor maticnya dan berlalu dari kawasan komplek elit itu.
Bayangan ayahnya menggelembung dalam pikiran Qadar. Apakah Qadar tak akan pernah lagi bertemu dengannya? Mungkinkah Syarif masih berada di luar negeri bahkan tak akan kembali lagi kesini? Berbagai asumsi berkelebat dalam benak Qadar.
Ada rasa kecewa dan sedih. Selama ini dia terus menanti untuk bertemu kembali dengan sosok ayahnya, rasa rindu sejak dulu yang sulit luruh meski sudah bertahun-tahun lamanya. Tak peduli seburuk apapun sikap Syarif terhadapnya, Qadar hanya ingin bertemu dan tak akan mengharapkan apapun. Asalkan memastikan dan melihat ayahnya sehat saja itu sudah cukup mengobati rasa rindu Qadar. Tapi mungkin takdir berkata lain, Qadar harus siap menerima kenyataan pahit jika ia tak akan lagi bertemu dengan sang Ayah sampai kapanpun, batinnya.
Di perusahaan PT. Nusantara.
Restu sedang berjalan tergesa menuju ruangan Julian. Hari ini Restu akan membicarakan bisnis antara perusahaannya dengan PT. Nusantara.
Restu melirik arloji meyakinkan jika ia tak terlambat menemui Julian. Mengingat perkataan sekertarisnya jika jadwal Julian padat hari ini, maka ia tak boleh telat sedikitpun. Jika tidak bisa-bisa ia tak akan bertemu dengan Julian karena mungkin Julian akan membatalkan pertemuan mereka.
Saat Restu fokus melihat arlojinya ia tak menyadari jika telah berpapasan dengan Laila di koridor kantor. Laila pun tampak sibuk dengan map yang baru saja ia bawa dari ruangan Julian. Laila juga fokus dengan isi map itu dan tak memperhatikan jalan yang di lewati nya tak juga melihat siapa saja yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
Setelah mereka saling berpapasan dan saling membelakangi, baru keduanya mendongakan wajah hingga pertemuan mereka pun sama-sama tak mereka sadari.
bersambung,