Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 59


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu cepat, tak terasa dua hari lagi Laila akan resmi menjadi istri dari Julian.


Kabar pernikahan Laila dengan Julian pun sudah sampai ke telinga Restu. Hal tersebut harus ia sampaikan pada Syarif, biar bagaimanapun Syarif sangat berhak tau tentang pernikahan putrinya.


Selain itu Syarif juga harus menjadi wali nikah di pernikahan Laila nanti.


Restu menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di balkon apartemen. Saat sore hari mereka selalu duduk bersantai di sana sambil menikmati senja merah yang menghiasi langit.


"Ayah, Ibu." Restu yang baru saja pulang dari kantor menghampiri kedua orangtuanya dan duduk bergabung dengan mereka.


Syarif dan Ambar menoleh ke arahnya.


"Kamu kelihatan lelah sekali, pasti banyak pekerjaan yang menguras waktumu. Sebaiknya kamu mencari waktu untuk refreshing sejenak. Maaf karena keadaan Ayah yang seperti ini membuatmu repot sendiri," sesal Syarif.


"Tidak Ayah. Ini sudah kewajiban ku. Lagi pula Ayah sudah lama menafkahi kami, bekerja untuk kami, jadi sekarang giliran aku membahagiakan kalian." Restu memang terlihat banyak pikiran, bukan karena lelah bekerja saja tetapi karena kabar pernikahan Laila dan Julian yang membuatnya terlihat tak bersemangat.


Restu yang menyimpan perasaan sejak lama terhadap Laila, kini terpaksa harus mengikhlaskan Laila menikah dengan Julian. Restu harus rela demi kebahagiaan Laila.


"Ada yang ingin aku bicarakan." Restu mulai akan membahas perihal pernikahan Laila.

__ADS_1


Syarif dan Ambar menoleh, mereka tampak menunggu perkataan Restu berikutnya.


"Lusa nanti Laila akan menikah dengan Julian. Aku harap Ibu mengizinkan Ayah untuk menghadiri acara itu, karena bagaimana pun Ayah adalah Ayah kandung Laila. Ayah harus menjadi wali untuknya," ucap Restu memelas.


Seketika air muka Ambar berubah, ia melempar pandangan jauh ke depan sana. Menatap hamparan kota yang terbentang di sepanjang mata memandang.


Sementara ekspresi Syarif tampak terlihat haru bahagia. Ada rasa sedih karena putri kecilnya sebentar lagi akan menjadi tanggung jawab seorang pria bernama Julian, sedang sedari kecil Syarif tak pernah melakukan tanggung jawabnya dengan baik terhadap Laila.


Selain rasa haru, ia juga merasa bahagia karena Laila kini sudah dewasa dan akan membuka lembaran baru bersama pria yang di cintainya. Harapan Syarif hanya ingin agar putrinya bahagia karena selama ini Laila mungkin tak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Syarif harap Laila bisa hidup bahagia bersama Julian. Perasaan yang tak bisa tergambarkan tatkala seorang Ayah mengetahui jika anaknya akan segera menikah.


"Ambar... " Belum sempat Syarif meminta pendapat dari istrinya, wanita itu sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


"Kamu mau minta izin padaku? Kamu masih peduli terhadap anak itu? Lihat kondisi mu, gara-gara dia dan adiknya, kamu jadi seperti ini. Kehadiran mereka selalu saja merusak kenyamanan rumah tangga kita, sama persis seperti ibunya!" hardik Ambar.


"Kamu membela mereka?" Ambar menatap nyalang putra semata wayangnya.


"Selama ini Ayah sudah banyak menuruti kata-kata Ibu. Kenapa ibu tak mau sekali saja mengikuti kemauan Ayah? Bukan aku membela mereka, tapi aku mencari keadilan untuk Ayah dan mereka. Selama ini mereka hidup tanpa Ayah, apa salahnya jika ibu mengizinkan Ayah menjadi Ayah Laila dalam waktu satu hari saja di hari pernikahan Laila? Aku mohon, jangan biarkan karma dan keburukan berbalik padaku nanti, aku takut ketidakadilan terhadap mereka nantinya akan menjadi bumerang bagi kehidupanku," ucap Restu.


"Kalian berdua memang sudah di racuni oleh anak-anak Marni." Ambar menggeser kursi dengan kasar lantas beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Seketika Syarif memegang jantungnya, rasa sakit dan sesak kembali di rasakan olehnya.


"Ayah!" Restu terkejut saat melihat Syarif memegang dada dengan napas pendek tersengal-sengal.


Ambar membalik badan, melihat penyakit suaminya kambuh ia pun panik.


"Puas kamu?" bentak Ambar pada Restu.


Restu segera menelpon Dokter keluarga yang biasa menangani Ayahnya saat drop seperti ini.


Syarif di baringkan di atas tempat tidur. Tak lama Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Syarif.


Restu dan Ambar menunggu di luar kamar. Mereka tampak tak berbicara satu sama lain dalam beberapa menit. Namun kemudian Ambar yang masih marah pada Restu pun mulai angkat bicara.


"Kamu lihat apa yang sudah kamu lakukan?" ucap Ambar.


"Ibu tak sadar jika ini adalah kesalahan ibu? Ayah sangat ingin menghadiri pernikahan Laila, tapi ibu melarangnya. Tolong kabulkan keinginan Ayah jika ibu tak ingin menyesal pada akhirnya," ucap Restu berkaca-kaca.


"Kita gak tau umur seseorang. Bagaimana jika ini adalah permintaan terakhir Ayah? Sudah banyak permintaan dan keinginan beliau yang tak pernah Ibu penuhi. Ibu terlalu menuruti ego hingga hilang rasa kemanusiaan pada diri ibu, maaf aku harus berkata seperti ini. Aku kecewa, karena ternyata ibu yang sangat aku hormati tak memiliki naluri sebagai seorang ibu saat melihat Laila dan Qadar terlantar. Haruskan aku mencontoh sikap dan perilaku mu?" tegas Restu penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Diam kamu Restu!" bentak Ambar dengan bahu bergerak turun naik saking emosinya wanita itu.


bersambung,


__ADS_2