Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 45


__ADS_3

10 Tahun berlalu selama itu pula Laila dan Qadar tak pernah lagi bertemu dengan ayah mereka. Kehidupan kakak beradik itu pun sudah semakin membaik.


Semenjak Handoko naik jabatan, Laila kembali meneruskan sekolahnya yang sempat tertunda. Bahkan Handoko bisa menguliahkan Laila. Dan kini Laila bekerja di salah satu perusahaan di kota itu.


Sedangkan Qadar baru saja lulus SMA dan kini mulai masuk perguruan tinggi. Bukan lagi Handoko yang membiayai sekolah Qadar melainkan Laila dari hasil gajinya bekerja di perusahaan.


"Laila." Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ke ruangan Laila.


Laila yang sibuk berkutat dengan pekerjaan pun menoleh kaget. Rupanya Julian yang datang, pantas saja dia tak mengetuk pintu ruangan Laila toh dia pemilik perusahaan tersebut. Seorang CEO muda di PT. Nusantara yang kini menjadi orang terdekat Laila.


Sudah enam bulan mereka dekat, namun setiap kali Julian mengutarakan perasaannya pada Laila saat itu juga Laila selalu bilang kalau dia tak ingin pacaran sebelum Qadar lulus kuliah dan jadi orang sukses.


Padahal Handoko sudah sangat setuju dengan kedekatan mereka apalagi Mira. Menurut Handoko dan Mira keponakannya itu sudah sepantasnya mengenal laki-laki dan memiliki hubungan yang serius di usianya yang ke 25tahun ini.


Namun lagi-lagi Laila menolak. Dia merasa tanggung jawabnya terhadap Qadar belum selesai selama Qadar belum mendapatkan gelar sarjana dan bekerja di tempat yang bagus.


"Pak Julian." Laila menutup layar laptop lantas bangkit dari kursi.


"Kita makan siang. Kamu itu sibuk sekali bekerja sampai lupa makan siang," kata Julian penuh perhatian.


Laila menoleh meja kerja dimana banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Biasanya kalau sedang banyak kerjaan seperti ini Laila selalu memesan makanan online dan akan ia makan sambil bekerja di ruangannya. Tapi kali ini ia tak sempat pesan makanan, ia terlalu sibuk hingga lupa waktu.


Sekarang Julian mengajaknya untuk makan siang, dan Laila sungkan untuk menolak.


Melihat ekspresi kebingungan wanita itu, Julian sudah bisa menebak apa yang di pikirkan Laila.


"Aku tak mau kamu menolak lagi ajakan ku ini. Kita makan siang sekalian kita ketemu klien," kata Julian dengan menuntut.


"Baik, Pak. Sebentar!" Laila meraih tas yang ia simpan di atas meja, memasukan ponsel yang juga tergeletak di meja itu.


"Mari!" Laila bersiap untuk pergi bersama Julian.


Laki-laki itu tersenyum lalu berjalan beriringan dengan Laila keluar dari ruangan. Tak sedikit mata yang memandangi mereka berdua, bisa di katakan mereka menjadi pusat perhatian para karyawan yang berada di perusahaan tersebut. Bagaimana tidak, Julian seorang CEO muda yang tampan, gagah dan berkarisma yang di puja oleh banyak gadis termasuk para karyawati di perusahaan itu sendiri. Siapa yang tak iri melihat Laila berjalan berdampingan dengan Julian?

__ADS_1


Menurut mereka Julian bisa mendapatkan gadis yang cantik, seksi dan berkelas. Bukan malah memilih Laila yang selalu berpakaian tertutup, tak menarik dan tidak selevel dengan Julian.


Mereka rasa Julian sudah tertipu oleh penampilan Laila yang sok alim, sok pendiam dan sok jual mahal itu. Tak jarang mereka memergoki mereka berdua pulang bareng meski kadang Laila lebih banyak menolak terlihat sok jual mahal sekali, pikir mereka yang rata-rata memiliki rasa iri pada Laila.


Saat berjalan bersama Julian seperti ini, Laila selalu merasa tak nyaman. Ia menyadari banyak pasang mata tak suka melihat kedekatannya dengan CEO perusahaan itu.


Makanya Laila lebih sering menolak ajakan Julian, menghindar dari fitnah orang yang mungkin tak suka melihatnya.


Tapi kali ini Laila pun tak bisa menolak. Apalagi Julian bilang mereka akan bertemu dengan klien perusahaan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, maka Laila tak mungkin bisa menolaknya.


Sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti di depan gedung saat Laila dan Julian sampai di pelataran.


Seseorang keluar dari mobil itu yang diketahui adalah sopir pribadi Julian.


"Silahkan, Pak!" ucap pria berbadan tambun itu sambil merundukan badan.


"Makasih!" Julian segera membuka pintu untuk Laila.


Diperlakukan seperti ini oleh bosnya di depan orang-orang, membuat Laila malu. Padahal Laila bisa membuka pintu sendiri dan tak perlu repot-repot di bukakan oleh Julian.


"Pak Trisno gak ikut?" tanya Laila heran.


"Enggak, kita pergi berdua saja." Julian menutup pintu mobil lantas ia berjalan menuju pintu lainnya, masuk dan duduk di depan kemudi. Mereka duduk bersebelahan di mobil tersebut.


Sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju dan menghilang dari pandangan, tatapan orang-orang yang berada di sana seakan enggan berpaling. Masih terus memperhatikan sampai akhirnya mobil yang di kendarai Julian tak terjangkau lagi oleh netra mereka.


Detik kemudian mobil yang dikendarai Julian pun tiba di sebuah restoran mewah. Mereka berdua turun lalu masuk dalam restoran tersebut.


Seorang pelayan menghampiri mereka berdua dan menggiring mereka ke salah satu meja yang mungkin sudah dipesan oleh Julian sebelumnya.


Sedikit aneh dirasakan oleh Laila. Bagaimana mungkin Julian membawanya makan siang di restoran mewah seperti ini. Laila tahu jika menu di restoran ini pasti sangat mahal harganya. Untuk sekedar makan siang rasanya terlalu berlebihan jika ia dibawa ke restoran sama hal ini. Apa mungkin karena Julian ingin bertemu dengan klien makanya mereka datang ke tempat ini? Laila hanya menerka-nerka.


Keheranan Laila semakin menjadi ketika seorang pelayan membawa mereka ke sebuah meja di mana meja tersebut cukup jauh dari meja-meja yang lainnya. Bahkan keadaan di sana pun tampak lain, dekorasi restoran terlihat berbeda dengan dekorasi di bagian lain di resto itu. Seperti sengaja di buat sedemikian rupa untuk acara khusus.

__ADS_1


Melihat Laila sedang celingukan seperti orang bingung, Julian hanya tersenyum.


"Ayo duduk kok malah bengong?" Julian menyeret kursi mempersilahkan Laila duduk.


Tanpa berkomentar Laila pun duduk dengan mata masih mengedar ke sekeliling.


"Klien nya mana, Pak?" tanya Laila mulai bersuara.


"Klien?" Julian malah terkekeh membuat Laila makin bingung.


"Pak? Ada yang lucu?" Laila mengernyitkan kening melihat tawa kecil Julian.


"Tidak. Hanya saja... ehm.. maaf aku sudah bohong sama kamu." Julian berhenti tertawa, wajah nya kini terlihat lebih serius.


Kening Laila makin mengkerut masih belum mengerti apa yang di katakan Bosnya.


"Maksudnya?" Kata Laila.


"Aku sengaja ngajak kamu kesini untuk... " Julian menjeda kalimatnya.


Pria itu merogoh saku jas berwarna abu-abu muda yang ia kenakan. Mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas tersebut. Sebuah kotak mungil transparan yang Laila yakini jika di dalamnya adalah perhiasan.


Julian bangkit dari kursi, berjalan mendekat ke arah Laila yang sedang sangat kebingungan. Julian berjongkok di hadapan Laila yang kini memutar badan mengikuti arah gerakan Julian, namun dia masih tetap duduk di tempat hanya badannya saja yang memutar menghadap ke samping di mana kini Julian berjongkok.


"Bapak ngapain?" Laila hampir saja hendak bangkit dari duduk dengan mata menoleh ke kanan dan kiri merasa malu jika ada yang memperhatikan dirinya dengan Julian.


Namun pria itu menahan Laila agar tetap duduk.


Julian membuka kotak kecil tadi yang ternyata isinya adalah cincin berlian.


"Aku ingin melamarmu, aku tau kamu tidak suka pacaran jadi aku memilih untuk langsung melamarmu. Will you marry me?" ucap pria itu tampak sangat tulus dan serius.


Laila menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Seakan tak percaya dengan apa yang di katakan Julian saat ini.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2