
Atas perintah Ambar, Syarif di minta untuk mencari Restu yang pergi dari rumah. Ambar mengkhawatirkan putra semata wayangnya itu. Beberapa teman Restu sudah dia hubungi tapi tak satupun yang tau keberadaan putranya.
Dengan menggunakan mobil Syarif mencari Restu. Syarif rasa Restu pergi ke suatu tempat dimana anak itu bisa menenangkan dirinya. Setelah tau kenyataan pahit tentang bagaimana kisah kedua orang tuanya, Restu pasti terpukul dan butuh waktu untuk menerima semuanya.
Di saat yang sama Handoko berniat menemui Syarif. Bagaimanapun caranya dia harus bisa membawa Syarif ke Rumah Sakit demi kesembuhan Qadar.
Namun tak sengaja ia bertemu dengan Restu yang sedang duduk termenung sendirian di pinggir jalan tepatnya di sebuah taman.
Handoko menghentikan mobilnya di sana bergegas turun dan menghampiri anak laki-laki itu.
"Restu sedang apa di sini?" tanya Handoko saat tiba di dekat anak itu.
Restu menoleh saat mengenali suara yang memanggil dirinya.
"Om Handoko," ucap Restu seraya berdiri.
Handoko mengamati Restu yang terlihat masih mengenakan pakaian yang sama saat di rumah sakit.
"Kamu belum pulang?" tanya Handoko mengajak Restu duduk kembali di kursi taman.
"Kemarin aku sempat pulang ke rumah. Tapi... " Restu tak meneruskan kalimatnya ia tak ingin mengumbar aib orang tuanya di depan Handoko sekalipun Restu tau jika Handoko tak akan menyebarkan aib tersebut.
"Om sudah tau semuanya, Tante Mira kemarin ke rumah mu 'kan? Dia sudah cerita tentang kamu da keluargamu," ucap Handoko sambil menepuk bahu Restu.
Handoko tau betul apa yang sedang di lamunan Restu saat ini.
__ADS_1
"Gak baik kamu pergi dari rumah, kasihan ibu mu pasti akan sangat sedih. Apapun yang di lakukan oleh orang tua mu sudah pasti ada alasannya, dan semua itu untuk kebaikan mu," jelas Handoko mencoba menghibur Restu.
"Aku bingung Om. Satu sisi aku ingin agar Laila dan Qadar hidup bersama aku, Ayah dan ibu. Tapi sepertinya ibu tidak mau menerima mereka, ayah pun sangat takut dan tak punya pendirian. Ayah tak bisa membuat pilihan padahal beliau sebagai kepala keluarga yang seharusnya bisa lebih tegas mengambil keputusan, gak boleh terus-menerus menuruti apa kata ibu," kata Restu.
"Aku kecewa pada sikap mereka," lanjutnya.
"Kamu tak perlu memikirkan hal itu. Biarkan orang tua yang membereskan semua masalahnya. Kalau memang Syarif tak mau membawa Laila dan Qadar hidup bersama kalian, tak masalah. Masih ada Om yang bisa menghidupi mereka," ucap Handoko.
"Om hanya akan minta bantuan hari ini saja pada Syarif agar segera menemui Qadar," lanjut Handoko.
"Gimana keadaan Qadar sekarang, Om?" tanya Restu.
"Qadar masih belum siuman. Saran Dokter, Qadar harus di pertemukan dengan seseorang yang mungkin selama ini Qadar rindukan, yaitu Syarif. Mungkin dengan mempertemukan Syarif padanya, Qadar bisa kembali sembuh. Insyaallah!" jawab Handoko.
"Setelah Qadar sadar, terserah Syarif mau mengakui Qadar sebagai anaknya atau tidak. Itu urusannya dengan Tuhan. Baik Om ataupun Laila sudah tak berharap banyak padanya, biar dia yang menuai apa yang di perbuat nya kelak," lanjut Handoko.
"Ibu mu gimana? Apa dia tak akan marah jika kita meminta ayahmu untuk menemui Qadar?" tanya Handoko.
"Biar aku yang urus, demi kesembuhan Qadar aku akan melakukan apapun. Anggap ini sebagai permintaan maaf orang tuaku terhadap mereka," kata Restu.
"Anak baik, terima kasih!" Handoko melebarkan senyuman.
Mereka berdua segera pergi dari tempat itu. Saat keduanya berjalan menuju mobil Handoko tiba-tiba mobil Syarif melintas dan melihat keberadaan dua orang tersebut.
Syarif bergegas menepikan mobilnya lalu turun dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Restu!" sahut Syarif.
Restu dan Handoko menoleh ke arah sumber suara.
Tampak Syarif berjalan mendekat.
"Restu, ibu mu sangat mengkhawatirkan keadaan mu, sebaiknya kita pulang sekarang," pinta Syarif tanpa memperdulikan keadaan Handoko yang ada di antara mereka.
Restu terdiam sejenak, sepertinya dia menemukan cara untuk bisa membawa Syarif ke Rumah Sakit dimana Qadar di rawat.
"Aku akan pulang tapi setelah ayah menemui Qadar di Rumah Sakit," desak Restu.
Syarif terdiam tampak Handoko menatap tajam dirinya seolah sudah siap menerkamnya jika ia menolak keinginan Restu barusan. Sudah bisa di duga jika Restu berbuat begini karena permintaan Handoko, pikir Syarif.
"Qadar belum siuman, dia darah daging ayah, anak kandung ayah. Apa ayah tega padanya? Aku yakin jauh di lubuk hati ayah pasti sangat menyayangi nya, tapi karena tekanan dari ibu makanya ayah seperti tak punya hati pada anak-anak ayah sendiri. Aku tak akan mengatakan pada Ibu jika ayah mau menemui Qadar. Aku mohon!" Restu tampak memelas.
"Sekali ini saja buka mata dan hati mu Syarif! Qadar dan Laila tak akan meminta apapun dari mu dan tak akan lagi mengganggu kehidupan mu, hanya kali ini saja kami ingin agar kamu menemui Qadar yang belum juga sadarkan diri. Dia seperti itu karena menunggu kedatangan orang yang begitu ia rindukan sejak kecil. Tolong Qadar, Syarif! " kata Handoko.
Syarif menatap dua orang di hadapannya secara bergantian. Keduanya tampak begitu berharap padanya.
"Baiklah aku akan ke sana sekarang." Akhirnya Syarif mau menemui Qadar.
"Terima kasih ayah!" Restu memeluk Syarif kedekatan ayah dan anak yang tak ada hubungan darah itu di saksikan Handoko.
"Aku ikut mobil ayah, Om," kata Restu.
__ADS_1
Handoko hanya mengangguk pelan lantas ia segera menuju mobilnya dan bergegas pergi ke rumah sakit. Mobil Syarif pun menyusul di belakang.
bersambung,