
Qadar mengikuti Laila kakaknya berkerja, tentu saja tanpa sepengetahuan wanita itu. Qadar membuntuti Laila untuk bisa bertemu dengan Restu yang nantinya Qadar akan tau dimana Restu tinggal.
Kebetulan Laila saat ini berada di Ambar Group untuk mengurus beberapa dokumen kerja sama antara perusahaan Ambar Group dan PT. Nusantara milik Julian.
Qadar harus bersabar menunggu Laila keluar dari dalam gedung bertingkat itu. Kemungkinan Laila akan cukup lama berada di dalam sana.
Qadar menunggu di warung depan kantor tersebut. Di sana dia mengobrol dengan pemilik warung untuk mencari informasi tentang pemilik Ambar Group, siapa tau Qadar bisa mengorek informasi dari si pemilik warung yang katanya sudah lama berjualan di depan kantor tersebut.
"Pak, bapak tau yang punya kantor ini? Apa dia suka datang kesini atau tidak?" tanya Qadar.
"Maksudnya Bu Ambar, Pak Syarif, atau anak mereka ?" pemilik warung itu balik bertanya.
"Bu Ambar sama Pak Syarif," jawab Qadar.
"Jarang sih kalau Pak Syarif, tapi akhir-akhir ini saya suka lihat Bu Ambar," jawab pemilik warung.
"Sebenarnya adek ini lagi nunggu siapa di dalam?" tanya pemilik warung pada Qadar.
"Kakak saya, " jawab Qadar yang di angguki pemilik warung itu.
"Biasanya bentar lagi Bu Ambar yang punya gedung ini bakal datang." Pria pemilik warung melirik jam yang terpajang di salah satu dinding kiosnya.
'Semoga saja sama ayah,' batin Qadar.
"Kalau Pak Syarif dulu suka jajan di sini waktu dia masih ngantor, beda sama istrinya dia gak pernah mau jajan di pinggir jalan kek gini. Tapi anaknya Restu baik dan sopan, dia juga sering kemari, dia baik mirip sama Pak Syarif ayahnya," ucap Pemilik warung.
Qadar terdiam, ia tau betul jika Restu bukanlah anak kandung Syarif, justru dirinya lah yang anak kandung Syarif. Tapi Qadar maklumi karena mungkin si pemilik warung tidak tau menau soal itu.
Selang beberapa menit, sebuah mobil melintas memasuki gedung tersebut.
"Nah itu dia mobilnya Bu Ambar!" tunjuk pemilik warung.
Qadar segera bangkit berjalan keluar dan melihat siapa yang turun dari mobil itu.
__ADS_1
Benar saja kata pemilik warung tadi, jika Ambar yang turun dari mobil. Sepertinya wanita itu yang mengemudi. Seketika pintu mobil yang lain terbuka dan nampak sosok Syarif di sana.
Qadar menatap tak berkedip, ia seakan tak percaya bisa melihat orang tuanya kembali setelah 10 tahun tak bertemu.
"Ayah!" lirih Qadar dengan tatapan tak lepas dari wajah Syarif yang sudah menua dengan rambut memutih sebagian, tampaknya Syarif sudah terlihat lemah tak gagah seperti dulu. Mungkin karena saat ini usia Syarif sudah cukup tua.
Bahkan badan Syarif pun tampak kurus, sangat jauh dibandingkan dengan beberapa tahun lalu saat terakhir kali Qadar melihatnya.
"Apa tadi kamu bilang?" tanya pemilik warung.
"Enggak Pak, aku gak ngomong apa-apa?" kilah Qadar.
Pemilik warung itu segera masuk ke dalam kios karena ada pelanggannya yang datang.
"Aku tinggal dulu bentar ya!" ucapnya seraya beranjak masuk.
Qadar mengangguk pelan, namun ia tak menoleh kepada pemilik warung itu. Matanya tetap fokus menatap Ambar dan Syarif yang kini mulai akan masuk ke dalam gedung.
Namun baru beberapa langkah mereka menaiki anak tangga teras gedung itu, seketika Laila muncul dari dalam. Pertemuan ketiganya pun tak terelakan.
Syarif menyipitkan mata saat melihat wanita muda berhijab menyebutnya dengan sebutan ayah.
"Laila? Apa dia Laila?" ucap Syarif yang kini berada dalam jarak beberapa langkah saja dari Laila berdiri.
Melihat keberadaan Laila, wanita yang masih berstatus menjadi istri Syarif pun membulatkan mata saat ia menyadari jika gadis di hadapannya adalah Laila anak tirinya.
"Sedang apa dia di sini?" ketus Ambar dengan mengepalkan tangan.
"Ambar, izinkan aku bicara sebentar dengan anakku," kata-kata Syarif terdengar jelas di telinga Laila membuat tubuh gadis itu bergetar hebat.
Anak? Sejak kapan ayahnya mengakui dia sebagai anak? Apa benar kata Restu jika selama ini ayahnya terpaksa menghindar karena penyakit yang di deritanya?
"Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkan kalian berbicara walau sedetik saja! Kamu tau, jika dia adalah penyebab kambuhnya penyakitmu? Dan aku tak mau sampai terjadi lagi hal seperti itu, kamu tidak boleh stres karena anak-anak Marni, mereka hanya membuat kamu sakit-sakitan!" tegas Ambar seraya menarik masuk lengan suaminya.
__ADS_1
Mereka berpapasan dengan Laila yang masih terdiam mematung tak bersuara. Laila tak menyangka jika sampai detik ini Ambar masih membenci dirinya dan Qadar, padahal saat ini Laila bukan anak kecil lagi yang harus di tanggung segala keperluannya oleh Syarif, jadi seharusnya Ambar tak perlu khawatir jika Laila akan meminta hidup bersama mereka lagi.
Laila tak habis pikir, Ambar menyalahkan dirinya sebagai penyebab kambuhnya penyakit Syarif.
"Ibu, ayah?" Restu muncul dan melihat kedua orang tuanya berpapasan dengan Laila.
"Ayah, wanita itu Laila, apa ayah tidak mengenalinya?" tunjuk Restu.
Ia seakan tak peduli dengan keberadaan Ambar ibunya yang mungkin akan marah. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk Restu mempertemukan Ayahnya dengan Laila, apalagi pertemuan kali ini tidak di sengaja.
Syarif menoleh pada Ambar yang saat ini menekuk wajah.
"Bu, aku mohon izinkan ayah bicara sebentar dengan putrinya," pinta Restu memelas.
"Sekuat apapun ibu menjauhkan mereka, tetap saja pada akhirnya mereka di takdirkan bertemu kembali karena keduanya memang harus bertemu, ikatan antara ayah dan anak tak bisa ibu pisahkan begitu saja. Tolong mengerti kali ini saja!" lanjutnya.
"Cukup! Kamu mau mempersatukan mereka? Berarti kamu siap kalau aku dan ayahmu bercerai!" ancam Ambar.
Tampak beberapa karyawan yang ada di lobi menyaksikan perdebatan mereka.
"Tapi Bu, kenapa ibu begitu egois? Apa yang salah dengan mereka bertemu dan berbicara saja, mereka berdua sudah lama tak saling jumpa. Lagipula Laila berhak atas ayahnya," kata Restu.
"Kamu mau tau apa yang salah? Yang salah itu adalah karena dia lahir dari rahim wanita perebut suami orang! " Ambar menarik suaminya masuk ke dalam membiarkan Laila dan Restu mematung di tempat
Perkataan Ambar sangat tajam dan menusuk, membuat Laila malu dan sakit hati. Ia tak bisa melawan, rasanya hanya akan menambah malu dirinya saja jika harus meladeni Ambar.
"Ayah tunggu!" tiba-tiba Qadar memanggil Syarif, pria itu pun menoleh ke belakang lalu menyipitkan mata.
"Qadar?" Restu sangat pangling melihat Qadar yang saat ini sudah besar.
Mendengar nama Qadar di sebut, Syarif baru sadar jika anak muda itu adalah Qadar putranya. Air mata mulai mengalir di pipi Syarif.
"Ayo Mas, kita pergi dari sini!" Mata Ambar tampak menuntut penuh ancaman, Syarif tak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa patuh pada Ambar yang sudah banyak menolongnya, menyelamatkan nyawanya dari penyakit yang ia derita. Meski mungkin hanya untuk sementara waktu ia terlihat sehat, nyatanya dia belum benar-benar sembuh total.
__ADS_1
bersambung,