
Handoko sudah mendaftarkan Qadar ke salah satu sekolah. Dan hari ini hari pertama Qadar masuk sekolah. Seragam baru sudah Handoko belikan untuk Qadar, karena seragam lama anak itu tampaknya sudah tak layak pakai.
Warna kemeja putihnya sudah terlihat kusam dan menguning, Handoko tak tega jika Qadar harus memakai pakaian kumal seperti itu. Begitupun dengan sepatu Qadar yang sudah bolong dan sobek. Handoko pun membelikan sepatu baru juga perlengkapan sekolah lainnya untuk Qadar.
Melihat itu Mira tampak cemberut pasalnya tanggal gajian masih tinggal beberapa hari lagi tapi Handoko bisa belanja semua perlengkapan sekolah untuk Qadar.
" Punya uang dari mana kamu bisa beli barang-barang ini?" tanya Mira dengan kesal.
" Aku pinjam sama teman kerja dulu, nanti gajian aku ganti." Handoko menjawab jujur, ia rasa Mira tak akan keberatan dengan apa yang di lakukannya.
Tapi ternyata dia salah, Mira justru akan mempermasalahkan apapun yang berkaitan dengan Laila dan Qadar apalagi soal uang.
"Apa? Dari uang gaji? Kalau gitu jatah aku berkurang. Enggak! Pokoknya aku gak mau tau, urusan utang kamu ya kamu yang bayar jangan potong jatah bulananku!" cerocos Mira.
"Mau gimana lagi, Mir? Aku butuh segera uang itu karena Qadar harus secepatnya masuk sekolah, toh ujung-ujungnya nanti dari gaji itu juga. Masih untung ada yang mau ngasih pinjaman, kalau gantinya bukan dari gaji mau dari mana lagi?" kata Handoko meminta pengertian istrinya.
"Ya terserah kamu. Aku gak mau uang bulananku kepotong sama keperluan mereka. Udah jatah makan sehari-hari kita juga bertambah, eh harus di pangkas juga uang bulanannya. Makanya kalau mau rawat anak orang tuh mikir dulu! Udah mampu enggak buat memenuhi kebutuhan mereka? Kebutuhan keluarga saja masih aku yang tutupin kekurangannya, sok-sok mau bantu sodara!" sungut Mira.
"Mir, manusia itu sudah di beri rezeky masing-masing, jangan takut kekurangan hanya karena ada Laila dan Qadar numpang di sini. Siapa tau karena adanya mereka rezeky kita bertambah, jangan itung-itungan apalagi mereka itu anak Mbak Marni kakakku. Mereka anak piatu bahkan mungkin yatim piatu yang harus kita rangkul," ucap Handoko mengingatkan.
"Halah,, kalau mau ceramah di mesjid sana! Kamu enak, tau nya kerja dapat duit terus kasih ke aku entah cukup atau enggak tuh duit yang kamu kasih, kamu gak mau tau kan? Akhirnya aku yang pusing ngatur duit yang hanya sisa bayar sana sini, ujungnya aku juga yang repot harus cari tambahan dengan berjualan. Kalau uang kamu lebih aku gak akan banyak ngomong!" Mira melengos pergi untuk menyiapkan sarapan.
Handoko hanya mengelus dada menghadapi istrinya. Sebagai kepala keluarga Handoko memang cukup lemah, yang memegang kendali hanya Mira di sini bukan dirinya.
Dengan kasar Mira menyiapkan piring dan gelas untuk sarapan. Mukanya di tekuk sedemikian rupa. Melihat ekspresi Mira, Laila merasa makin tak enak hati apalagi Laila sempat mendengar cek-cok antara Mira dan Handoko pamannya di kamar.
Gara-gara Laila dan Qadar, mereka jadi sering berantem. Itu yang ada dalam benak Laila saat ini.
Dita muncul ke ruang makan sambil terus membawa ponsel tanpa memperhatikan lantai yang sedang Laila pel. Dengan entengnya ia berjalan memakai sepatu. Laila menghela napas panjang melihat Dita yang sama sekali tak menghargai pekerjaannya. Lantai yang sudah bersih kini kembali kotor akibat sepatu Dita. Terpaksa Laila mengulang kembali membersihkan lantai itu dengan lap pel.
Dita, Handoko, Aldo, Mira dan Qadar kini sudah duduk di meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
Kali ini Mira mengizinkan Qadar sarapan bersama hanya karena anak itu akan pergi ke sekolah. Sedang Laila masih sibuk dengan pekerjaan bersih-bersih rumah.
"Dit, kamu berangkatnya bareng sama Qadar ya! Soalnya kalian satu sekolahan, biar irit ongkos juga kamu kan pake motor," ucap Handoko.
"Ah,,enggak mau! Aku mau pergi bareng temen, sekarang juga dia udah nunggu di depan rumahnya. Gak mau, gak mau! " sungut Dita sambil sibuk mengunyah.
"Biarin dia naik angkot saja, nanti aku kasih ongkos! " ucap Mira berlagak baik daripada Qadar harus numpang sama Dita mending dia mengeluarkan sedikit uang untuk ongkos anak itu.
" Tapi nanti kedepannya ongkos Qadar urusan kamu ya, sekali ini aja deh sampai kamu gajian," ucap Mira.
Laila mendengar percakapan mereka di dapur, ia yang sedang sibuk bersih-bersih di ruang tv pun melamun.
"Tapi kasihan kalau Qadar naik angkot, dia kan belum tau sekolahnya dimana," ucap Handoko.
" Kalau gitu antar sana sama kamu!" Mira menggerakan dagunya.
"Kantor sama sekolah anak-anak gak searah kalau satu arah aku gak bakal minta Dita barengan sama Qadar. Aku nanti bisa telat datang ke kantor," ucap Handoko.
"Biar saya saja yang antar Qadar sekolah, sekalian saya ingin tau daerah sini. Nantikan Bibi Mira bisa nyuruh saya kalau saya udah tau daerah sini, kalau misal mau beli apa-apa." Laila menghampiri mereka.
" Saya ada sedikit uang tabungan, gak banyak tapi ada buat seminggu ongkos Qadar ke sekolah," ucap Laila.
"Syukurlah jadi aku gak perlu repot-repot keluarin duit buat kalian," ucap Mira.
"Aku berangkat dulu ya! " Handoko berlalu dari sana, ia harus bergegas pergi menuju tempat kerja.
Begitupun dengan Dita, ia pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor matic.
Sementara Laila dan Qadar mulai berjalan ke depan rumah menuju jalan raya dimana mereka akan menunggu angkot untuk bisa berangkat ke sekolah nya Qadar.
Dari rumah ke sekolah hanya satu kali naik angkot berwarna hijau. Tak sulit mencari sekolah apalagi di angkot yang sama pun banyak penumpang yang satu tujuan dengan Laila dan Qadar. Rata-rata anak satu sekolah yang menaiki angkot tersebut.
__ADS_1
Angkot pun menepi di depan pintu gerbang sebuah sekolah. Laila dan Qadar segera turun. Laila menatap besarnya bangunan sekolah di tempat ini. Sungguh bagus pikirnya, tak seperti sekolahnya di kampung yang bangunannya saja hampir roboh. Entah tak tersentuh bantuan pemerintah atau ada oknum lain yang menjadi alasan buruknya bangunan tempat pendidikan di kampungnya.
"Maaf dek, kamu gak bisa ikut masuk!" ucap Satpam menahan langkah Laila yang hendak mengantar Qadar masuk ke dalam.
"Tapi adik saya ini baru sekolah di sini, khawatir dia nyasar karena tak tau dimana kelasnya. Boleh saya antar sebentar nanti saya kembali lagi ke sini," pinta Laila.
Tak jauh dari tempat dimana Laila dan Qadar berdiri tampak seseorang memperhatikan mereka. Namanya Restu, seorang anak laki-laki berusia 17tahun yang juga sekolah disana.
" Ada apa ini Pak? " tanya Restu.
" Ini katanya mau antar adiknya yang baru masuk ke sekolah ini." Satpam menunjuk Laila.
Restu menoleh pada gadis berpakaian sederhana itu.
"Murid baru?" tanya Restu.
"Iya, adik saya murid baru di sini. Saya mau antara dia ke kelasnya tapi sama pak satpam,,"
" Biar aku yang antar. Kelas berapa?"
"Kelas 2B."
" Di sini peraturan cukup ketat gak bisa sembarang orang keluar masuk kecuali siswa di sekolah ini. Kamu gak sekolah?" tanya Restu pada Laila.
Laila menggeleng pelan.
"Ya sudah, kamu percayakan sama aku? Aku antara adikmu sampai kelasnya," kata Restu.
Laila mengangguk sambil berkata, " makasih."
"Sama-sama." Restu pun mengajak Qadar masuk ke dalam gerbang setelah Qadar menyalami kakaknya lantas anak kecil itu melambaikan tangan pada Laila.
__ADS_1
" Kakak tunggu di sini ya, yang pinter belajarnya! " seru Laila.
bersambung,