Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 19


__ADS_3

Qadar baru saja sampai di sekolah, ia turun dari angkutan umum bersama beberapa temannya yang juga menaiki mobil berwarna hijau yang tampak sesak dengan penumpang itu.


Saat yang bersamaan mobil hitam pun menepi di depan sekolah. Restu turun dari mobil itu, juga Syarif yang mengantarnya saat ini.


"Kak Restu!" sahut Qadar saat melihat Restu tak jauh dari tempatnya berdiri.


Restu yang di panggil pun menoleh.


"Qadar!" panggil Restu dengan melemparkan senyuman pada anak berusia delapan tahun yang kini menghampirinya.


Qadar melihat mobil hitam milik Restu, dia berdecak kagum dalam hati melihat mobil mewah di hadapannya.


Sementara Syarif nampak kaget saat Restu menyebut nama Qadar, ia berjalan menghampiri Restu putranya yang kini sedang bersama anak kecil memakai seragam sekolah dasar.


"Qadar ini Ayah kak Restu, Ayah ini Qadar. Keponakannya penjual takjil yang waktu itu aku beli, " ucap Restu memperkenalkan.


Manik mata Syarif bertemu dengan mata lugu bocah itu. Ada sesuatu yang membuat hati keduanya bergetar, namun entah apa itu. Mungkin karena nama anak itu sama dengan nama putranya, hasil dari pernikahannya dengan Mirna yang sampai saat ini pun Syarif belum tau seperti apa wajahnya.


Begitupun dengan Qadar, nalurinya seakan berkata ia bertemu dengan sosok Ayah yang selama ini ia rindukan. Tapi tentu tidak mungkin, karena yang ada di hadapannya saat ini adalah Ayah Restu bukan ayahnya, batin Qadar. Ia rasa kerinduannya terhadap sosok ayah membuat dirinya mudah tersentuh ketika melihat pria dewasa yang bergelar sebagai seorang ayah itu. Padahal tidak setiap pria dewasa yang di temuinya mampu membuat perasaannya hanyut saat memandang manik mata pria tersebut.


Syarif tersenyum tertahan, lantas ia bertanya," kamu kelas berapa?"

__ADS_1


"Kelas dua SD, Om!" jawab Qadar terasa sejuk hatinya hingga tak ingin mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari wajah pria dewasa bertubuh tinggi, berambut rapi sedikit basah mengkilat, berkumis tak begitu lebat dan berpakaian rapi dengan jas juga dasi.


Kembali Syarif terdiam.


'Kelas 2 SD, mungkin anak ku dengan Marni kini seusia dengannya,' batin Syarif.


"Kami masuk dulu," ucap Restu sambil mencium punggung tangan Syarif, begitupun Qadar ikut bersalaman dan mencium punggung tangan pria berusia 50tahun itu.


Qadar makin merasakan sesuatu dalam hatinya yang entah apa ketika ia mencium tangan pria itu.


Restu pun menggandeng tangan Qadar mengajaknya masuk ke dalam gerbang sekolah yang masih terbuka lebar.


Sementara Syarif masih mematung berdiri menatap mereka berdua dari depan gerbang.


"Ah bicara apa aku ini. " Syarif geleng-geleng kepala lantas ia segera kembali ke mobilnya dan berlalu dari sana.


Sebelum masuk kelas Restu dan Qadar sempat berbincang bincang sebentar, sambil berjalan menuju kelas mereka.


"Ayahnya Kak Restu pasti baik. Gimana sih rasanya punya Ayah, aku gak bisa ngebayangin soalnya belum pernah ngalamin hidup satu atap sama Ayah," tanya Qadar.


Restu menghentikan langkahnya sejenak, berjongkok di hadapan Qadar. Kedua lengannya memegang bahu anak kecil itu dengan mata menatap iba padanya.

__ADS_1


"Ayah kamu juga pasti orang baik sama seperti ayahnya Kak Restu. Sosok Ayah itu sebagai pelindung bagi keluarga. Berperan sebagai motivator, memberi nafkah untuk kebutuhan sehari-hari keluarga dari keringatnya, satu tetes keringat beliau tak akan mampu kita bayar walau dengan banyaknya harta yang kita miliki kelak. Jasa beliau, kasih sayang beliau dan sikap kepemimpinannya adalah cerminan untuk kita anak laki-laki," jelas Restu.


Qadar tampak mencerna ucapan Restu. Yang ia tau hanya Marni ibunya yang selama ini melindunginya, mencukupi semua kebutuhan sehari-hari keluarganya, malaikat yang berhati lembut dengan fisik yang terlihat lemah namun tak pernah menyerah dan jiwanya tampak kuat.


"Kalau sosok ayah seperti itu, ibuku juga bisa melakukan semua yang kakak katakan barusan," ucap Qadar polos.


Restu makin terharu mendengar celotehan Qadar yang tulus dari hati memuji ibunya.


"Kalau begitu, ibumu itu adalah ibu yang hebat, sangat hebat. Beliau mampu membesarkan kamu dan Laila sendirian tanpa ada sosok suami di sampingnya. Kak Restu salut sama ibu mu." Restu berkaca-kaca, matanya terasa panas menahan tangis yang tak mungkin ia jatuhkan saat ini.


"Tapi kamu harus ingat, darah yang mengalir di tubuhmu ada darah ayahmu dan itu tak bisa di bantah. Kak Restu akan selalu berdoa agar suatu saat nanti kamu bisa bertemu dengan ayahmu," lanjutnya.


"Aamiin. Semoga ayah Qadar baik, gagah dan tampan seperti ayah Kak Restu."


Restu yang mengukir senyum termanis demi bisa menghibur Qadar, meski hatinya bersedih melihat nasib Qadar yang memprihatinkan. Seandainya Restu berada di posisi Qadar saat ini, mungkin dia belum tentu bisa sekuat anak itu. Restu akui, almarhumah ibu Qadar sangat hebat karena bisa mendidik anaknya dengan baik meski dalam keadaan keluarga yang tak lengkap. Tanpa adanya figur seorang bapak atau suami yang membantunya mendidik mereka.


"Kita masuk ke kelas sekarang, belajar yang rajin ya! Nanti Qadar pasti akan jadi orang sukses, buat kedua orang tua mu bangga!"


"Pasti Kak," ucap Qadar dengan semangat.


Anak itu selalu terlihat ceria, meski Restu tau dalam hatinya pasti ada luka batin yang teramat dalam.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2