Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 48


__ADS_3

Julian baru saja sampai di rumahnya. Ia berjalan gontai menuju lantai atas dimana kamarnya berada. Julian masih gak enak hati pada Laila karena perlakuan Alea.


Laila mungkin tak menunjukan kemarahannya, tapi gadis itu makin acuh dan hanya berbicara seperlunya saja pada Julian. Misi Julian untuk mendapatkan Laila tampaknya makin sulit saja.


"Julian!" sahut seorang wanita berambut coklat yang di gulung membentuk sanggul.


Julian menoleh membalik setengah badan.


"Nenek." Julian menunggu wanita yang ia sebut nenek itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa benar kamu sedang mendekati karyawan di kantor mu?" Wanita itu kini mulai melontarkan pertanyaan yang cukup mengejutkan bagi Julian.


Darimana Neneknya itu tau jika saat ini Julian sedang mengincar salah satu karyawannya yang tak lain adalah Laila. Julian mulai berpikir, hingga ia menemukan jawabannya. Ya, pasti Alea yang mengadu pada Neneknya ini.


"Iya Nek, Julian memang lagi suka sama seorang gadis yang sangat amat spesial." Julian terpaksa jujur bagaimana pun Neneknya berhak tau meski Julian masih dalam tahap pedekate dan belum mempunyai status apapun dengan Laila selain hubungan antara atasan dengan bawahan saja.


"Siapa gadis beruntung itu? Dan apa yang membuatnya terlihat spesial di mata mu?" tanya Nenek tersebut.


"Gadis beruntung?" Julian mengernyitkan kening.


"Iya gadis beruntung karena telah berhasil mencuri perhatian kamu." Nenek Julian menegaskan.


Julian tertawa kecil mendengar perkataan neneknya barusan.

__ADS_1


"Justru aku yang beruntung jika aku berhasil mendapatkan dia. Dia spesial karena memang pribadinya yang lain daripada yang lain. Dia sholeha." Mata Julian mengawang membayangkan Laila.


Nenek Julian memicingkan mata menatap cucu nya yang sedang kasmaran dan saat ini mungkin tengah membayangkan sosok gadis yang sedang ia puja.


"Sholeha?" Nenek Julian sedikit terkejut. Semula beliau membayangkan sosok gadis seperti yang biasa ia temui, yang tak jauh beda dengan Alea. Berpenampilan seksi, make up tebal dengan bedak 5cm di atas permukaan kulit, dan tentunya memandang Julian dari segi materi atau biasa di sebut cewek matre yang mengejar harta kekayaan Julian. Kebanyakan wanita yang mendekati Julian rata-rata seperti itu, tak jauh dari tipe-tipe Alea. Tapi setelah mendengar kata 'sholeha', Nenek Julian merasa ia sudah salah menilai. Bahkan kini dia penasaran dan ingin tau siapa gadis itu?


Sepertinya perkataan Alea tadi siang sempat membuatnya terhasut. Alea menjelekan gadis itu di hadapannya.


Wajar Alea menjelekan toh mungkin dia cemburu dan ingin menjauhkan Julian dari gadis itu. Wajar juga jika Julian justru mengagungkan karena dia memang sedang jatuh cinta pada sang gadis.


Nenek Julian tak mau mendengar dari mulut mereka saja tentang gadis itu. Dia harus tau siapa sebenarnya orang yang menjadi kontoversi antara Julian dengan Alea.


"Nek! Aku mau pesantren dong! Kalau enggak ajak Ustad atau siapa gitu ke sini buat ajarin aku ilmu agama yang lebih dalam," kata Julian makin mengejutkan Neneknya.


"Kamu gak lagi sakit, kan?" Wanita tua itu menempelkan punggung tangan di jidat Julian.


"Aish Nenek! Aku sehat," kata Julian.


"Habis nya aneh aja kok tiba-tiba kamu ingin belajar dan memperdalam ilmu agama. Kenapa gak dari dulu?" tegur beliau.


"Ya karena hidayahnya baru turun sekarang. Semenjak aku mengenal Laila." Senyuman mengembang di wajah Julian.


"Oh jadi namanya Laila?"

__ADS_1


"Lailatul Jannah."


"Masya Alloh, nama yang bagus." Puji Nenek Julian.


"Bagus, cantik secantik orangnya dan juga hatinya. Makanya aku ingin belajar agama karena aku ingin menjadi imam yang baik untuk Laila." Julian tampak antusias, membuat neneknya merasa senang melihat banyak perubahan pada diri Julian.


Perubahan menjadi lebih baik, sikap, kedewasaan dan ilmu. Laila sepertinya memang gadis baik-baik meski pun ia tak berasal dari keluarga terpandang seperti yang di katakan Alea. Namun Nenek Julian yakin jika Laila mampu membawa perubahan besar pada hidup Julian kelak, sekarang saja belum apa-apa sudah kelihatan efeknya apalagi kalau mereka benar-benar berjodoh. Rasanya Nenek Julian akan bahagia ketika cucu satu-satunya bisa mendapatkan pendamping hidup yang membawa pada keselamatan dunia maupun akhirat.


Tak hanya Julian saja kini yang berkhayal justru Nenek Julian pun ikut membayangkan, meski belum tau rupa Laila tapi beliau sudah bisa membayangkan seperti apa sikap gadis itu, penampilannya dan tutur bahasa nya.


"Kalau begitu Nenek akan bantu kamu, gimana?"


"Jadi nenek setuju nih?"


"Insyaallah Nenek setuju jika memang gadis bernama Laila itu memiliki ilmu agama yang baik."


"Ah Nenek memang terbaik! Makasih!" Julian memeluk wanita tua yang selalu pengertian kepada nya.


Lain dengan kedua orang tuanya yang selalu bersebrangan dengan keinginannya. Kedua orang tua Julian cenderung otoriter memaksakan kehendak mereka sendiri tanpa tau perasaan anaknya. Padahal Julian anak satu-satunya tapi mereka tak memanjakan Julian.


Dengan hati senang Julian melangkah pergi ke kamar, Neneknya hanya menatap punggung Julian yang kini mulai lenyap di balik pintu kamar.


Nenek Julian mulai berencana untuk bertemu dengan Laila besok siang di kantor.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2