
Menjelang siang hari Mira dan Dita datang ke kediaman Syarif. Dengan menggunakan motor matic Dita dan Mira pergi ke sana.
Dita segera menepikan motor matic yang di kendarai ketika sampai di depan rumah mewah milik Ambar.
Mereka turun menghampiri satpam penjaga rumah yang kebetulan sedang duduk bersantai di posnya yang berada di sisi gerbang teralis besi.
"Pak, maaf mau tanya apa Pak Syarif nya ada?" tanya Dita menghampiri satpam tersebut.
"Ada." Satpam itu menjawab singkat sambil mengingat-ingat wajah Dita yang di rasa pernah melihatnya sebelum hari ini.
"Kami mau bertemu dengan beliau, izinkan kami masuk , Pak!" pinta Dita.
"Apa kalian sudah buat janji terlebih dahulu?" tanya Satpam itu.
Mira dan Dita saling lirik satu sama lain.
"Kami di minta datang oleh Restu, dia teman sekolah saya, Pak. Bapak lupa sama saya? Saya yang waktu itu ngantar takjil ke rumah ini," kata Dita tak kehabisan ide.
"Oo pantesan kek pernah liat sebelumnya," ucap satpam yang baru mengingat Dita.
"Jadi kami boleh masuk, kan?" bujuk gadis berusia 17 tahun itu.
"Boleh, sebentar!" Satpam itupun keluar dari pos untuk membuka gerbang.
"Silahkan!" Satpam itu mempersilahkan Mira dan Dita untuk masuk ke dalam setelah ia menggeser gerbang.
"Makasih, Pak!" Dita segera berjalan menuju teras rumah mewah itu di ikuti langkah Mira di sampingnya.
"Bagus sekali rumahnya, Dit," ucap Mira celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Namanya juga rumah orang kaya," celetuk Dita.
Dita memencet bel saat dia dan Mira menginjakan kaki di teras depan rumah.
Tak berselang lama muncul wanita tua yang di ketahui adalah pembantu di rumah itu.
"Mbok, Pak Syarif nya ada di rumah?" tanya Dita.
__ADS_1
"Ini yang waktu itu nganter takjil ya? Apa ibu pesan lagi?" Wanita tua itu menatap Mira dan Dita yang datang dengan tangan kosong tanpa membawa takjil seperti perkiraannya.
"Iya saya yang waktu itu nganter takjil. Tapi sekarang saya ada sedikit kepentingan pada Pak Syarif, bisa Mbok panggilkan beliau?" tanya Dita.
Pembantu berusia senja itu mengangguk pelan lalu mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di sofa ruang utama.
"Siapa yang datang Mbok?" tanya Ambar baru saja ia muncul dari ruangan lain.
"Loh kalian?" Ambar yang melihat kedatangan Mira dan Dita kini menatap heran keduanya.
"Bu, maaf kami datang ke sini karena ada keperluan sama Bapak, suaminya ibu!" Mira bangkit dari duduk.
"Ada urusan apa sama suami saya?" tanya Ambar.
Mira dan Dita saling bertukar pandang.
"Pak Syarif nya ada kan, Bu?" Mira tak menjawab pertanyaan Ambar malah dia balik bertanya.
"Ada tapi jawab dulu, ada urusan apa sama suami saya?" Ambar makin bingung.
"Ehm jadi begini Bu,,, " belum sempat Mira meneruskan ucapannya tiba-tiba Syarif muncul dari dalam.
Wajahnya berubah begitu tegang, khawatir Mira membongkar semuanya di hadapan Ambar.
"Kalian?" Syarif tampak gugup.
"Pak, memangnya bapak punya urusan apa sama mereka?" Ambar kini bertanya pada suaminya.
Syarif tampak berpikir mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Gini loh Bu, pak Syarif ini sebenarnya kakak iparnya suami saya, dia ini ayah dari Laila sama Qadar." Mira langsung saja ke pokok permasalahan menurutnya masalah ini harus segera terungkap dan tak boleh terus di tutupi agar Laila dan Qadar bisa di urus oleh Syarif sehingga tak lagi merepotkan kehidupannya. Apalagi setelah tau keadaan Syarif yang dari segi ekonomi akan sangat mampu menghidupi kedua anaknya.
Ambar membulatkan mata.
"Maksud anda apa?" Ambar bicara dengan lantang.
"Sudah jangan dengerin dia! " Syarif berusaha membawa Ambar masuk ke dalam dan mengusir Mira juga Dita.
__ADS_1
"Lebih baik kalian pergi dari rumah ku sekarang juga!" kata Syarif dengan mata merah menahan amarah.
"Tidak, aku butuh kejelasan dari mereka." Ambar menepis lengan suaminya dengan kasar.
"Cepat katakan apa maksud anda tadi? Anda bilang Laila dan Qadar itu anak suami saya?" Emosi Ambar nampaknya sudah ke ubun-ubun, darahnya seakan mendidih dan hatinya terasa panas terbakar api cemburu. Dia kini teringat pada Marni istri kedua suaminya. Apakah Laila dan Qadar anak Marni? Hasil dari pernikahan kedua suaminya? Atau ada wanita lain lagi? Berbagai dugaan memenuhi benak Ambar membuatnya marah.
"Jadi Syarif itu pernah menikah dengan kakak ipar saya yang bernama Marni, dia tinggal di kampung. Tapi sekarang Marni sudah meninggal dan kedua anaknya kami yang urus karena sudah lama Syarif menelantarkan istri dan kedua anaknya. Maksud kedatangan saya kesini untuk meminta pertanggungjawaban dari Syarif karena saat ini Qadar mengalami kecelakaan dan butuh biaya yang besar, " jelas Mira.
"Dengar ya Bu Mira. Saya ini istri sah Syarif dan saya istri pertamanya. Sedang Marni itu hanya pelakor, penghancur rumah tangga saya! Jadi jangan pernah berani menuntut apapun dari suami saya!" Ambar tampak marah sekali.
"Saya tidak mau tau apakah Bu Ambar atau Marni yang merupakan istri pertama Syarif . Siapapun itu Syarif tetap berkewajiban atas anak-anaknya, Laila dan Qadar!" Mira tak mau kalah.
Kedua wanita itu sama-sama memiliki mulut yang pedas dan watak yang keras tak mau kalah dan tak mau di salahkan. Keduanya tampak cocok menjadi lawan dalam perselisihan ini. Tak ada yang mau mengalah.
"Kamu tau kalau harta kekayaan ini bukanlah milik Syarif, dia tak punya apa-apa jika tak menikah dengan ku! Jadi jangan pernah berharap apapun dari suamiku karena dia tak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk Laila dan Qadar tanpa seizin ku!" Ambar begitu berapi-api.
"Kedua anak itu di lahirkan karena kesalahan ibunya yang bernama Marni, siapa suruh merebut suami orang, huh? Jadi kalau sekarang sengsara tanggung sendiri akibatnya, kalian keluarganya yang harus bertanggung jawab bukan Syarif!" lanjut Ambar mencoba memberikan peringatan pada Mira agar dia tak berani menuntut apapun dari Syarif.
Ambar tak pernah ikhlas kalau Syarif sampai rela mengeluarkan uang untuk kedua anak Marni, wanita yang paling dia benci di dunia ini. Apalagi uang Syarif berasal dari harta kekayaannya. Ambar tak akan rela meski mereka memelas, mengemis sampai menangis darah sekalipun Ambar tak akan pernah membantu mereka.
Syarif yang seorang lelaki tentu merasa harga dirinya di jatuhkan di depan Mira. Saat Ambar bilang jika dirinya tak punya apa-apa kalau tidak menikah dengannya. Ambar sudah merendahkan Syarif di depan mereka.
"Sekarang juga kalian pergi dari sini!" Ambar mengangkat tangan mengarahkan telunjuknya ke pintu utama, ia mengusir Mira dan Dita.
"Kami tidak akan pergi sebelum Syarif mengganti uang bekas pengobatan Qadar di Rumah Sakit," ucap Mira tetap kekeh.
"Sudah aku bilang, kalau aku tak akan mengeluarkan sepeserpun uang untuk kalian, apalagi Syarif!" tegas Ambar.
"Bu, biar mereka cepat pergi mending beri saja mereka uang gak perlu banyak-banyak. Yang penting mereka pergi dari rumah kita!" kata Syarif tampak berada di bawah ketiak istrinya.
"Oh jadi kamu mau kasih mereka uang? Kamu peduli pada kedua anak mu itu? Pada anak Marni!" Ambar melebarkan bola mata.
"Baik kalau kamu mau memperdulikan mereka, lebih baik mulai saat ini kamu angkat kaki dari rumahku! Jangan pernah bawa apapun barang yang ada di rumah ini, termasuk uang, ATM, semua barang berharga yang kamu pakai!" ancam Ambar pada Syarif.
"Tidak, aku tidak akan mempedulikan kedua anak itu. " Syarif tampak tak siap hidup sengsara.
"Kalian ini benar-benar tak punya perasaan! Aku kecewa!" tiba-tiba Restu muncul tanpa sepengetahuan mereka. Restu baru saja pulang dari Rumah sakit dan dia menyaksikan perselisihan antara kedua orang tuanya dengan Mira.
__ADS_1
bersambung,