
Restu menyimpan ponselnya dalam kasar di atas meja selepas ia membaca pesan chat dari salah satu temannya.
Berbagai pertanyaan dan dugaan memenuhi benak Restu. Rasanya ingin saat itu juga dia bertanya pada Syarif ayahnya. Tapi sepertinya Restu tak akan menanyakan hal ini di hadapan Ambar. Restu tak ingin hal ini menjadi masalah bagi kedua orang tuanya. Restu memutuskan untuk bertanya kepada ayahnya nanti saat tidak bersama Ambar.
"Udah makannya?" tanya Restu pada kedua orang tuanya.
"Udah." Syarif bangkit dari duduk segera ia membayar makanan tadi pada pedagang kaki lima.
Mereka pun kembali ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
Tak makan waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah.
Ambar segera masuk ke dalam kamar sementara Syarif masih berada di garasi. Restu sendiri kini menunggu Syarif di teras depan.
Restu berniat untuk segera menanyakan hal ini pada ayahnya. Rasa penasaran dan banyaknya pertanyaan yang mengganggu pikiran membuat Restu tak mau menunda untuk bertanya pada ayahnya.
Restu sudah bersiap-siap untuk menghujani ayahnya dengan berbagai pertanyaan ketika melihat Syarif mulai berjalan mendekat.
"kenapa masih di sini?" katanya Syarif saat melihat Restu belum masuk ke dalam rumah.
"Aku nunggu ayah ada, yang mau aku bicarakan tapi hanya kita berdua saja," jawab Restu.
Syarif mengernyitkan kening melihat ekspresi Restu yang serius.
"Tentang?"
Restu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Sejenak dia mengotak-atik ponselnya kemudian menunjukkan pesan dari temannya tadi kepada Syarif.
Syarif menatap layar ponsel yang ditunjukkan Restu. Betapa terkejutnya dia saat melihat gambar dalam pesan chat tersebut. Yang mana merupakan gambar dirinya di sertai tulisan seperti selebaran pencarian orang hilang, yang di bawahnya tertera kontak atas nama Handoko.
Seketika wajah Syarif berubah tegang dan gugup. Restu bisa menangkap hal itu, sikap ayahnya sama seperti tadi saat bertemu dengan Laila dan keluarganya.
"Tolong jelaskan tentang ini!" ujar Restu.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Syarif, ia terlihat sangat gelisah seakan bingung harus berkata apa kepada Restu.
"Ayah! Kenapa diam?" tatapan Restu seakan mengintimidasi.
"Apa yang harus Ayah jelaskan dari foto itu? Kenapa foto ayah bisa di buat selebaran seperti itu? Ayah sendiri gak paham!" Syarif malah balik bertanya.
"Justru karena ini aku bertanya pada Ayah. Apa Ayah kenal sama Om Handoko? Dan apa benar jika ayah adalah orang tua dari Laila dan Qadar seperti yang tertera dalam foto itu?" desak Restu.
Syarif hanya terdiam lidahnya seakan kelu tak bisa berkata-kata.
"Jawab Ayah!" suara Restu terdengar sangat lantang membuat Syarif membulatkan mata, baru kali ini Restu berbicara dengan nada tinggi seakan-akan sedang membentak dirinya.
Mulut Syarif seakan mau mengatakan sesuatu, tapi tak juga keluar kalimat dari mulutnya itu.
"Sedang apa kalian di sini? Kenapa belum masuk?" Ambar tiba-tiba saja muncul dari pintu ruang utama. Membuat kedua pria itu terkejut terutama Syarif.
Syarif khawatir Ambar mendengar percakapannya dengan Restu.
"Kami cuma cari angin saja, di sini udaranya enak seger. Iyakan Restu?" kata Syarif mendahului Restu menjawab pertanyaan Ambar, ia khawatir Restu akan mengatakan pada Ambar apa yang sedang mereka bicarakan.
Restu dan Syarif saling bertukar pandang, segera Syarif beranjak dari sana meninggalkan Restu yang masih mematung di tempat. Syarif sengaja menghindari Restu yang mungkin akan bertanya lagi tentang Laila dan Qadar.
Syarif bergegas masuk ke kamar dengan hati gelisah. Sejenak ia berpikir untuk menemui Handoko untuk membicarakan masalah ini, Syarif harus menyelesaikan masalahnya agar keberadaan Laila dan Qadar di kota ini tak sampai menghancurkan rumah tangganya dengan Ambar. Apalagi saat ini Restu sudah mulai mencium apa yang dia sembunyikan selama belasan tahun lamanya.
Selepas sholat magrib, Syarif segera pamit pergi ke mesjid kepada Ambar istrinya. Padahal Syarif akan menemui Handoko, ia beralasan ingin pergi terawih.
"Kenapa gak nunggu Restu?" tanya Ambar.
"Nanti dia suruh nyusul saja, takut telat!" Syarif menyambar kunci motor membuat Ambar kembali heran.
"Bawa motor segala? Mau ke mesjid mana? " tanya Ambar lagi sambil mengikuti langkah Syarif ke luar rumah.
"Di mesjid ini lama, aku mau ke mesjid lain saja katanya lebih cepat," Syarif kembali beralasan.
__ADS_1
Namun Ambar tak curiga, ia memandangi suaminya pergi hingga tak terjangkau lagi oleh netranya.
Saat Ambar hendak masuk rumah tiba-tiba Restu muncul dengan tergesa-gesa.
"Ayah mau kemana Bu?" tanya Restu melihat motor Syarif sudah menjauh.
"Terawih tapi katanya bukan ke mesjid dekat sini. Gak tau mau dimana terawih nya," jawab Ambar.
Restu mulai curiga, ia segera masuk membawa kunci motor miliknya. Setelah mengambil kunci, Restu kembali keluar dan Ambar masih berada di ruang utama.
"Kamu mau kemana? " tanya Ambar.
"Terawih."
"Bawa motor juga?" Ambar bingung.
"Iya, mau ikutin Ayah." Restu segera memasukan kunci motor setelah ia naik di atas motor gede miliknya.
"Tapi... "
"Aku pergi Bu, Assalamualaikum!"
Belum sempat Ambar bicara, Restu sudah memotong perkataannya dan segera berlalu dari hadapannya.
Ambar menautkan kedua alis melihat anak dan suaminya yang terlihat aneh dan tak biasa.
"Kenapa mereka?" gumamnya.
Ambar segera masuk ke dalam lalu menutup pintu rumahnya.
Sementara itu Restu yakin jika Ayahnya kini akan menemui Laila dan Qadar. Tak mungkin jika ayahnya pergi terawih ke mesjid lain. Restu rasa itu hanya alasan ayah saja agar tak ketahuan oleh Ambar.
Syarif ingat betul dimana kediaman Handoko. Dulu Marni pernah bilang kalau Handoko tinggal di komplek perumahan Agria Regency. Karena itu Syarif tak akan sukar mencarinya.
__ADS_1
Syarif menambah kecepatan motor, agar ia segera sampai di tempat yang di tuju. Syarif yakin jika Handoko pasti akan pergi terawih ke mesjid, karena itu Syarif akan menemui Handoko di sekitar mesjid komplek Regency. Tanpa ia sadari Restu mengikutinya dari belakang.
Bersambung,