Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 31


__ADS_3

Syarif menghentikan motornya di sekitar area masjid komplek Agria Regency. pandangan yang mengedarkan sekeliling mencari-cari sosok Handoko yang kemungkinan saat ini hendak pergi tarawih.


Sementara Restu yang mengikutinya pun berada tak jauh darinya. Restu mengamati apa yang sedang di lakukan Syarif. Sengaja ia tak menghampiri ayahnya dulu sebelum tau apa yang hendak di katakan ayahnya itu pada Handoko jika memang mereka berdua di haruskan bertemu.


Entah kebetulan atau memang takdir bagi mereka berdua. Tiba-tiba saja Handoko muncul dari arah berlawanan. Ia sedang berjalan bersama Laila, Qadar dan Aldo yang sepertinya hendak memasuki halaman mesjid.


Syarif yang melihat mereka pun segera turun dari motor. Dengan langkah besar Syarif menghampiri Handoko dan yang lainnya.


Handoko sempat terkejut saat melihat ada Syarif yang kini berjalan mendekat ke arahnya.


Begitupun dengan Laila dan Qadar mereka sangat kaget melihat keberadaan Syarif.


"Kak, itu bukannya ayah kak Restu?" tanya Qodar dengan polos, ia memang belum tahu siapa sebenarnya Syarif.


Laila hanya memberi sebuah anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang Qadar lontarkan.


Sementara hati Laila bertanya-tanya, ada apa Ayahnya datang ke sini?


"Kalian boleh masuk duluan, paman mau bicara sama beliau sebentar. " Handoko meminta ketiga anak itu untuk segera masuk ke dalam mesjid.


Sebenarnya Laila ingin sekali tahu apa yang akan dibicarakan oleh ketua pria dewasa itu. Tapi sepertinya Handoko melarangnya untuk tetap berada di sana, apalagi saat ini ada Qadar dan Aldo yang harus ia jaga. Selain itu Qadar memang harus di jauhkan dari mereka karena mungkin mereka akan membahas tentang dirinya dan Qadar.


"Ayo kita masuk." Laila meraih lengan kedua anak kecil itu membimbing mereka masuk ke area mesjid.


Sementara Syarif kini sudah sampai di hadapan Handoko. Sempat ada kontak mata antara Syarif dengan Laila, sebelum akhirnya Laila meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Ada perlu apa kamu datang kemari? Apa kamu sudah sadar dengan kesalahanmu yang tidak mengakui kedua anakmu itu? Atau justru sebaliknya kamu ingin mengancamku untuk tidak membeberkan kebusukanmu di depan Istri dan anakmu itu?" tanya Handoko bertubi-tubi.


"Aku ingin memperingatkan agar kalian tidak mengganggu kehidupanku sekarang. Aku titipkan kedua anak itu padamu, tenang saja aku akan memberikan semua kebutuhan mereka. Nanti akan aku transfer setiap bulannya, asalkan jangan sekali-kali kamu membocorkan rahasia ini pada keluargaku," tegas Syarif.


"Perlu kamu tahu sebelum menikah dengan Marni aku sudah lebih dulu menikah dengan Ambar dan memiliki anak yaitu Restu. Karena itu mereka lebih berhak daripada Laila dengan Qadar," lanjutnya.


Syarif mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. secarik kertas yang diduga adalah sebuah cek dengan nominal yang besar. Syarif menyerahkan cek tersebut pada Handoko.


"Uang ini jumlahnya lumayan besar mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan Laila dan Qadar beberapa bulan ke depan. Jika habis akan aku tambah lagi, tapi ingat kita harus sepakat akan tetap menutupi semuanya dari Ambar dan Restu. Sekarang Restu sudah tahu tentang selebaran yang kalian buat karena itu kalian harus cari alasan yang tepat untuk menjelaskan padanya agar dia tidak curiga padaku. Katakan apa saja yang bisa membuat dia percaya pada kalian," titah Syarif penuh penekanan.


Mendengar ucapan Syarif barusan Handoko tahu jika saat ini Syarif begitu tertekan dan ketakutan jika kebusukannya akan segera ketahuan oleh keluarganya. Handoko makin geram karena ternyata Syarif sama sekali tidak punya niat untuk mengakui Laila dan Qadar. Syarif begitu egois menurutnya karena lebih memilih mementingkan Ambar dan Restu ketimbang anak-anak yang masih kecil yang seharusnya mendapatkan hak yang sama dari nya.


Bukan hanya sekedar materi yang Laila dan Qadar butuhkan tetapi kasih sayang perhatian dan pengakuan dari seorang ayah. Namun pada kenyataannya Syarif sama sekali tak ingin mengakui mereka sebagai anaknya. Jika memang Ambar dan Restu tidak boleh tahu akan hal ini setidaknya Syarif mengakui Laila dan Qadar di belakang mereka. Meski harus sembunyi-sembunyi memberikan perhatian pada Laila dan Qadar, itu akan lebih baik ketimbang mengganti semuanya dengan uang.


Handoko tak mau kalah, tangannya sudah sangat gatal ingin memukul Syarif sejak sore tadi bertemu. Dan sekarang saatnya untuk dia melampiaskan semua kekesalannya pada Syarif.


Aksi saling pukul pun terjadi di antara mereka berdua. Sayangnya keadaan di luar masjid sudah cukup sepi karena orang-orang sudah masuk ke dalam masjid dan mulai beribadah. Sehingga tak ada yang melerai perkelahian mereka.


Restu yang berada tak jauh dari sana hanya bisa diam mendengarkan dan menyaksikan keduanya. Ia rasa Syarif ayahnya pantas mendapatkan pukulan-pukulan dari Handoko.


Orang tua mana yang tega tidak mengakui darah dagingnya sendiri? Ayah mana yang begitu kejam dengan sengaja menelantarkan anak-anaknya? Hanya Syarif yang mampu berbuat demikian. Restu membiarkan mereka berkelahi. Restu tahu seberapa marahnya Handoko terhadap Syarif. Restu membiarkan Handoko melepaskan semua kemarahannya terhadap Syarif.


Sementara itu di masjid, hati Laila merasa tak tenang. Hingga Ia pun segera keluar dari masjid setelah mengantar Qadar dan Aldo.


Ia bahkan sempat mendengarkan pembicaraan antara Handoko dan Syarif sebelum akhirnya keduanya berkelahi. Namun seperti Restu, Laila pun tampaknya tak bisa melerai mereka berdua. Tanpa Laila sadari Qadar pun turut mengikutinya dari belakang. Anak kecil itu tampaknya sangat penasaran atas kedatangan Syarif menemui Handoko.

__ADS_1


Tak hanya Laila yang menyaksikan mereka berdua bahkan Qadar kini sudah tahu siapa sebenarnya Syarif. Aldo yang berusia 5 tahun yang kini berada di samping Qadar pun sedikit nya mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Handoko dan Syarif.


Saat melihat darah mengalir di sudut bibir Handoko pamannya, Laila segera berlari menghampiri mereka berdua hendak menghentikan pertengkaran kedua pria yang tak lain adalah ayah dan pamannya sendiri.


"Cukup! Hentikan!" desis Laila.


Seketika keduanya menghentikan aksi pukul memukul mereka ketika mendengar suara teriakan Laila.


Handoko mengusap kasar darah di sudut bibirnya.


"Jangan pernah sakiti Paman ku!" Laila berkata lantang dengan menatap tajam manik mata Syarif.


"Aku takkan menyakitinya jika dia mau menuruti permintaanku," ucap Syarif tanpa merasa berdosa sedikitpun.


"Baik! Mulai detik ini aku dan Qadar bukanlah anak mu! Kami tak akan pernah menemui mu, mengganggu kehidupan mu lagi. Kami akan mengubur semua harapan tentang sosok bergelar Ayah yang kami pikir akan menjadi malaikat penolong kami di saat terpuruk seperti ini. Tapi nyatanya aku dan Qadar salah! Sosok Ayah yang kami idamkan ternyata sama sekali tak ada pada dirimu. mungkin kamu bisa menjadi Ayah paling baik bagi Restu. Tapi tidak untuk kami. Perlu kamu tahu aku ataupun Qadar tak pernah meminta terlahir di dunia ini sebagai anak mu. Justru kamulah yang harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas kami," tegas Laila menahan air mata yang membuat matanya terasa panas dan memerah.


Syarif seakan terus menghujam hatinya dan menggoreskan luka batin di dalamnya. Luka yang tidak akan pernah sembuh dalam waktu sebentar. Yang juga menghajar mentalnya habis-habisan.


Lidah Syarif seakan kelu mendengar perkataan Laila barusan. Ia seakan tertampar oleh ucapan anak berusia 15 tahun itu. Namun sayang bukannya sadar, ego Syarif malah makin tinggi jika di desak dan dinasihati seperti demikian.


Syarif hendak berlalu pergi dari hadapan mereka. Ia berlari menyeberang jalan di mana motornya terparkir di seberang sana. Namun siapa sangka Qadar yang tahu jika Syarif adalah ayahnya kini ia mengejar pria itu. Saat yang bersamaan sebuah mobil melintas dari arah lain dan kecelakaan pun tak dapat dihindarkan. Qadar tertabrak oleh sebuah mobil yang kebetulan melintas saat ia hendak menyeberang.


"Qadar!" jerit Laila saat melihat tubuh Qadar terpental dan terhempas beberapa meter di jalan raya.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2