
Tak sabar Restu pun menoleh ke belakang ke arah akses keluar masuk ruangan itu. Ia sampai memperhatikan gagang pintu yang mulai bergerak tanda jika seseorang bernama Laila mulai membukanya.
Restu menyipitkan mata saat melihat seorang wanita berhijab masuk ke dalam ruangan. Sayangnya wanita itu menggunakan masker hingga Restu tak bisa melihat jelas wajahnya, memastikan jika benar dia adalah Lailatul Jannah.
"Assalamualaikum." suara lembut membelai indera pendengaran kedua pria di dalam ruangan itu.
"Wa'alaikumsalam." Kompak Restu dan Julian menjawab salam.
"Laila, silahkan duduk." Tangan Julian terulur ke kursi yang berada di sebelah Restu.
Laila mengangguk ringan lantas duduk di samping Restu, tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu. Bahkan mata Laila terlihat sedang menghindari tatapan Restu yang saat ini tampak sedang memindai wajahnya. Bisa Laila lihat lewat sudut matanya.
"Laila, perkenalkan pria di sampingmu ini adalah Restu Airlangga pemilik Ambar Group, perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita." Julian memperkenalkan Laila pada Restu.
Laila menoleh pada Restu, menyatukan kedua telapak tangan sebagai tanda memberi salam pada pria di sampingnya itu. Restu menangkap mata indah yang bening itu. Terasa sangat familiar baginya.
Laila yang di tatap tajam oleh Restu pun segera memalingkan wajah dan mulai membahas soal pekerjaan.
Perbincangan mereka pun berlangsung, membahas kerja sama yang akan di lakukan oleh kedua perusahaan. Namun dari pembahasan itu justru mengharuskan Laila selalu berdekatan dengan Restu, karena Julian mempercayakan proyek ini pada Laila. Sehingga antara Laila dan Restu kemungkinan akan sering bertemu.
Laila tak bisa menolak perintah dari atasannya itu. Terpaksa ia harus menerima jika kedepannya ia akan sering di pertemukan dengan Restu. Apakah dia harus terus menerus menutupi identitasnya seperti yang saat ini di lakukannya? Atau mungkin justru Restu sudah tau siapa dirinya? Tidak, semoga saja Restu tidak mengenalinya, pikir Laila.
Setelah mereka selesai membahas pekerjaan, Julian harus segera pergi karena saat ini jadwalnya cukup padat. Ia harus bertemu dengan mitra lain di suatu tempat yang sudah di janjikan.
"Mohon maaf, Pak Restu sepertinya saya harus pergi karena ada janji dengan mitra saya yang lain." Julian melirik arloji yang tersemat di tangannya.
"Silahkan, saya juga mau kembali ke kantor. Tapi sebelum itu, bolehkah saya lihat-lihat dulu tempat ini? Kantor anda sangat menarik, penataan taman di luar sana masih terlihat asri penuh dengan warna hijau rumput yang menyegarkan mata. Di kantor ini berasa sedang berada jauh dari perkotaan, tenang, nyaman karena lingkungannya yang masih menjaga kelestarian dan keasriannya. Tidak keberatan 'kan jika saya keliling dulu sekitar kantor ini?" kata Restu.
__ADS_1
"Tentu saja tidak keberatan. Silahkan jika anda ingin melihat-lihat berjalan jalan di kantor ini sepuasnya. Saya memang sengaja menata taman dan kawasan ini senyaman mungkin agar bisa menghilangkan kepenatan saat kerja," kata Julian yang kini bersiap untuk berangkat meninggalkan ruangannya.
"Laila, temani Pak Restu jalan-jalan, sekalian bahas kerja sama kita sambil keliling tempat ini," titah Julian membuat Laila merutuk dalam hati.
'Ada-ada saja Restu, ngapain juga pake acara jalan-jalan di kantor, di kira tempat wisata apa?' gerutu Laila dalam hati.
Namun tentu ia tak bisa menolak. Keduanya pun lantas keluar dari ruangan itu dan menuju taman kantor.
Sepanjang langkah Laila hanya diam tak berkata apa-apa, Restu pun demikian. Restu seakan sedang mencari kata yang pas agar ia yakin jika wanita di sampingnya ini adalah Laila yang ia kenal.
"Apa kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Restu memulai pembicaraan.
"Sudah setahun." Laila menjawab singkat bahkan tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Matanya memandang lurus ke depan dimana banyak bunga-bunga dan dedaunan yang menghiasi taman kantor tersebut.
"Kalau begitu kita sama."
"Bagaimana kamu tau?" Akhirnya Laila berhasil terpancing omongannya.
Laila tampak gugup.
"Ya biasanya 'kan kalau CEO perusahaan itu pewaris dari pemilik perusahaan tersebut. Seperti Bapak Julian." Laila berkilah namun Restu sudah yakin jika wanita di sampingnya ini adalah Laila.
"Ya, memang benar. Saya bekerja di Ambar Group karena perusahaan itu milik keluarga saya. Hanya saja baru satu tahun ini saya menjabat sebagai CEO di sana, setelah... " Restu tak melanjutkan kalimatnya sengaja ingin membuat Laila penasaran.
Restu akan membuat Laila mengakui pada dirinya jika sebenarnya dia adalah Laila yang Restu kenal.
__ADS_1
"Setelah ayahku meninggal." Nauzubillah semoga malaikat tak mencatat ucapanku ini, lanjut Restu dalam hati.
Ia terpaksa berkata begitu untuk memancing Laila, melihat ekspresi gadis itu.
Seketika Laila menoleh padanya dengan tatapan terkejut. Mata indah itu kini mengembun, ada cairan bening yang sepertinya mulai menggenang di sana namun masih ia tahan agar tak sampai jatuh.
"Ma-maksud anda?" suara Laila terdengar lirih bergetar.
"Dulu saya dan keluarga tinggal di kota ini, saat saya duduk di bangku SMA. Hingga suatu hari ayah sakit jantung dan mengharuskan kami pindah ke Singapura agar ayah berobat di sana dan di tangani dengan baik oleh dokter spesialis di negara itu. Selain karena itu, ayah saya juga menghindari seseorang agar orang tersebut tidak tau akan penyakit yang di derita beliau. Karena sayangnya ayah terhadap orang itu, beliau sampai tak ingin melihat orang itu bersedih karena tau dirinya menderita penyakit jantung." Restu menoleh pada Laila, terlihat olehnya Laila segera mengusap air mata yang hampir saja menetes di pipinya.
"Dan orang itu adalah kamu, Lailatul Jannah." Restu menatap tajam Laila yang kini terlihat gugup.
"Maaf, Pak Restu saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Permisi!" Laila hendak beranjak pergi namun dengan cepat Restu menarik lengan wanita itu.
"Laila, aku tau itu kamu. Jangan menghindar!" ucap Restu dengan tangan menggenggam kuat lengan Laila yang kini meronta minta di lepaskan.
"Anda bicara apa, Pak? Tolong jauhkan tangan anda dari saya, kita bukan muhrim!" tegas Laila sambil menepis kasar tangan Restu hingga terlepas.
Laila segera mengambil langkah seribu berniat meninggalkan Restu.
"Laila apa kamu tidak peduli pada ayahmu? Apa kamu tidak akan memaafkan beliau setelah tau alasannya kenapa beliau selama ini tak mengakui kamu dan Qadar? Ayah sakit Laila! Ayah tak ingin membuat kalian terbiasa hidup dengannya karena ia takut jika suatu saat ia pergi maka kalian akan terpukul."
Perkataan Restu menghentikan langkah Laila yang kini wanita itu sudah berlinang air mata. Wajah cantiknya sudah sangat basah hingga ia tak mau menoleh ke belakang dimana Restu berada.
"Kalau begitu katakan dimana makamnya?" suara lirih terdengar keluar dari mulut Laila.
"Beliau belum meninggal, hanya saja beliau masih mengidap penyakit jantung. Maaf aku harus berbohong tadi, aku terpaksa karena ingin memastikan jika kamu benar-benar Laila yang ku kenal. Tuhan mungkin masih memberi kesempatan untuk kalian bertemu kembali. Ayah berhasil di operasi meski belum bisa dikatakan 100% sembuh tapi setidaknya keadaan beliau sekarang jauh lebih baik," jelas Restu.
__ADS_1
"Jadi kamu berbohong tentang kematian beliau? Apa aku harus percaya jika beliau juga mengidap penyakit jantung? Maaf, sepertinya aku perlu ragu dengan kata-katamu itu, bisa saja kamu juga berbohong tentang penyakitnya." Laila pergi dari tempat itu meninggalkan Restu yang kini mematung dengan rasa menyesal karena telah berbohong pada Laila.
bersambung,