Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 26


__ADS_3

Laila meremat amplop berwarna coklat yang di duga isinya adalah uang dengan jumlah yang banyak.


Laila memang butuh uang untuk mengganti uang Mira, tapi bukan ini yang dia inginkan dari Syarif. Mungkin Syarif berpikir dengan uang maka semua masalah akan selesai.


Dengan uang ia mampu membayar kesalahannya menelantarkan anak selama bertahun-tahun. Tidak!


Waktu, kenangan, kasih sayang yang tak ditemukan oleh Laila selama bertahun-tahun dari diri ayahnya tak akan bisa di bayar dengan uang. Meski sejatinya seorang ayah bertugas memberikan nafkah, tapi bukan begini caranya.


Laila dan Qadar butuh seseorang yang akan mengayomi mereka, mendidik, memberi perhatian dan kasih sayang.


Laila tak menyangka sekeras itu hati Ayahnya. Entah apa yang membuat ayahnya bisa berbuat sekejam itu pada anak sendiri. Apakah karena keluarganya? Restu juga Tante Ambar.


Rasa tak adil yang Laila rasakan saat ini. Ayah yang selama ini ia dan Qadar rindukan rupanya tak sebaik yang di bayangkan.


Laila mencoba untuk tak membenci Syarif karena bagaimana pun beliau adalah ayah kandungnya. Namun luka yang di torehkan sepertinya akan membekas sampai Laila besar nanti.


Laila duduk di tembok dekat gerbang sekolah. Ia menatap amplop berisi uang pemberian ayahnya. Laila pikir uang ini akan ia serahkan pada Handoko untuk keperluan sehari-hari dan biaya sekolah Qadar.


Jam pulang pun tiba, Qadar berjalan keluar kelas. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Dita sedang bersama teman-temannya di belakang kelas yang mana tempat itu jarang di lewati oleh murid-murid. Kebetulan Qadar menoleh ke arah situ.


"Kak Dita kok makan sama minum? Bukannya ini bulan puasa?" suara Qadar yang polos terdengar oleh Dita dan temannya.


"Siapa tuh Dit?" tanya salah satu teman Dita.


"Sepupu aku dari kampung!" jawab Dita kini menghampiri Qadar.


"Jangan sekali-kali mengadu pada ayah dan ibuku kalau aku gak puasa!" kata Dita sedikit mengancam.


Qadar menggelengkan kepala, ia takut pada Dita yang judes dan galak.


"Bagus! Sana cepet pergi! Awas kalau sampai berani bilang, aku usir dari rumah!" kata Dita sambil mendorong Qadar agar segera pergi dari tempat itu.


Tiba di gerbang Qadar segera menghampiri Laila Kakaknya yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang tersebut.

__ADS_1


"Kak Laila, tadi Qadar lihat Kak Dita lagi buka puasa sama temannya di pojok sekolah." Qadar akhirnya mengatakan hal itu pada Laila.


Sulit baginya menutupi apapun pada Laila.


"Tapi Kak Dita bilang agar aku gak ngadu sama Paman dan Bibi soal itu. Kakak juga jangan bilang ke mereka ya!" kata Qadar.


"Kakak gak akan bilang kok, lagian itu urusannya dia bukan kita," ucap Laila.


Detik kemudian mereka sampai di rumah.


"Asyik Bang Qadar udah pulang! " teriak Aldo dengan senangnya.


"Kamu nungguin ya?" tanya Qadar menghampiri Aldo yang berada di teras rumah.


"Iya bang, aku nunggu Abang soalnya kalo main sendirian gak seru!" ucap Aldo mengerucutkan mulutnya.


"Ya udah tunggu bentar, Abang ganti baju dulu abis itu kita main." Qadar menyimpan sepatu ke rak plastik yang berada di teras.


Qadar masuk untuk berganti pakaian terlebih dahulu setelah itu baru dia akan bermain dengan Aldo sepupunya.


"Bibi jualan takjil lagi?" Tanya Laila sopan.


Mira hanya diam tak menoleh ataupun berbicara padanya. Hal itu membuat Laila makin tak enak hati.


Mira melakukan pekerjaannya dengan kasar, khas orang marah-marah yang melampiaskan kemarahannya itu pada benda-benda yang ia pakai. Hingga terdengar bunyi berisik dari perabotan dapur yang ia gunakan. Sesekali membuat Laila mengerjapkan mata dan terlonjak kaget saat mendengar suara itu.


Segera Laila masuk ke kamar di sana sudah ada Qadar baru selesai ganti baju dan hendak main bersama Aldo.


Saat Qadar keluar, Laila segera menutup pintu. Ia mengeluarkan sejumlah uang pemberian Syarif tadi. Menghitungnya untuk di berikan pada Mira sebagian dan sebagian lagi akan ia titipkan pada Handoko.


Laila sebenarnya ragu memberikan uang itu pada Mira tapi bagaimana pun dia harus mengganti uang yang di copet kemarin lusa. Meski nantinya Mira pasti akan mempertanyakan darimana Laila memiliki uang tersebut.


Laila kembali keluar dari kamar dengan membawa sejumlah uang di tangan.

__ADS_1


Laila mendekati Mira yang masih sibuk dengan pekerjaan nya membuat takjil.


"Bi ini aku ganti uang yang hilang waktu itu." Laila menyimpan uang di atas meja makan.


Mira yang berada di hadapannya menoleh sekilas pada uang yang di simpan Laila.


"Dapet nyuri dari mana lagi?" cicit Mira dengan entengnya menuduh Laila yang bukan-bukan.


Sudah Laila duga pasti Mira akan berkata demikian.


"Uang ini halal Bi, bukan hasil curian," kata Laila.


"Masa? Kenapa gak dari kemarin kamu ganti uangnya kalau emang kamu punya?"


"Oo, aku tau pasti baru dapet tadi di sekolah kan? Ngaku deh nyuri sama siapa kamu, huh?" lanjutnya.


"Bukan bi, aku gak nyuri. Aku dapat uang ini dari hasil penjualan perhiasan peninggalan ibu." Laila terpaksa berbohong.


"Oh si Marni punya simpanan perhiasan juga? Warisan kamu dong? Pasti cuma segitu saja peninggalan dia kan? Gak mungkin si Marni punya banyak perhiasan. Duit dari mana dia?" Mira masih saja merendahkan.


"Bibi mau terima uang ini atau tidak? Kalau tidak, biar aku bawa lagi uangnya! Aku udah punya niat baik untuk ganti tapi kalau bibi gak mau ya udah!" Laila hendak kembali mengambil uang yang ia simpan tadi di atas meja.


Seketika Mira sudah lebih dulu menyambar uang tersebut.


"Jangan! kok di ambil lagi? Kalau mau ganti yang ikhlas," gerutu Mira sambil memasukkan uang tadi ke dalam saku dasternya yang tertutup oleh celemek.


Laila menghela napas kasar, menghadapi Mira di saat hatinya kacau sungguh hanya menambah emosinya saja.


"Mau aku bantu bikin takjil nya?" tanya Laila.


"Iya bantuin dong, ini aku repot sendiri dari tadi!" Mira menyodorkan beberapa wadah ke hadapan Laila.


'Dari tadi juga udah mau aku bantu kali, Bi! Bibinya aja yang merajuk,' batin Laila.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2