
Laila menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Terdengar sesenggukan tangis di ruangan tersebut. Laila masih kepikiran ucapan Restu barusan. Ada sedikit kecewa karena Restu sudah membohongi dirinya, tapi tentang penyakit itu apa Restu juga berbohong? Laila bingung antara harus percaya atau tidak. Tapi jika memang benar ayahnya sakit dan karena penyakitnya itu beliau sengaja menjauh dari Laila dan Qadar, maka Laila akan merasa sangat bersalah sudah menuduh yang tidak-tidak tentang ayahnya.
Semula Laila pikir ayahnya egois hingga tak mau mengakui kedua anaknya dan tetap kekeh mempertahankan rumah tangganya dengan Ambar hingga tak peduli pada Laila dan Qadar. Tapi kini Laila mendengar alasan yang cukup mengejutkan meski alasan itu belum bisa di pastikan kebenarannya.
Yang Laila tau Restu tak pernah berbohong padanya. Baru kali ini Restu membohonginya, yang mungkin sengaja agar Laila membuka identitas dirinya di hadapan Restu. Tapi cara itu justru membuat Laila sangat kecewa dan enggan percaya lagi padanya.
Laila bingung harus bagaimana, perasaannya kacau dan campur aduk. Antara marah, kesal, kecewa tapi juga bahagia atas keberadaan Restu kembali ke kota ini, yang artinya Syarif ayahnya pun pasti ada di kota ini.
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar namun sebagai seorang anak, Laila tetap menyimpan baik-baik nama ayahnya dalam hatinya. Seburuk apapun kenangan tentang ayahnya itu, ia tetap tak bisa mengelak jika ada darah sang ayah yang mengalir dalam tubuhnya.
Laila mengusap kasar wajah saat mendengar suara ketukan sepatu yang berjalan mendekat ke ruangannya.
'Julian?' lirihnya seraya mengernyitkan kening.
Yang ia tau saat ini Julian sedang bertemu dengan Mitra kerja dan baru berangkat beberapa menit lalu, tapi kenapa pria itu sudah kembali lagi ke kantor?
Ceklek!
Pintu pun terbuka nampak Julian masuk ke dalam ruangan Laila.
"Pak Julian, kenapa anda sudah kembali secepat ini?" tanya Laila dengan suara parau.
Laila berusaha menutupi kesedihannya di hadapan Julian namun sepertinya Julian sudah lebih dulu melihat bekas air mata yang tampak basah di beberapa bagian wajah Laila terutama mata Laila yang sembab.
"Mitra ku membatalkan pertemuan kami karena ada kepentingan yang tak bisa di tunda." Julian menjawab sambil terus memperhatikan wajah Laila yang sangat ketara seperti habis menangis olehnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang sedih?Apa ada masalah?" tanya Julian kini duduk di hadapan Laila.
Laila tampak membuang wajah ke arah lain sambil mengusap wajahnya yang mungkin masih basah oleh air mata.
"Tidak, Pak. Aku gak kenapa-kenapa."
"Tapi kamu kelihatan seperti habis nangis, jangan bohongi aku," desak Julian.
"Kalau ada apa-apa kamu boleh cerita sama aku, kenapa kamu sedih? Siapa yang membuatmu menangis?" Julian seakan terus mendesak Laila agar berterus terang.
"Ada sedikit masalah, tapi maaf ini urusan keluarga. Saya tidak bisa berbicara sama Bapak," kata Laila.
"Baiklah, aku bisa mengerti. Tapi jika kamu benar-benar butuh teman curhat aku siap mendengarkan, siapa tau aku bisa kasih kamu solusi. Atau setidaknya kamu bisa lebih tenang setelah meluapkan semua beban pikiranmu itu," kata Julian penuh perhatian.
"Terima kasih, Pak," ucap Laila.
"Jangan, Pak. Saya gak apa-apa kok, cuma ada sedikit masalah saja. Kalau sampai meninggalkan pekerjaan rasanya tak profesional sekali, dan mungkin akan merepotkan orang lain. Yang ada nanti orang berpikiran yang tidak-tidak terhadap saya," kata Laila.
"Oh ya bapak ada apa ke ruangan saya? Apa ada pekerjaan yang harus saya kerjakan segera?" tanya Laila mengalihkan topik pembicaraan, tak ingin Julian terus membahas kesedihan yang di rasakan Laila saat ini.
"Sebenarnya aku cuma mau bilang kalau kemungkinan besok atau lusa aku akan mulai belajar agama di salah satu pesantren. Kebetulan ada kenalan Nenek ku yang mendirikan pesantren tersebut. Aku harap setelah aku bisa belajar ilmu agama dengan baik, kamu bisa menerima lamaran ku." Julian menatap penuh harap.
"Belajar agama itu harus ikhlas lillahita'ala. Jangan karena orang lain sebagai alasannya, tapi semata-mata untuk mencari ridho Allah dan mencari bekal untuk kehidupan bapak kelak," kata Laila mengingatkan.
"Insyaallah aku ikhlas lillahita'ala. Tapi alasan keduanya tentu kamu sebagai motivasi aku untuk menjadi lebih baik lagi,"
"Makasih, ya!" Julian tersenyum sambi menatap teduh wajah Laila.
__ADS_1
"Semoga bapak bisa Istiqomah. Orang yang sedang berhijrah itu pasti sangat banyak ujiannya, saya harap bapak bisa melawati semuanya dengan baik," kata Laila.
"Aamiin, jangan lupa doakan aku."
Laila hanya mengangguk ringan dan ikut mengaminkan.
Di apartemen. Restu menemui ayahnya dan mereka bicara empat mata. Kebetulan Ambar sedang tak berada di sana. Ambar tampaknya sibuk berkumpul dengan teman-teman lamanya.
"Aku baru saja ketemu sama Laila, Yah!" ucap Restu duduk di samping lelaki tua itu.
"Laila?" Syarif sedikit terkejut, ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rupa anaknya saat ini. Pasti sudah banyak perubahan pada diri Laila dan Qadar secara mereka sudah tak bertemu selama sepuluh tahun.
"Bagaimana dia sekarang? Apa dia sudah sukses? Dia sehat? Dan bagaimana responnya saat bertemu dengan mu?'' Syarif membayangkan putrinya yang mungkin saat ini sudah tumbuh dewasa.
"Alhamdulillah yang ku lihat dia sehat, Yah. Kebetulan dia bekerja di PT. Nusantara, dia akan sering bertemu denganku. Tapi sepertinya Laila berusaha menghindar dariku, ayah tenang saja, aku akan sering-sering bertemu dengannya. Apalagi dia yang akan mengurus kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan tersebut." Restu menjelaskan..
"Alhamdulillah, akhirnya Laila bisa bekerja di tempat yang bagus. Ayah tak akan meragukan keberanian, kesabaran dan kuatnya anak itu mengahadapi segala ujian hidup. Dia bahkan membuktikan pada ku, jika dia bisa mandiri dan bisa berjuang melewati masa-masa yang mungkin pahit baginya,' ucap Syarif dengan mata berembun.
"Apa ayah ingin bertemu dengannya?" tanya Restu.
"Tidak Nak, ayah harus sembunyi-sembunyi dari ibu, jika tidak ibumu pasti akan membawa kita kembali ke Singapura. Dan sepertinya akan sangat sukar untuk dia bertemu dengank ayah. Laila pasti marah dan kecewa pada ayah." Pandangan Syarif mengawang membayangkan reaksi Laila saat bertemu dengannya.
"Aku akan mengatur waktu pertemuan ayah dengan Laila." Restu tampak yakin.
"Aku pastikan ibu tak akan tau akan hal ini."
"Makasih, Nak."
__ADS_1
bersambung,