
"Kamu kenapa mas? Kok dari tadi mukanya kayak tegang gitu?" tanya Ambar pada suaminya.
Syarif yang kini duduk di belakang stir mengusap wajahnya dengan kasar tak ingin kegugupannya tertangkap oleh Ambar meski itu sudah terjadi.
"Gak apa-apa, aku cuma lemes aja." Syarif berkilah. Segera ia menyalakan mesin mobil.
Mobil mereka pun meninggalkan kawasan cafe tadi, dimana mereka bertemu dengan keluarga Handoko.
"Kenapa sih gak tunggu sampai buka saja, ini bentar lagi buka loh!" Restu melirik arloji di tangannya.
"Kita beli minum di pinggir jalan, nanti kalau ada tempat makan enak kita pinggirkan mobilnya dan makan di sana." Syarif berbicara sambil terus fokus menyetir.
"Tadi katanya gak enak badan terus ngajak pulang. Kok sekarang malah mau makan di pinggir jalan, padahal cafe tadi enak loh makanannya." Ambar sedikit kecewa karena dia ingin makan di cafe bukan di pinggir jalan.
"Gak tau, tadi aku kok gak enak kena AC. Mungkin masuk angin, kalau di pinggir sini kayaknya udaranya lebih enak k badan." Syarif masih berkilah.
"Yang ada polusi bukannya seger, Mas!" Ambar memutar mata malas.
Terdengar sayup suara adzan berkumandang. Syarif melihat ada warung pecel di pinggir jalan, ia menepikan mobilnya di dekat pedagang pecel itu.
"Makan bebek sama lele enak kayaknya nih, kita buka di sana." Syarif menghentikan laju kendaraannya.
Ambar melongok lewat kata jendela mobil, ia tampak kurang setuju saat suaminya mengajaknya makan di tempat seperti itu.
Ambar terbiasa hidup mewah, yang ia tau hanya makanan restoran mahal dan cafe-cafe. Bukan jajanan kaki lima seperti yang di usulkan suaminya sekarang.
Dengan malas ia pun turun dari mobil setelah anak dan suaminya turun lebih dulu.
__ADS_1
Syarif memesan makanan untuk mereka bertiga. Pedagang pecel pun menyajikan teh hangat pada mereka.
"Bismillah." Restu meneguk air teh hangat pelan-pelan.Tenggorokannya yang kering terasa lega setelah meminum air teh hangat itu.
Bau wangi melati aroma khas teh hangat dari pedagang kaki lima memang cukup menggoda indera penciuman. Ambar semula ragu, ia hanya minum air botol mineral yang ia bekal dari mobil. Tapi lama-lama ia pun ingin mencicipi air teh hangat yang kini ada di hadapannya.
Kepulan asap tipis menguar dari atas cangkir teh tersebut.
"Cobain, jangan di lihatin mulu!" kata Syarif setelah ia meneguk air teh yang sama.
Dengan ragu Ambar meraih gagang cangkir berukuran besar itu, perlahan ia mencicipi air teh yang mengeluarkan aroma wangi itu. Dan benar saja, air teh hangat buatan penjual kaki lima ini tak begitu buruk. Cukup nyaman di tenggorokan Ambar.
"Nah enak kan?" kat Syarif sambil tertawa kecil melihat istrinya lagi dan lagi meminum teh tersebut.
Ambar tak menjawab ia segera menyimpan gelas tadi di atas meja.
Tak berselang lama si pedagang pecel pun membawa tiga porsi nasi, beberapa bebek dan lele goreng, lengkap dengan sambal juga lalapan segar.
"Silahkan di nikmati," ucap pedagang tersebut setelah menyimpan satu persatu piring di atas meja kayu berbentuk panjang.
Restu dan Syarif langsung mengisi perut dengan makanan yang sudah tersaji. Sementara Ambar masih terlihat ragu, sesekali ia melirik anak dan suaminya yang terlihat sangat menikmati makanan itu.
Saat asyik makan Restu menoleh pada ibunya yang masih terdiam dan belum menyantap makanan miliknya.
"Bu, cobain enak loh!" kata Restu.
Ambar tak berkata apapun, ia mulai mencicipi lele goreng yang di cocol pada sambal. Seketika lidahnya tampak di manjakan oleh goreng ikan lele itu. Kali ini dia mencicipi bebek gorengnya. Lama-lama Ambar pun makan dengan lahap, tak lupa lalapan turut masuk kedalam mulutnya.
__ADS_1
Restu dan Syarif saling bertukar pandang setelah mengetahui Ambar makannya begitu lahap.
"Gimana enak kan masakan pinggir jalan?" goda Syarif.
Ambar yang sedang mengunyah kini menghentikan kunyahan di mulutnya, ia tersedak dan terbatuk-batuk.
"Ibu, minum Bu!" Restu menyodorkan segelas air pada ibunya.
Ambar mengusap-usap tenggorokan setelah ia tak tersedak lagi.
"Pelan-pelan makannya," ucap Syarif penuh perhatian. Di saat seperti ini ia teringat Marni yang mengajarkan dirinya makan di kaki lima.
Ekspresi Ambar sama persis seperti dirinya dulu saat di ajak oleh Marni makan di pinggir jalan.
"Kamu yang bikin aku tersedak. Orang lagi enak makan di ajak ngomong terus," kesal Ambar.
"Kebetulan saja lapar makanya aku makan makanan ini, kalau enggak aku mau makan apa?" Ambar beralasan seakan ia tak mau mengakui jika makan di pinggir jalan itu sangat enak dan tak begitu buruk di lidahnya.
Klik!
Suara ponsel Restu terdengar, nampaknya ada pesan chat masuk dari teman sekolahnya.
Restu membuka chat tersebut. Seketika mata Restu membulat sempurna saat melihat gambar yang di kirim teman sekolahnya.
Dan isi pesan chat yang bertuliskan.
[ Ini bukannya foto bokap kamu? Tapi kok ada yang nyariin dia dan katanya yang di foto itu ayah dari anak yang bernama Laila dan Qadar. Ada info kontak di gambar itu, kamu bisa hubungi orangnya kalau misal ada yang gak beres.]
__ADS_1
Restu teringat pertemuan tadi di cafe. Sikap ayahnya tiba-tiba saja berubah saat bertemu dengan Laila sekeluarga. Dan yang paling mengejutkan dalam gambar itu terdapat kontak atas nama Handoko yang mana Restu tau jika Handoko adalah paman Laila yang sempat bertemu dengannya tadi.
bersambung,