Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 41


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar berulang, Mira beranjak malas dari tempat duduknya. Dia yang sedang asyik menonton televisi sore itu seakan tak mau di ganggu oleh sekedar tamu yang datang di luar sana.


Sebelum membuka pintu Mira sempat mengintip terlebih dahulu lewat jendela ruang utama, melihat siapa yang bertamu ke rumahnya di waktu sore hari seperti ini. Di saat yang lain sibuk mempersiapkan makanan berbuka, ini malah bertamu ke rumahnya, pikir Mira dengan kesal.


"Hah!" Mira membulatkan mata sambil menutup mulut dengan sebelah tangan.


Rupanya Syarif yang berada di luar sana. Segera wanita itu membuka pintu rumah dengan secepat kilat.


"Syarif? Tumben datang kesini, ada apa?" tanya Mira. Pikirannya mulai menerka-nerka jika Syarif datang ke rumahnya untuk memberikan uang bulanan untuk kedua anaknya.


"Mana Handoko?" Syarif balik bertanya.


"Oh dia belum pulang, paling sebentar lagi. Mau tunggu dia pulang?" Mira melirik sekilas jam dinding yang terpajang di salah satu tembok ruang utama.


"Aku tunggu di luar. Dia gak lama kan pulangnya?"


"Tidak, paling lima atau sepuluh menit lagi dia datang," jawab Mira seraya berjalan keluar dan mempersilahkan Syarif duduk di kursi teras.


"Kalau boleh tau, ada keperluan apa sama suami saya? Apa ada hubungannya sama Laila dan Qadar?" tanya Mira penasaran.


"Aku ingin agar Handoko memulangkan mereka ke kampung, supaya kehidupan aku dan keluargaku tenang. Selama ada mereka di kota ini, aku jadi sering bertengkar dengan istriku," jelas Syarif.


"Apalagi aku yang serumah sama mereka. Aku juga sering bertengkar sama suamiku gara-gara anak kamu itu!" gerutu Mira dengan mulut mengerucut.


"Jadi kita sama-sama terganggu oleh keberadaan mereka? Kalau gitu bujuk suami mu agar memulangkan mereka ke kampung," ujar Syarif memprovokasi.


"Kamu gak sayang sama mereka? Mereka itu anak kamu loh, anak kandung kamu." Mira menatap miris, meski dia tak menyukai keberadaan Laila dan Qadar yang tinggal menumpang di rumahnya tapi bukan berarti membenarkan sikap Syarif. Justru harusnya Syarif yang membawa pergi kedua anak itu dari rumahnya.


"Bukan aku gak sayang, hanya saja aku tak ingin keberadaan mereka mengganggu ketenangan keluargaku. Aku bisa kirim mereka uang setiap bulannya, yang penting mereka tak lagi muncul di hadapan Restu dan Ambar."


Mira manggut-manggut mendengar penjelasan Syarif.


"Memangnya siapa yang mengganggu rumah tangga ayah? Hidup aku dan Qadar di sini sudah tenang dan sudah tak mengharapkan keberadaan ayah lagi. Aku dan adikku juga tak pernah berniat menghancurkan rumah tangga ayah." Tiba-tiba Laila datang, dia baru saja pulang selepas berjualan takjil.


Kedua orang dewasa itu menoleh ke arah Laila yang kini mulai berjalan mendekat.


"Tapi selama kalian ada di sini, Restu terus meminta ayah agar membawa kamu tinggal di rumah. Ayah gak bisa karena Istri Ayah tak mengizinkan. Kamu tau, di sana ayah juga cuma numpang hidup sama istri ayah. Malu kalau harus memboyong kalian apa lagi tanpa seizin darinya, " kata Syarif.

__ADS_1


Seketika mobil Handoko muncul berhenti di depan rumah. Handoko turun saat melihat ada Syarif di rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya Handoko.


"Ini loh Syarif mau agar kamu memulangkan anak-anak ke kampung." Mira mewakili Syarif menjawab pertanyaan Handoko.


"Kenapa kamu gak bilang sama dia kalau aku tak mungkin memulangkan mereka ke sana? Lagian aku juga gak akan merepotkan orang ini untuk mencukupi kehidupan anak-anak nya," kata Handoko dengan nada marah.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, urus saja hidupmu dengan keluarga mu itu! Tak perlu merasa terhalangi atau terganggu dengan keberadaan Laila dan Qadar. Mereka sudah bukan anak mu lagi, anggap saja begitu. Kehidupan mereka sudah nyaman di sini, jadi kamu tak usah menampakan diri lagi di hadapan kami!" tegas Handoko.


Syarif tersenyum kecut, ia segera berlalu dari hadapan mereka.


Setelah mobil Syarif melaju pergi, Handoko bergegas mengajak Mira dan Laila masuk ke dalam rumah.


"Hari ini aku punya kabar baik. Aku naik jabatan dan gajiku juga sudah pasti naik. Aku rasa Allah sudah memberikan kemudahan untuk keluarga kita, dengan adanya Laila dan Qadar keuangan kita justru semakin mudah dan lancar. Apa kamu berpikir demikian Mira?" kata Handoko.


Mira hanya menekuk wajah tak menjawab apapun.


"Kalau kamu masih berpikir Laila sama Qadar hanya merepotkan kita, maka buang jauh pikiranmu itu. Kamu lihat betapa berbaktinya Laila selama ini membantumu menjual takjil tanpa mengeluh sekalipun, membantu mu membereskan pekerjaan rumah, dia tak pernah membangkang ucapanmu. Kurang apa dan salah apa anak ini padamu? Harusnya kamu bersyukur dengan adanya Laila, dia bisa meringankan pekerjaan mu." Handoko menasihati istrinya agar sadar jika selama ini sikap buruk istrinya terhadap Laila itu salah.


Mira hanya diam. Keuangannya akhir-akhir ini memang membaik tak seperti biasanya.


"Setiap anak itu membawa rezeky masing-masing. Dalam rezeky yang kita dapat juga ada rezeky mereka di dalamnya. Aku tau kamu istri yang baik, mau membantu keuangan keluarga membantu suaminya mencari nafkah untuk bisa mencukupi kehidupan sehari-hari kita. Aku sangat berterima kasih akan hal itu, dan aku hanya minta satu. Terima Laila dan Qadar dengan baik, anggap mereka itu anak-anak mu juga," pinta Handoko.


Mira mencerna ucapan Handoko barusan. Selama ini memang Mira lebih banyak santai karena pekerjaan rumah banyak terbantu oleh Laila belum lagi jualan yang setiap harinya laku terus. Mungkin benar apa yang di katakan suaminya jika keberadaan Laila dan Qadar membawa rezeky bagi keluarganya.


"Ya sudah, maafkan aku kalau selama ini aku bersikap buruk sama Laila. Maafin bibi, Laila." Mira merangkul Laila membawa gadis itu dalam pelukannya.


"Laila yang minta maaf karena sudah banyak merepotkan bibi sama Paman. " Laila meneteskan air mata.


"Bibi tau selama ini Laila membantu bibi karena Laila sudah menganggap bibi sebagai pengganti ibu bagi Laila, makanya apapun yang Laila kerjakan semata-mata untuk berbakti terhadap bibi," lanjutnya terisak.


"Tidak nak, jangan nangis. Kalau kamu nangis bibi juga jadi ikut nangis, bibi harusnya bisa merasakan posisi kamu saat ini karena bibi juga dulu berada di posisi yang sama seperti mu, hanya saja bibi di tinggal pergi oleh ayah bibi karena beliau meninggal sejak bibi kecil. Maafkan bibi," kata Mira sambil mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir deras merasa banyak sesal yang menyesakan dada.


"Alhamdulillah. Makasih Mira, akhirnya kamu bisa menerima Laila dan Qadar. Sebagai hadiahnya aku kasih kamu ini!" Handoko mengeluarkan kalung emas dari tasnya membuat Mira membulatkan mata karena terkejut.


"Kamu serius?"

__ADS_1


"Serius lah! aku sudah dapat THR dari kantor, ini kalung hadiah buat kamu karena sudah mau menerima keponakan ku untuk tinggal di sini dan sudah menjadi istri yang baik yang selalu membantu keuangan ku selama ini," kata Handoko.


"Makasih!" Mira menerima kalung itu dari tangan Handoko.


"Mau Laila bantu pakaikan kalungnya?" ucap Laila.


"Boleh." Senyum mengembang di bibir Mira, ia bahagia juga terkejut menerima hadiah dari suaminya.


"Nah uangnya udah aku transfer ke rekening kamu, buat belanja baju lebaran sama buat beli makanan, kue atau apalah terserah kamu. Asal jangan lupa belikan juga Laila dan Qadar baju baru, " ucap Handoko.


"Tentu saja pasti aku belikan. Mulai sekarang Laila dan Qadar adalah anak-anakku." Mira kembali merangkul bahu Laila.


Seketika Dita keluar kamar mendengar obrolan mereka.


"Ada apa nih? Lebarannya belum udah maaf-maafan," kata Dita seenaknya.


"Tak perlu menunggu lebaran saja buat maaf-maafan." Handoko mengingatkan putrinya.


"Mulai sekarang kamu juga harus banyak belajar dari Laila. Bantu ibumu kalau lagi repot, lihat Laila sudah tak punya ibu. Coba kamu posisikan diri kamu jadi Laila, apa kamu bisa kuat seperti dia?" kata Handoko menasihati anaknya.


"Ya beda lah, ayah nyumpahin ibu mati apa?" ketus Dita.


"Bukan gitu maksudnya." Handoko geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadisnya itu.


"Biar nanti aku yang bicara sama dia. Aku memang terlalu memanjakan Dita, ini salahku," kata Mira.


"Ya sudah bentar lagi buka, siapkan makanan biar kita buka sama-sama." Handoko beranjak dari sana menuju ke kamar untuk membersihkan diri.


"Dita, tolong kamu siapkan makanan untuk buka puasa." Mira kali ini menyuruh Dita putrinya.


"Laila, kamu mandi dulu. Pasti kamu capek pulang jualan," kata Mira pada Laila.


"Iya Bi." Laila pun melangkah menuju kamarnya.


Dita dengan malas menuruti perintah ibunya tadi menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2