Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 44


__ADS_3

Selepas melaksanakan shalat Ied, Handoko dan keluarga saling bermaaf-maafan. Handoko duduk di salah satu kursi dan Mira berada di sebelahnya.


Dita, Laila, Aldo, dan Qadar sungkem kepada mereka. Suasana haru di selimuti tangis pun menghiasi rumah tersebut.


"Maafin Laila Paman, selama ini Laila banyak merepotkan Paman. Maaf bila Laila sudah banyak berbuat salah sama Paman," ucap Laila bersimpuh di hadapan Handoko.


"Maafkan Paman juga belum bisa memberi yang terbaik buat kamu. Paman akan selalu mendoakan kamu agar kelak menjadi orang sukses dan segala cita-cita mu tercapai." Handoko mengelus kepala Laila yang selalu tertutup hijab.


Laila bergeser posisi kali ini ia memeluk erat Mira, naluri keibuan Mira pun tersentuh.


"Maafkan Bibi Laila." Mira meraung, menangis mengingat perbuatan buruknya selama ini terhadap Laila.


"Selama ini Bibi selalu bersikap buruk sama kamu, bibi banyak salah sama kamu dan Qadar," lanjutnya dengan penuh penyesalan.


"Tidak Bi, justru Laila yang seharusnya minta maaf sama Bibi. Laila banyak menyusahkan Bibi semenjak tinggal di sini. Bagi Laila Bibi adalah pengganti Ibu, dan Laila bersyukur dengan adanya bibi dalam hidup Laila dan Qadar. Kami masih bisa merasakan kasih sayang ibu dari Bibi. Marahnya bibi adalah bentuk kasih sayang bibi terhadap kami, bibi memberi kami banyak pelajaran hingga kami bisa sekuat sekarang," kata Laila yang juga menangis tersedu-sedu.


Usai saling bermaafan mereka pun menyantap makanan yang sudah di sediakan Mira di meja makan. Mereka tampak bersuka cita merayakan hari kemenangan ini setelah selama sebulan penuh berpuasa.


Seperti yang di katakan Mira, hari ini mereka akan langsung pulang ke kampung. Semua sudah masuk ke dalam mobil, barang-barang, makanan dan oleh-oleh untuk orang di kampung pun sudah semuanya di masukan ke dalam mobil. Laila, Aldo, Dita dan Qadar tampak girang karena bagi mereka kali ini tak hanya pulang kampung tetapi sekalian jalan-jalan di hari lebaran. Yang mungkin perjalanan mereka tidak akan macet seperti biasanya. Jalanan akan terasa lengang di hari lebaran.


Mobil mereka pun melaju meninggalkan komplek perumahan.


"Qadar mau ke rumah ayahnya dulu katanya," ucap Mira yang duduk di samping Handoko.


Handoko sudah tau sebelumnya keinginan Qadar tersebut, Mira sempat bicara padanya semalam sebelum tidur.


"Baik kita ke sana. Semoga di hari lebaran ini mereka membuka hati mereka untuk menerima kedatangan kita." Handoko melajukan mobilnya ke arah rumah Syarif.


"Aamiin. Kita memang harus berpikir positif, apalagi di hari raya begini," ucap Mira merasa lega.


Detik kemudian mobil mereka berhenti di depan rumah mewah di sebuah komplek elit. Keadaan tampak sepi sekali di sana.

__ADS_1


Mereka pun turun dari mobil dan berjalan mendekat menuju pintu gerbang rumah tersebut.


Di lihat dari luar keadaan rumah itu terlihat begitu sepi seperti tak berpenghuni. Bahkan di pos satpam penjaga pun tampak tak ada orang. Sangat aneh sekali.


Tak sengaja ada ketua RT yang kebetulan lewat di depan rumah itu dan melihat mereka yang sedang kebingungan mencari keberadaan Syarif dan keluarganya.


"Permisi!" seru ketua RT pada mereka.


"Pak, cari siapa ya?" tanya nya pada Handoko.


"Kami mau bertamu ke rumah ini. Tapi sepertinya yang punya rumah sedang tidak ada di rumah ya?" kata Handoko.


"Maksudnya Pak Syarif sama Bu Ambar?" ucap ketua RT itu.


"Iya Pak, bapak kenal mereka?"


"Kebetulan saya ketua RT di sini. Jadi saya tau warga sini," ucapnya.


"Pak Syarif dan keluarganya sudah lama pergi pak, sebelum lebaran mereka pergi ke luar negeri kalau gak salah. Tapi belum ada kejelasan mau pindah apa gimana, soalnya mereka belum pulang sampai sekarang," kata pria yang mengaku sebagai ketua RT itu.


"Ke luar negeri?" Handoko dan yang lain saling lirik satu sama lain.


"Saya juga tau dari satpam yang jaga rumah ini, mungkin hari ini dia gak masuk karena lebaran." Ketua RT itu kembali menjelaskan apa yang di ketahui olehnya.


"Oh kalau gitu makasih informasinya ya, Pak!" ucap Handoko.


"Sama-sama. Bapak ini siapanya Bu Ambar kalau boleh tau? Biar nanti saya sampaikan sama satpam yang jaga rumah ini kalau dia datang," kata ketua RT itu.


" Kami saudaranya. Ya sudah kami permisi dulu, terimakasih!"


"Sama-sama, Pak!"

__ADS_1


Ada raut kecewa dari wajah Qadar namun mau bagaimana lagi, Syarif tak ada di sana dan menurut kabar dari orang tadi Syarif pergi ke luar negeri bersama keluarganya. Entah untuk apa mereka pun tidak tau.


"Jangan sedih, nanti pulang dari kampung kita bisa kesini lagi. Kan sekarang kamu mau ziarah ke makam ibu," hibur Laila pada Qadar.


"Benar kata kakakmu, jangan sedih ya!" Mira mengelus rambut Qadar berusaha menghibur hati anak itu.


"Jangan sedih Qadar!" kata Dita yang juga ikut mengelus bahu sepupunya.


"Kak Qadar, harus tersenyum." Suara Aldo yang lucu membuat Qadar mengukir senyum di bibirnya.


"Ayo kita berangkat ke kampung!" Handoko memberi semangat kepada mereka.


"Ayo!" Seru anak-anak itu dengan girang seraya masuk satu persatu ke dalam mobil.


"Nanti di pemakaman ibu kalian, kalian harus terlihat bahagia. Jangan sedih, biar ibu kalian senang melihatnya. " Handoko mengingatkan agar Laila dan Qadar tidak bersedih lagi.


"Berdoa untuk ibu kalian agar tenang di sisi Allah," lanjut Mira.


Cukup lama perjalanan mereka menuju kampung. Pukul dua siang mereka baru tiba di sana, dan Handoko sengaja langsung ke pemakaman umum.


Qadar dan Laila berjalan lebih dulu, langkah mereka percepat agar segera sampai di pusara ibunya.


"Ibu!" seru Qadar sambil berlari kecil mendekati kuburan Marni.


Laila berjongkok di depan nisan ibunya, mengelus nisan itu sambil terus menguatkan hati agar tak sampai menangis.


Lebaran kali ini adalah lebaran pertama tanpa adanya Marni di samping mereka dan itu memang cukup berat di rasakan keduanya.


Handoko pun memimpin doa, mendoakan almarhumah kakak nya Marni.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2