
''Restu?" Syarif dan Ambar kompak.
"Kenapa kalian bersikap seolah tak punya hati? Laila dan Qadar bagian dari keluarga kita, kenapa kalian begitu tega tak ingin mengakui mereka bahkan membantu mereka saja tak mau. Dimana hati nurani kalian? Terutama Ayah, aku pikir ayah adalah pria sejati yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga tapi nyatanya ayah sudah banyak mengecewakan!" ucap Restu dengan menahan emosi.
"Apa kamu bilang, mereka bagian dari keluarga kita? Tidak! Kamu pikir ibu terima kalau ayahmu menduakan ibu? Kamu pikir ibu harus berhati malaikat yang bisa dengan mudah menerima anak-anak dari perempuan yang sudah merebut ayahmu dari ibu? Semudah itu kamu bicara tanpa tau sakitnya perasaan ibu! Yang harusnya di salahkan di sini hanya ayahmu saja, bukan ibu!" tegas Ambar dengan berapi-api.
"Nak, ini tak seperti yang kamu kira. Ayah akan jelaskan pada mu." Syarif sangat kebingungan sepertinya saat ini Restu sudah sangat kecewa padanya. Dan Ambar juga pasti marah jika Syarif harus menerima Laila dan Qadar ke dalam keluarga mereka, Syarif benar-benar bingung di buatnya.
"Tak ada yang perlu ayah jelaskan padaku, ayah hanya perlu buktikan padaku jika ayah adalah sosok orang tua yang baik bagi anak-anaknya bukan hanya pada aku tapi juga pada Laila dan Qadar," kata Restu.
"Dan untuk ibu, aku harap ibu ikhlas menerima mereka. Aku tau ibu pasti sakit hati karena perbuatan ayah tapi ibunya Laila dan Qadar sudah meninggal, ibu bisa menjadi ibu sambung buat mereka. Mungkin tak mudah, tapi perlu ibu ingat mereka tak salah mereka hanya anak-anak korban dari kesalahan orang tua. Laila maupun Qadar tak tau apa-apa, jadi ibu tak bisa membenci mereka," lanjut Restu mencoba meluluhkan hati ibunya.
"Tidak! Sampai kapanpun ibu tak akan pernah menerima mereka!" sungut Ambar.
"Restu, ayah sudah memberikan sejumlah uang ke rekening mu sesuai yang kamu minta. Ayah sudah buktikan kalau ayah bertanggungjawab, jadi tolong mengerti posisi ayah saat ini," kata Syarif.
"Oh jadi kamu sudah transfer uang buat mereka? Berani ya kamu kasih uang ke anaknya si Marni tanpa sepengetahuan ku! Kamu pikir kamu banyak uang huh? Kamu hanya gembel kalau tak hidup bersama ku, sana pergi urus anak-anak mu itu!" Ambar mendorong tubuh suaminya dengan kasar.
"Ambar cukup! Aku memang orang tak punya tapi selama ini aku juga bekerja. Uang yang aku dapat tidak cuma-cuma kamu berikan tapi hasil keringat dan jerih payahku meski memang sumbernya dari perusahaan mu, tapi aku bekerja di sana!" Syarif mulai tersulut emosi karena terus di rendahkan.
"Tetap saja kalau kamu tidak menjadi suamiku kamu tetap akan hidup miskin, sudah miskin belagu pakai acara selingkuh segala mana punya dua anak lagi! Tidak tau diri namanya!" cicitnya.
__ADS_1
"Kamu pikir kalau tidak menikah dengan ku kamu akan terselamatkan dari aib? Kamu akan melahirkan Restu tanpa ada suami di sampingmu! Siapa yang tidak tau diri? Masih untung aku mau menikahi perempuan yang sudah hamil duluan dan entah pria mana yang menghamilinya, gak akan ada pria di dunia ini yang mau mengorbankan dirinya menikahi wanita yang sudah berbadan dua. Jadi wajar kalau aku mencari wanita yang aku cintai, dan Marni wanita pertama yang menerima aku apa adanya bahkan ia tak keberatan menjadi istri kedua karena dia tau bagaimana pernikahanku bersamamu yang tak di dasari oleh cinta melainkan keterpaksaan!" Syarif kalap ia lupa telah membongkar aib istrinya di depan Dita dan Mira.
Ia bahkan lupa menjaga perasaan Restu, yang mana selama ini hal tersebut sangat di rahasiakan olehnya dan Ambar.
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Syarif. Terasa panas hingga kulitnya memerah akibat tamparan yang Ambar berikan.
Mira dan Dita sedari tadi hanya menjadi penonton setia mereka. Kini bahkan terbengong-bengong tak percaya dengan kenyataan yang terjadi tentang pernikahan Ambar dengan Syarif.
"Tega kamu ngomong begitu!" Ambar menangis.
Syarif banyak di kekang dan di rendahkan, semua itu kini keluar begitu saja dari mulutnya seakan tak terkontrol akibat terdesak dari berbagai pihak.
"Jadi Ayah bukan Ayahku? Lantas kenapa Ayah lebih memilih aku dan ibu ketimbang mengakui Laila dan Qadar? Aku gak ngerti jalan pemikiran ayah, aku juga gak ngerti jalan pikiran ibu. Kalian sama-sama egois!" Restu berlalu dari rumahnya.
Restu pergi dengan hati kecewa dan terluka menerima kenyataan pahit yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Jika memang benar Syarif bukan ayahnya lantas siapa ayahnya? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Restu yang saat ini pergi tanpa arah dan tujuan dengan menggunakan motornya.
Begitu cepat Tuhan membuka semua rahasia tentang keluarganya yang terkubur belasan tahun. Satu persatu mulai terkuak namun Restu seakan belum siap menerima kenyataan ini. Mengetahui Laila sebagai saudaranya saja sudah membuatnya kecewa di tambah lagi sekarang dia tau bahwa antara dirinya dengan Laila, Qadar maupun Syarif tak ada hubungan darah sama sekali. Dan dia di lahirkan tanpa seroang ayah. Anak mana yang tak akan sakit hatinya mendengar kenyataan itu.
__ADS_1
"Kami permisi!" ucap Mira merasa keadaan. di sana sudah tak nyaman dan keberadaan mereka sangat mengganggu kedua pasutri yang sedang bertengkar itu.
"Kenapa tak pergi dari tadi huh! Pergi, jangan pernah kembali dan jangan berani menampakan diri lagi di hadapan ku!" usir Ambar.
Mira dan Dita mendelik sinis seakan mereka ingin menertawakan Ambar. Sudah ketahuan aibnya masih tak tau malu, pikir mereka.
Mira dan Dita segera keluar dari rumah itu. Meninggalkan Syarif dan Ambar yang masih dalam situasi buruk.
"Kamu juga mau pergi dari sini? Pergilah bukankah kedua anak itu terlahir dari wanita yang kamu cintai? " sindir Ambar mengusap kasar air matanya.
"Maaf aku tidak bermaksud begitu, aku mencintaimu Ambar dan aku baru sadar setelah hidup dengan Marni selama beberapa tahun. Makanya aku kembali padamu dan lebih memilihmu, bahkan aku rela meninggalkan anak-anak ku demi kamu," bujuk Syarif yang takut jatuh miskin.
Senyatanya hidup Syarif sudah terbiasa bergelimang harta dan hanya Ambar yang mampu memberikan itu semua. Terkadang Syarif harus mengabaikan perasaan yang penting ia hidup tidak kekurangan seperti dulu. Dia capek hidup miskin.
"Kamu merayu ku? Kamu pikir aku percaya?" pekik Ambar.
"Tidak sayang, aku serius. Kamu dengar sendiri tadi Restu bilang kalau aku tak mengakui kedua anak itu, apa tak cukup bukti kalau aku lebih memilih kamu daripada mereka?" kata Syarif.
Ambar yang begitu mencintai Syarif mudah luluh hatinya oleh pria itu. Ambar mungkin memegang kendali dalam rumah tangga tapi hati Ambar sudah berhasil tercuri oleh Syarif, hingga apapun yang di lakukan Syarif selalu saja Ambar terima dan memaafkannya.
bersambung,
__ADS_1