
''Maaf apakah anda keluarga pasien bernama Qadar?" salah satu perawat menghampiri Handoko dan Laila yang masih berada di ruang tunggu.
"Iya, saya Pamannya," ucap Handoko seraya berdiri dari kursi besi yang ada di lorong Rumah Sakit.
"Bapak di minta ke bagian administrasi untuk menyelesaikan biaya administrasi pasien bernama Qadar," kata perawat tersebut.
"Baik, terima kasih!" Handoko menganggukkan kepala.
"Sama-sama. Saya permisi!" Perawat itupun berlalu dari hadapan mereka.
"Laila kamu tunggu di sini, paman ke bagian administrasi dulu." Handoko meminta agar Laila tetap di sana menunggu Qadar.
"Iya Paman." Laila mengangguk ringan, matanya sembab akibat banyak menangis.
Handoko segera berjalan menuju lobi Rumah Sakit. Tak lama ia pun sampai di bagian administrasi.
Handoko segera menghampiri salah satu perawat yang berada di sana. Kebetulan keadaan kosong dan tak perlu menunggu antrean.
"Maaf, sus. Saya mau bayar biaya administrasi atas pasien kecelakaan bernama Qadar," ucap Handoko.
"Baik pak, tunggu sebentar saya cek dulu datanya!" perawat itu segera mengecek file di komputer yang ada di hadapannya.
"Semuanya 7 juta rupiah, Pak," kata si perawat setelah ia menemukan data milik Qadar.
"Tujuh juta?" Handoko tampak terkejut, di dompetnya Ia hanya memegang uang 5 juta rupiah itu pun uang titipan dari Laila yang merupakan pemberian dari Syarif.
"Saya baru pegang lima juta, Sus. Apa bisa kurangnya saya bayar nanti?" tanya Handoko.
"Paling lambat besok, pak. Ini belum termasuk biaya obat-obatan yang harus bapak beli di apotik kami," jelas perawat tersebut.
"Baik, besok saya lunasi semuanya." Handoko sendiri masih bingung dari mana ia mendapatkan kekurangannya yang jumlahnya tak sedikit itu.
Dua juta rupiah, Handoko rasa Mira pasti memegang uang dalam jumlah segitu.
Handoko segera menelpon Mira, untungnya tadi Mira sempat membawa dompet dan ponselnya saat ke Rumah Sakit.
"Halo, Mir! "
__ADS_1
"Iya ada apa?"
"Kamu bisa transfer uang tiga juta ke rekeningku?" tanya Handoko.
"Apa? Tiga juta buat apa?" tanya Mira.
"Untuk nambahin biaya Qadar, semuanya 7 juta rupiah dan aku baru bayar 5 juta. Sisanya masih kurang 2 juta belum buat nebus obatnya, jadi kirim tiga juta ya!" pinta Handoko.
"Enak banget, enggak aku gak mau. Di kira cari duit gampang apa!" tukas Mira di sebrang telepon.
"Mir, ini kita lagi kena musibah. Tolong lah, nanti biar aku ganti semuanya," ucap Handoko.
"Gak ada! enak aja. Itu juga yang 5 juta pasti duit kamu kan? Kamu pasti diam-diam sembunyikan duit dari aku, dan sekarang malah di pakai buat biaya keponakanmu itu. Ngaku! Minta saja sama Syarif sana, Qadar kan masih punya bapak, kenapa harus kita yang repot?" gerutu Mira.
"Ini juga pemberian Syarif, bukan uang aku. Ayo lah, Mir, nanti aku pasti ganti uang nya," bujuk Handoko.
"Gak ada!"
Tuuuut!
"Kenapa Bu?" tanya Dita memperhatikan ibunya saat menerima telepon tadi.
"Bapak mu itu nyuruh ibu buat nambahin biaya rumah sakitnya Qadar. Mana tiga juta lagi, duit gede itu! Enak aja main minta-minta sama aku, minta saja sana sama si Syarif dia kan udah kaya!" kesal Mira.
Seketika muncul ide di kepala Dita.
"Gimana kalau ibu kasih aja uangnya sama ayah. Besok kita datangi rumah Restu dan kita minta ganti dua atau tiga kali lipat dari ayahnya Qadar." Dita tersenyum licik.
"Wah ide bagus itu. Ya udah ibu transfer deh sekarang." Mira sibuk mengetik di ponselnya dia sedang mengirim sejumlah uang ke rekening Handoko suaminya.
Di Rumah Sakit, Handoko masih terdiam kebingungan. Kemana dia harus mencari sisa yang harus di bayarkan ke Rumah Sakit? Tak mungkin dia meminta pada Syarif, dia sangat membenci kakak iparnya itu.
Dari kejauhan Restu memperhatikan Handoko. Dia tau apa yang sedang menjadi masalah Handoko saat ini, sudah pasti tentang biaya pengobatan Qadar. Apalagi saat ini Handoko berada di dekat tempat administrasi sudah pasti dugaan Restu benar jika paman Laila sedang kebingungan perihal biaya Rumah Sakit.
Restu segera menelpon ayahnya, meski ia sebenarnya masih malas untuk menelpon dan berkomunikasi dengan Syarif.
"Kamu dimana, nak?" tanya Syarif di sebrang telepon saat ia menerima panggilan dari Restu.
__ADS_1
"Aku di rumah sakit. Qadar sedang butuh biaya aku harap Ayah bisa mentransfer uang ke rekening ku sekarang juga!" ucap Restu dengan nada datar.
"Uang?"
"Iya uang untuk biaya pengobatan Qadar di Rumah Sakit. Bukankah Ayah ini ayah kandung Qadar? Sudah seharusnya Ayah bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Qadar, meskipun Ayah tidak mengakuinya tapi Ayah punya kewajiban atas anak itu yang akan di pertanyakan di akhirat kelak," kata Restu penuh penekanan.
"Tentu saja ayah akan kirim uangnya. Berapa?" tanya Syarif tak ingin Restu makin membencinya.
Restu terdiam sejenak ia tidak tahu berapa nominal yang dibutuhkan untuk pengobatan Qadar di rumah sakit. tapi menurutnya uang yang dibutuhkan pasti sangat besar.
"Lima juta!" ucap Restu.
"Baik akan Ayah transfer sekarang juga tapi Ayah minta, jangan katakan tentang hal ini pada ibumu. Kamu bisa jaga rahasia ini kan? Janji!" pinta Syarif.
"Aku tak mau berjanji akan hal itu. Sekarang juga aku tunggu transferannya!" Restu segera menutup sambungan telepon.
Syarif mendengus kesal, rupanya Restu tak bisa dia ajak kompromi. Syarif segera mengirimkan uang ke rekening Restu, dengan harapan Restu bisa menutupi rahasianya tentang Laila dan Qadar dari sepengetahuan Ambar.
Baru saja Restu akan menghampiri Handoko seketika Handoko menerima panggilan dari Mira yang memberitahukan bahwa Mira sudah mengirim uang ke rekening nya sesuai dengan jumlah yang Handoko minta.
"Om!" Restu menyahut dia kini sudah berada di hadapan Handoko.
"Restu, kamu sudah selesai mendonorkan darah?" tanya Handoko yang baru saja menutup telepon.
"Sudah. Apa Om kekurangan biaya untuk perawatan Qadar?" tanya Restu.
"Tidak, semua sudah beres. Ini Om mau bayar," jawab Handoko.
"Kalau misal ada biaya lain, Om bilang saja sama aku. Atau kalau enggak sekarang juga aku transfer uang ke rekening Om, soalnya barusan ayah sudah mengirim uang untuk biaya Qadar." Restu bersiap memasukan beberapa digit nomor rekening Handoko namun Handoko menolak.
"Jangan. Semua sudah beres kok, terima kasih!" ucap Handoko menolak dengan halus.
Bukan dia tak mau menerima bantuan dari Restu tapi ia tidak mau menerima bantuan dari Syarif. Jika memang Syarif peduli harusnya Syarif datang ke Rumah Sakit dan melihat kondisi Qadar bukan malah mentransfer uang saja. Itu artinya Syarif benar-benar menyepelekan keadaan Qadar saat ini dan mengukur segala sesuatu hanya dengan uang hingga semua masalah bisa selesai. Handoko makin tak suka pada Syarif.
Restu tak bisa berbuat apa-apa, tapi dia akan memberikan uang ini pada Laila nanti. Bagaimana pun uang yang masuk ke rekening nya sudah menjadi hak Qadar, dan dia tak berhak memegang uang tersebut.
bersambung,
__ADS_1