
Pulang dari tempat kerja, Laila menghampiri Handoko dan Mira yang kebetulan sedang duduk berdua di ruang tengah. Dua kali bertemu Restu, tapi Laila belum sempat mengatakan hal ini pada Handoko Pamannya.
"Kamu sudah pulang rupanya. Pasti capek, biar Bibi ambilkan minum," ucap Mira seraya beranjak dari kursi hendak menuju dapur, namun Laila mencegahnya.
"Gak usah Bi, makasih. Biar nanti aku ambil sendiri. Ada yang mau aku bicarakan juga sama Bibi dan Paman," kata Laila seraya duduk bergabung bersama mereka.
"Bicara apa? Wajahmu serius sekali," ucap Mira penasaran.
"Ayah sudah kembali ke Indonesia bersama keluarganya." Laila menarik napas panjang.
"Kamu tau darimana?" tanya Handoko cukup terkejut.
"Kebetulan perusahaan Restu bekerjasama dengan perusahaan tempat aku bekerja sekarang. Bahkan tak hanya itu, aku di tugaskan untuk mengurus proyek kerjasama itu oleh Pak Julian," jawab Laila.
"Jadi kalian berdua sudah bertemu?" tanya Mira.
"Maksudnya kamu sama Restu," lanjut Mira.
Laila mengangguk ringan.
"Iya, Bi. Barusan saja aku bertemu dengannya. Dan mungkin akan sering bertemu karena terlibat dalam satu proyek," ucap Laila.
"Lalu gimana kabar Ayahmu?" tanya Handoko.
"Kata Restu, Ayah mengidap penyakit jantung makanya mereka pindah ke Singapura untuk melakukan pengobatan. Tapi aku rasa bukan hanya itu alasan mereka pindah, bisa saja karena sengaja ingin menghindar dari aku dan Qadar." Tatapan Laila tampak kosong dengan pikiran melambung membayangkan ayahnya.
__ADS_1
Di luar rumah Qadar yang baru saja ingin masuk ke dalam sempat mengurungkan niatnya dan menguping pembicaraan mereka yang menyebut-nyebut nama ayahnya. Qadar cukup senang mendengar kabar tentang kembalinya Syarif ke negara ini. Dengan begitu ia bisa bertemu lagi dengan ayahnya.
Apalagi setelah tau kalau Laila kakaknya satu pekerjaan dengan Restu dan mereka akan sering bertemu di waktu-waktu ini. Qadar mulai berencana untuk mengikuti Laila bekerja, untuk itu dia bisa bertemu dengan Restu dan nanti ia bisa tau dimana tempat tinggal ayahnya saat ini.
"Apapun alasan ayahmu, Paman harap kamu tidak membenci beliau. Bagaimana pun beliau adalah ayah kandungmu, ada darahnya yang mengalir di tubuhmu Laila." Handoko selalu mengingatkan hal itu.
Namun luka yang di torehkan ayahnya cukup menyakitkan bahkan sampai saat ini luka itu belum sembuh. Laila tak tau apa dia benar-benar membenci ayahnya atau tidak. Perasaannya kacau ketika mengartikan perasaan yang di rasakan pada ayahnya, setelah berulang kali ia di kecewakan dan di sakiti.
Mungkin ini salah, tapi luka batin itu terlanjur di torehkan oleh ayahnya di hati Laila.
"O ya, gimana hubungan kamu sama Julian? Paman harap kamu segera beri kepastian pada Julian, dia pria baik kasihan jika harus terus menunggu jawaban darimu. Jika kamu memang tidak mencintainya lebih baik katakan dari sekarang, jangan biarkan dia berharap sementara kamu sendiri akan menolaknya. Mantapkan hatimu, kamu dan Julian sudah cukup matang untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius," kata Handoko.
"Aku dan Julian tak ada hubungan apa-apa selain masalah pekerjaan."
"Iya Laila, kamu itu beruntung di cintai sama Bos mu itu. Coba lihat Dita anak Bibi, malah nikah muda dan suaminya tidak punya pekerjaan tetap. Pria seperti Julian itu sangat langka, kalau di ibaratkan mungkin cuma satu dari seribu pria yang tampak sempurna seperti Julian. Udah tampan, baik, kaya lagi." Mira ikut nimbrung jika sudah membahas Julian.
"Paman tau jika saat ini Julian sedang belajar di pesantren. Dia lakukan semua itu demi kamu," kata Handoko.
"Paman tau darimana?" tanya Laila heran.
"Nenek Dewi, Neneknya Julian sempat datang kemari untuk bersilaturahmi. Beliau sangat berharap padamu agar menjadi cucu mantunya, karena menurut beliau, kamu bisa membawa perubahan bagi Julian menjadi lebih baik," jelas Handoko.
"Nenek Dewi? Datang kesini?" Laila terkejut membelalakkan matanya.
"Iya, kenapa terkejut begitu?" Mira mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Gak habis pikir saja. " Laila mengurut keningnya.
"Itu tandanya mereka serius sama kamu. Dan kamu sudah dapat tiket restu dari Nenek nya langsung, baguskan?" ucap Mira.
"Entahlah, Laila bingung dan belum bisa memantapkan hati. Tapi Laila pasti akan segera mengambil keputusan, semoga Allah memberi petunjuk agar Laila tak salah ambil keputusan," ucapnya.
"Istikharah saja, biar kamu tenang dan diberikan jalan terbaik oleh Allah."
Laila mengangguk pelan.
" Aku ke kamar dulu, mau mandi udah lengket banget soalnya nih badan." Laila bangkit dari duduk berjalan menuju kamarnya.
"Habis mandi makan dulu Laila, jangan sampai telat!" teriak Mira walau suaranya lantang tapi maksudnya baik yaitu memberikan perhatian pada Laila yang sering kali bermasalah dengan lambungnya.
"Iya, Bi." Laila masuk ke dalam kamar.
Tak lama setelah Laila berlalu dari ruangan itu, Qadar pun masuk.
"Qadar?" Handoko dan Mira cukup terkejut melihat kehadiran Qadar.
"Sssstttt, jangan bilang sama Kak Laila kalau tadi aku dengar percakapan kalian. Aku ingin bertemu ayah, Paman, Bibi." Mata Qadar terlihat memelas.
"Ya, kamu cari tau saja alamat beliau. Kamu pasti bisa dan tau caranya, Paman percaya," ucap Handoko merasa iba pada Qadar karena pasti Laila tak akan mempertemukan dia dengan ayah mereka.
bersambung,
__ADS_1