
Dokter yang memeriksa Syarif pun keluar dari kamar. Kompak ibu dan anak itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
"Gimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Ambar.
Raut wajah Dokter itu tampak serius, sepertinya hal buruk yang akan dia sampaikan pada kedua orang di hadapannya.
"Kondisi Pak Syarif cukup rentan saat ia mengalami stres atau banyak pikiran. Usahakan agar beliau istirahat cukup dan tak ada tekanan yang mempengaruhi pikirannya," kata Dokter itu.
Restu menoleh sekilas kepada Ibunya, tatapan mereka pun saling bertemu lantas kembali memalingkan wajah menatap Dokter yang ada di hadapan mereka.
"Saya sudah menyarankan agar beliau di rawat, tapi tadi beliau menolak untuk di bawa ke Rumah Sakit. Jika ada apa-apa, Ibu Ambar bisa langsung hubungi Ambulans," ucap Dokter yang di angguki Ambar.
"Resep obat sudah saya simpan di atas meja, barusan saya sudah beri suntikan pada Pak Syarif agar beliau istirahat. Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter.
"Iya, makasih, Dok." Ambar mengantar Dokter sampai pintu.
Ambar menutup rapat pintu setelah Dokter itu keluar.
Perang dingin mulai terjadi antara ibu dan anak, Restu bergegas ke kamarnya berlaku begitu saja dari hadapan Ambar.
Restu menghubungi Julian, memastikan jika pada hari H, dia akan membawa Syarif ke acara pernikahan Laila dan Julian.
Di izinkan atau tidak oleh ibunya, Restu akan tetap membawa Syarif ke acara itu. Firasat Restu mulai tak enak, apalagi setelah tau kondisi Syarif yang mulai memburuk.
Mendengar kabar dari Restu tentang ayahnya Laila, Julian pun segera memberitahu Laila lewat panggilan telepon. Mengingat saat ini mereka di pingit dan tak boleh bertemu sebelum datangnya hari H pernikahan.
"Laila, aku punya kabar baik untukmu," ucap Julian di sebrang telepon.
"Kabar baik? Apa itu?" tanya Laila.
"Ayahmu akan datang di hari pernikahan kita. Barusan Restu menelpon ku. Beliau sangat senang dengan berita pernikahan kita ini. Dan satu lagi, kamu tak perlu menyuruh Qadar menjadi wali nikah, karena ayahmu lah yang akan menjadi wali untukmu," jelas Julian.
"Kamu gak bercanda kan?" Ada rasa bahagia namun juga ragu di hati Laila saat mendengar kabar itu.
"Untuk apa aku bercanda untuk hal sepenting ini Laila, malah aku ingin membuat kejutan tadinya. Tapi setelah di pikir lagi, lebih baik kamu tau dari awal. Anggap ini adalah hadiah pernikahan kita dari ayahmu," ucap Julian.
__ADS_1
"Iya. Makasih." Terdengar Isak tangis Laila.
"Berterima kasihlah pada Restu, nanti saat dia datang di acara pernikahan kita," kata Julian.
"Kamu menangis Laila? Apa ini tangisan bahagia? Jika iya, menangislah, tapi jika ini tangisan kesedihan maka aku harap ini adalah yang terakhir kali aku mendengar mu menangis," lanjutnya.
"Aku bahagia, karena akhirnya Ayah bisa datang ke acara pernikahanku nanti," kata Laila.
"Alhamdulillah."
"Iya, Alhamdulillah."
Setelah cukup puas berbincang, mereka pun menutup panggilan telepon.
Laila segera keluar kamar. Ia memberitahu kabar dari Julian tadi pada Paman, Bibi, juga adiknya, jika nanti Syarif akan datang ke pesta pernikahannya.
"Alhamdulillah, akhirnya Syarif bisa menyempurnakan kebahagiaan putrinya," ucap Handoko bersyukur.
"Iya, Paman." Laila tak henti meneteskan air mata haru bahagia.
"Aku senang mendengarnya, Kak. Aku tak sabar ingin bertemu Ayah lagi dan kesempatan ini akan aku gunakan untuk memeluk Ayah, nanti di hari pernikahan Kakak," kata Qadar antusias.
"Tentu saja Qadar, Kakak juga sangat rindu pada Ayah." Laila mengulas senyum di tengah tangisnya.
***
Hari pernikahan Laila. Seluruh ruangan di rumah Handoko sudah di dekorasi sedemikian rupa, dengan tirai-tirai bernuansa putih tampak mendukung sakralnya acara pernikahan yang akan di laksanakan siang ini.
Beberapa tamu, kerabat dan saudara berdatangan. Tidak terlalu ramai keadaannya karena memang Laila tak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat saja yang di undang. Laila ingin acara pernikahan sesederhana mungkin. Agar lebih khidmat dan terasa sakral.
Laila sudah mengenakan kebaya putih brokat, di padukan bawahan kain lurik bermotif perak, lilitan kerudung melekat sempurna di kepalanya dengan aksesoris mahkota juga bunga melati yang menjuntai ke bawah, menyempurnakan riasan pengantin wanita itu.
Laila di aping oleh Mira duduk di tempat yang sudah di sediakan. Sementara Julian sudah duduk di depan Pak Penghulu yang sudah datang sekitar lima menit yang lalu.
"Kita mulai sekarang?" tanya Penghulu pada Handoko.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Pak. Ayah Laila masih di jalan sepertinya. Barusan dia menelepon Julian, iyakan Julian?" tanya Handoko.
"Iya, betul Paman. Kita tunggu sebentar, Pak Penghulu." Julian membenarkan perkataan Handoko.
"Baiklah, kita tunggu beliau." Penghulu itupun sibuk mengurus berkas di hadapannya sambil menunggu ayahnya Laila datang.
Di tempat lain di apartemen, Restu sedang berusaha membawa ayahnya pergi. Dia sempat bersitegang dengan sang Ibu terlebih dahulu sebelum akhirnya Ambar diam tak bisa lagi menghalangi keinginan Restu untuk membawa Syarif pergi ke pernikahan Laila.
Restu mendudukkan Syarif pada kursi roda, segera membawanya keluar dari apartemen.
"Kita kemana Restu?" lirih Syarif saat melewati Ambar istrinya yang menekuk wajah.
"Kita ke acara pernikahan Laila. Mereka belum memulai acara jika Ayah belum datang. Ayah kuat kan pergi ke sana? " tanya Restu memastikan kondisi ayahnya yang lemah.
Syarif menoleh sekilas pada Ambar yang kemudian membuang muka, Ambar berlalu dari hadapan mereka, tampaknya dia tak mau ikut ke acara Laila.
"Ibu mu gimana?" lirih Syarif mendongakkan wajah menoleh pada Restu.
"Ibu sudah memberi izin, tapi mungkin ibu gak bisa ikut. Gak apa-apa kan? Ayah sama aku saja, " kata Restu yang di angguki Syarif.
Restu pun mendorong kursi roda menuju lantai bawah apartemen, ia meminta sopir untuk mengantarkannya ke kediaman Handoko. Alamat sudah di kirim oleh Julian melalui pesan chat.
Perjalanan dari apartemen ke sana sekitar lima belas menit jika tidak terjebak macet. Restu memberi kabar pada Julian jika saat ini dia sedang on the way ke lokasi.
Di pertengahan perjalanan, tiba-tiba saja Syarif mengalami sesak napas. Restu sempat panik, ia berniat mengurungkan kepergian mereka ke acara pernikahan Laila.
"Ayah, kita ke Rumah Sakit saja ya! Aku gak mau ayah kenapa-kenapa," ucap Restu panik.
"Tidak, Nak. Kita jalan saja, ayah baik-baik saja," kata Syarif sambil memegangi dadanya, terlihat jelas jika saat ini penyakitnya kambuh dan dia sesak napas.
"Ayah, biar aku bicara pada Laila kalau ayah tiba-tiba sakit di jalan. Aku rasa dia akan mengerti," kata Restu.
"Ja-ngan. Teruskan saja perjalanannya, kita harus secepatnya sampai, Laila pasti menunggu. Ayah tak ingin membuatnya kecewa, apapun yang terjadi bawa ayah ke sana," ucap Syarif terputus-putus karena napasnya yang sesak.
bersambung,
__ADS_1