
Handoko membukakan pintu ruangan dimana saat ini Qadar di rawat. Laila yang sedang menemani Qadar saat itu segera menoleh saat pintu dibuka oleh Handoko.
"Paman--," Laila menghentikan kalimatnya saat melihat siapa yang datang bersama Handoko pamannya.
Syarif ayahnya berjalan di belakang Handoko. Seakan tak percaya jika ayahnya kini datang menjenguk Qadar yang sedang sakit.
"Laila, Paman ajak ayahmu kesini untuk memberi suport pada Qadar. Mudah-mudahan setelah bertemu beliau, Qadar bisa cepat siuman," kata Handoko.
Laila tak berkata sepatah katapun, ia segera keluar dari ruangan tersebut memberi ruang untuk Syarif ayahnya berdua bersama Qadar di dalam. Restu mengikuti langkah Laila, mereka duduk di kursi tunggu yang berderet di depan ruangan.
"Jadilah ayah Qadar dalam satu atau dua jam saja. Curahkan kasih sayang mu sebagai seorang ayah agar Qadar bisa lekas sadar dan sembuh kembali, mungkin dengan cara itu Qadar bisa merasakan apa yang seumur hidupnya tak pernah dia rasakan. Semoga usaha kita ini berhasil mengembalikan kesadaran Qadar," ucap Handoko sebelum ia beranjak keluar.
Handoko bergegas keluar dari ruangan, menutup pintu dengan rapat membiarkan Syarif berdua dengan Qadar yang terbaring di ranjang.
Kini hanya tinggal Syarif dan Qadar di dalam. Syarif menatap wajah polos yang terlihat lemah tak berdaya itu.
Syarif mendekat duduk di samping Qadar dengan mata tak lepas dari wajah bocah itu.
Bayangan Marni seketika menyelinap antara kerisauan hati Syarif. Seakan mengajaknya untuk mengenang masa lalu yang pernah mereka lewati. Hidup bersama dengan penuh cinta meski dalam kesederhanaan.
Syarif ingat saat Marni memberitahu kehamilan keduanya yang kebetulan saat itu menginjak di bulan ramadhan. Marni mengatakan ingin memberi nama Qadar jika Allah mengaruniakan anak laki-laki di kehamilan keduanya itu. Menurut Marni nama Qadar akan cocok saat di satukan dengan nama kakaknya Lailatul. Nama yang penuh makna ketika di satukan menjadi Lailatulqadar. Yang berarti malam istimewa dimana di turunkan kitab suci dari Lauh Al- Mahfudz ke Baittul Izzah.
Rupanya Allah mengijabah keinginan Marni. Seorang bayi laki-laki lahir ke dunia, namun saat itu Syarif tak berada di samping istrinya yang tengah berjuang melahirkan Qadar. Kini anak laki-laki itu sudah besar dan berada tepat di hadapannya. Sayangnya anak laki-laki itu kini sedang berjuang melawan rasa sakit akibat kecelakaan yang menimpanya.
Ragu-ragu Syarif menyentuh jemari Qadar dimana menempel alat-alat medis pada tangan bocah tersebut.
Seketika Syarif merasakan aliran darah mengalir di sekujur tubuhnya, ada sesuatu yang sulit di ungkapkan oleh sekedar kata, sesuatu terasa menyesakan dada pria itu.
__ADS_1
Di pandanginya wajah Qadar yang terlihat begitu tenang. Anak sekecil Qadar harus merasakan sakit seperti sekarang ini, membuat tak tega bagi siapapun yang melihat kondisinya. Berbagai alat bantu medis terpasang di beberapa bagian tubuh mungilnya. Syarif menatap miris pada Qadar.
"Qadar, nak!" suara lirih bergetar masih dengan keraguan menyelimuti hati Syarif.
"Maafkan ayah nak, selama ini ayah meninggalkan kamu, ibumu dan juga Laila. Ayah terpaksa melakukan semuanya. Semoga kelak kamu bisa mengerti posisi ayah sekarang ini. Ayah bingung, satu sisi ayah harus mempertahankan rumah tangga dengan Ambar istri ayah sama dengan ibu mu. Di sisi lain ayah punya tanggung jawab pada kamu dan Laila. Ayah bingung harus berbuat apa," ucap Syarif bibirnya mulai bergetar saat berbicara.
Sementara yang dia ajak bicara hanya diam dengan mata terpejam. Namun senyatanya Qadar seakan sedang mendengar cerita dan keluh kesah Syarif, entah seperti dalam mimpi atau alam bawah sadar Qadar dapat merasakan keberadaan Syarif di sampingnya saat ini.
"Ayah yakin kamu dan Laila adalah anak-anak kuat seperti ibumu. Maaf jika ayah tidak bisa menjadi sosok yang kalian inginkan. Keadaan membuat kita harus terpisah, ayah harap kamu bisa mengerti. Tapi ayah mohon saat ini kamu harus sembuh, kembali sehat seperti sebelumnya. Jaga Laila kakakmu, hanya kamu yang bisa ayah andalkan sebagai pengganti ayah dalam keluarga kita. Kalian harus saling menyayangi satu sama lain, berjuang bersama menempuh kehidupan kalian yang masih panjang, dan lupakan ayahmu yang sangat egois ini," lanjut Syarif.
Seketika jemari kecil dalam genggaman Syarif bergerak memberikan respon. Syarif yang sudah meneteskan air mata tampak bergantian menatap wajah Qadar dan jemari kecil anak itu.
Namun tiba-tiba saja terdengar bunyi dari monitor yang terhubung dengan selang-selang yang menempel pada tubuh Qadar.
Anak itu bergerak membusung seperti sedang meregang nyawa. Keadaan tersebut membuat Syarif panik. Segera dia keluar memberitahu Handoko dan yang lainnya.
Handoko yang semula duduk kini berdiri dengan terkejut saat melihat Syarif yang tiba-tiba saja keluar ruangan dengan ekspresi tegang dan panik.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Qadar?" tanya Handoko.
"Qadar! Dia.. " Syarif gugup ia hanya mengarahkan telunjuknya ke dalam tanpa bisa meneruskan kalimatnya lagi.
Laila dan Restu pun tak kalah panik melihat kelakuan Syarif saat ini. Mereka segera masuk ke dalam memastikan jika Qadar baik-baik saja.
Namun mereka salah, Qadar nampak bergerak tak karuan dengan dada terangkat dan napas terputus-putus. Bergegas Restu lari memanggil dokter dan perawat. Dia bahkan melupakan tombol yang berada di ruangan Qadar yang berfungsi untuk memanggil Dokter dan perawat. Saking paniknya ia melupakan hal tersebut.
Kaki Laila lemas bergetar, ia hampir saja ambruk tak bisa menopang tubuhnya yang semakin lemas. Beruntung Syarif segera menangkap tubuh Laila, menahannya agar tak jauh pingsan.
__ADS_1
Wajah Laila basah di banjiri air mata, ia takut sangat takut kehilangan Qadar.
Tak lama Dokter dan dua orang perawat pun masuk ke ruangan di ikuti oleh Restu di belakang mereka.
"Dok apa yang terjadi pada ponakan saya?" Handoko langsung menyodorkan pertanyaan pada Dokter tersebut.
"Sebaiknya kalian tunggu di luar, agar kami bisa memeriksa pasien." Dokter menyarankan mereka untuk keluar dari ruangan.
"Tapi... " Handoko seakan berat meninggalkan Qadar sendirian dalam kondisi gawat seperti ini.
"Percayakan semuanya pada kami," ucap salah satu perawat karena Dokter tadi langsung memberi tindakan pada Qadar.
Perawat itu menggiring Handoko keluar ruangan, Restu pun mengikuti dengan ragu dan gelisah.
"Laila mau di sini! " Pekik gadis itu meronta saat Syarif membawanya keluar.
"Laila kita adikmu harus di periksa, biarkan Dokter dan perawat melakukan tugas mereka dengan baik tanpa ada gangguan dari kita." Syarif mencoba memberi penjelasan.
Laila berontak tak mau mendengar Syarif berbicara, keadaan tubuh yang lemah membuat Laila tak bisa berbuat banyak yang akhirnya ia tetap di bawa keluar oleh ayahnya itu.
"Qadar! Qadar jangan tinggalkan kakak. Kamu harus kuat!" jerit tertahan Laila di iringi tangis menyayat hati. Bahkan Lila berusaha menggedor pintu ruangan tersebut.
"Laila tenang nak! Kita berdoa, Qadar pasti baik-baik saja. " Handoko segera membawa Laila dalam pelukannya.
Kini Laila berhenti meronta dan menumpahkan air mata di dada Pamannya. Syarif hanya bisa terdiam mematung menyaksikan Handoko yang bisa menenangkan Laila sementara dirinya yang notabene nya ayah Laila tak bisa membuat gadis itu tenang.
bersambung,
__ADS_1