
Syarif yang sedang berada dalam perjalanan tiba-tiba mengeluh sakit di bagian dadanya. Sepertinya penyakit jantungnya mulai kumat akibat stres yang berlebihan akhir-akhir ini.
Suara adzan Maghrib terdengar berkumandang. Syarif menepikan mobilnya di satu tempat yang mana banyak berjejer pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Ia harus menghentikan sejenak perjalanan menuju rumahnya untuk berbuka dan meredakan rasa sakit di dadanya yang terasa makin nyeri dan sesak.
Dengan susah payah ia turun dari mobil. Naas ia nampaknya sudah tak kuat lagi menahan rasa nyeri di bagian dadanya itu hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Beberapa warga yang melihat dirinya tersungkur di atas aspal pun segera berlari menolong.
Mereka cukup panik mendapati seorang pengendara yang tiba-tiba saja pingsan di jalan raya. Segera mereka membawa Syarif ke klinik terdekat dari tempat tersebut.
Dengan menggunakan sebuah mobil angkutan umum yang kebetulan berada di sana Syarif di larikan ke klinik.
Salah satu di antara warga mencoba menghubungi pihak keluarga Syarif. Mereka menemukan sebuah kartu nama dari dalam dompet Syarif dan di kartu nama itu terdapat nomor telepon rumah.
"Hallo apa benar ini dengan keluarga bapak Syarif Erlangga?" ucap salah satu warga yang menelpon.
"Iya betul saya istrinya, ini dengan siapa, maaf!" kebetulan yang saat itu yang mengangkat telepon adalah Ambar karena para pembantu yang bekerja di rumahnya sudah mulai mudik ke kampung halaman.
"Saya menemukan suami ibu pingsan di jalan. Sekarang suami ibu kami bawa ke klinik Yusa Medika di jalan Cempaka. "
"Terima kasih informasinya, saya akan segera kesana." Ambar begitu panik setelah menerima telepon dari orang yang sudah menemukan dan menolong suaminya yang pingsan di jalan.
"Ada apa Bu?" Restu memperhatikan ibunya saat menelepon dan kini wajah ibunya terlibat begitu panik.
"Ada salah seorang pria memberitahu kalau saat ini ayahmu berada di klinik Yusa Medika di jalan Cempaka," jawab Ambar.
"Kenapa sama ayah?"
"Katanya ditemukan pingsan di jalan. Kita harus segera kesana. Ibu ganti baju dulu, kamu siapin mobil ya!" titah Ambar bergegas ke kamar setelah memerintahkan Restu.
"Baik Bu." Restu segera menuju garasi untuk memanaskan mesin mobil.
Tak lama Ambar keluar dari rumah, ia mengunci semua pintu lalu berjalan menuju garasi dimana Restu menunggunya.
__ADS_1
"Biar aku yang nyetir, Bu!" kata Restu melihat ibunya sepanik itu ia tak mau sampai terjadi apa-apa di jalan jika membiarkan ibunya harus menyetir.
Mobil mereka pun melaju meninggalkan halaman rumah, bergerak menuju jalan Cempaka dimana saat ini Syarif berada.
Dengan rasa cemas dan khawatir Ambar tak bisa tenang duduk di jok di samping Restu. Ia terlihat begitu gelisah.
Di klinik Yusa Medika. Syarif baru saja sadarkan diri. Seorang pria mendekat saat mengetahui Syarif sadar.
"Bapak siapa? Dan dimana saya?" tanya Syarif.
"Tadi saya menemukan bapak pingsan di jalan, makanya saya bawa bapak ke klinik ini. Sebentar lagi keluarga bapak datang, saya sudah menghubungi mereka," kata warga yang menolong Syarif tadi.
"Makasih, Pak. " Syarif baru ingat jika dia tadi sempat sesak napas dan dadanya sakit. Bahkan sekarang pun terdapat beberapa selang alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Sama-sama. Saya keluar dulu, cari Dokter biar periksa bapak lagi." Pria itu keluar dari ruangan untuk memberitahu Dokter jika orang yang ia tolong tadi sudah siuman.
Namun saat melewati lobi ia melihat seorang wanita bersama anak remaja laki-laki yang menanyakan ruangan Syarif Airlangga. Segera pria itu menghampirinya.
Ambar menoleh lantas mengangguk cepat.
"Mari ikut saya!" ajak pria itu.
Mereka pun berjalan melewati koridor untuk menuju ruangan dimana Syarif berada.
"Ayah!" Ambar bergegas mendekati ranjang dimana suaminya terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Apa yang terjadi sama ayah? Apa ayah sakit?" tanya Restu yang kini berdiri di samping Ambar.
"Kata Dokter Bapak Syarif terkena serangan jantung." Pria yang menolong Syarif menjelaskan penyakit Syarif berdasarkan keterangan Dokter yang memeriksa tadi sebelum Ambar dan Restu datang.
"Astagfirullah, Ayah." Ambar menangis karena khawatir akan kondisi kesehatan suami nya.
__ADS_1
"Makasih pak, sudah menolong ayah saya." Restu berterimakasih pada orang tua paruh baya itu dengan sopan, sedang Ambar nampak sibuk menangisi suaminya terus menerus.
"Sama-sama. Karena kalian sudah ada di sini kalau gitu saya permisi!" Bapak itu pun berpamitan.
"Oh ya kunci mobil ada di atas meja sebelah bapak Syarif, mobilnya di jalan dekat sini gak jauh kok. Saya pastikan aman, karena banyak teman saya jualan di sana." Lanjut pria itu sebelum pergi dari ruangan Syarif.
"Baik, Pak. Sekali lagi terimakasih!"
"Permisi." Pria itu pun merundukan badan lantas berlalu dari ruangan tersebut.
Tak lama perawat muncul dan meminta Ambar untuk menemui Dokter di ruangan untuk membicarakan penyakit yang di derita Syarif. Sejauh mana dan seburuk apa kondisi kesehatan Syarif saat ini.
Ambar pun keluar mengikuti perawat itu menuju ruangan Dokter yang memeriksa keadaan suaminya. Ambar mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
Kini hanya ada Syarif dan Restu di ruang rawat.
"Apa ini pertama kali ayah sakit atau ayah pernah mempunyai riwayat penyakit jantung sebelumnya?" tanya Restu duduk di samping ayahnya.
"Sebenarnya ayah sudah lama menutupi penyakit ini dari kalian. Sempat ayah pikir jika ayah sudah sembuh dari penyakit ini tapi sepertinya penyakit ini kembali kumat karena banyak masalah yang ayah hadapi belakangan ini," ucap Syarif jujur.
"Ayah minta jangan beri tahu Laila dan Qadar tentang penyakit ayah ini. Ayah tak mau mereka khawatir dan bersedih," lanjutnya dengan mata mengawang air mata pun berlinang begitu saja dari sudut mata.
Pertama kalinya Restu melihat ayahnya menangis. Sepanjang hidup bersama ayahnya , Restu tak pernah melihat pria itu menangis seperti ini. Sepertinya ia sedang menyembunyikan luka teramat dalam.
"Apa karena penyakit ini ayah tak mau mengakui mereka sebagai anak dan membiarkan mereka hidup bersama Om Handoko?" tebak Restu.
"Ya, ini alasan utamanya. Ayah ingin mereka terbiasa tanpa ayah seperti kehidupan mereka sebelumnya. Hidup tanpa adanya ayah, agar nanti jika ayah di panggil yang maha kuasa maka mereka tak akan berat kehilangan ayah karena mereka sudah terbiasa tanpa ayah."
"Astagfirullah, ayah!" Restu memeluk Syarif, mereka berdua menangis.
bersambung,
__ADS_1