
Laila berjalan tergesa-gesa masuk ke ruangan saat di beritahu oleh beberapa karyawan jika saat ini Nyonya besar pemilik PT. Nusantara sedang menunggu di ruangannya.
Benak Laila mulai bertanya-tanya, ada apa Nenek Julian ingin bertemu dengannya saat ini? Apa ada masalah? Tapi apa? Apa beliau akan bertanya soal kedekatannya dengan Julian? Atau ada hubungannya dengan masalah pekerjaan?
Laila terus berpikir hingga akhirnya ia sampai di depan pintu ruangan. Laila berhenti sejenak mengambil napas dan mencoba mengenyahkan kegugupan. Pasalnya ini kali pertama dirinya bertemu dengan Nenek Julian. Selama bekerja di sini ia belum pernah sekalipun bertemu dengan beliau. Tentu saat ini Laila merasa gugup dan penasaran, untuk apa beliau ingin menemuinya?
Ceklek!
Laila membuka pintu ruangan. Seorang wanita tua berdiri membelakangi pintu menghadap meja kerja, sepertinya beliau sedang melihat sesuatu di sana.
"Assalamualaikum." Laila mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." Wanita tua itu membalik badan menatap Laila dari atas hingga bawah, membuat Laila makin grogi.
Laila berjalan mendekat lantas menyalami wanita tua itu, mencium punggung tangan dengan sopan.
"Silahkan duduk, Nyonya!" ucap Laila mempersilahkan wanita itu duduk.
"Terima kasih."
Laila pun duduk di sebrang wanita tua itu. Laila merasa familiar melihat wajah Nenek Julian, tapi dimana? Laila mengingat-ingat hingga akhirnya ia teringat satu kejadian di masa lalu.
"Maaf Nyonya, rasanya kita pernah bertemu sebelumnya."
"Oh ya? Dimana?" tanya Nenek Julian.
"Sekitar sepuluh tahun lalu waktu saya masih remaja, saya pernah di tolong seseorang saat kecopetan di angkot. Dan Nyonya menolong saya dengan membayar ongkos angkot saya. Benarkan itu Nyonya?" Laila memastikan jika ia tak salah orang.
__ADS_1
Nenek Julian mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi sekitar sepuluh tahun silam, usianya yang sudah tua membuatnya agak lupa dengan kejadian lama.
"Ya aku ingat." Seketika wanita tua itu pun mulai mengingat kejadian yang terjadi di masa lalu. Meski agak sulit tapi akhirnya dia ingat juga.
"Jadi kamu anak yang waktu itu kecopetan di angkot? Wah gak nyangka kita bisa bertemu lagi di sini. Sudah lama aku nyari kamu, rupanya kamu kerja di sini di perusahaan keluargaku," kata wanita itu.
"Saya juga gak nyangka bisa ketemu ibu lagi, maaf maksud saya Nyonya."
"Panggil saja Nenek Dewi biar lebih akrab," ucapnya.
"Aduh gimana ya, gak enak juga soalnya saya kan kerja di tempat anda Nyonya." Laila merasa sungkan.
"Gak apa-apa, " ucapnya.
"Saya belum sempat berterimakasih sama Nyonya eh maksud saya Nenek Dewi. Waktu itu Nenek sudah menolong saya, terima kasih banyak. Saya gak tau dari mana saya harus membayar ongkos kalau misal gak ada nenek pada waktu itu," kata Laila.
"Makanya selama ini Nenek selalu mencari kamu, tapi sayang setelah kejadian tempo hari kita gak pernah bertemu lagi. Karena doa mu bisnis nenek maju dan lihat sekarang bisa memiliki perusahaan ini, padahal dulu masih kecil-kecilan," lanjutnya.
"Ini semua berkat usaha Nenek sendiri dan juga karena Allah. Bukan karena aku," ucap Laila mengingatkan.
"Tapi beneran loh, Laila. Semenjak bertemu kamu sepertinya Nenek lebih beruntung, ada aja peluang usaha berdatangan bahkan banyak orang yang mau bekerja sama menyimpan saham di perusahaan yang waktu itu masih kecil." Nenek Dewi masih yakin dengan pendapatnya jika doa Laila sangat manjur.
Laila hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, percuma juga berdebat dengan Nenek Dewi yang sudah begitu yakin dengan persepsinya itu.
Sementara Nenek Dewi atau neneknya Julian semakin setuju jika kelak Julian menjadikan Laila sebagai pendamping hidup. Beliau akan membicarakan hal ini pada anak dan menantunya yang tak lain adalah orang tua Julian.
"Ngomong-ngomong Nenek kesini ada perlu apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Laila baru teringat untuk menanyakan apa tujuan wanita itu menemuinya.
__ADS_1
"Nenek datang kesini hanya ingin tau saja yang namanya Laila. Rupanya kamu toh! Soalnya Julian cerita kalau misal dia sedang mendekati seorang perempuan dan itu adalah kamu." Nenek Dewi tak mau basa-basi, dia langsung saja mengutarakan maksudnya datang kemari.
Wajah Laila bersemu merah seketika. Ia tersipu malu mendengar ucapan Nenek Dewi barusan.
"Karena itu Nenek mau minta tolong sama kamu." Kini wanita tua itu terlihat serius.
"Apa yang bisa saya lakukan?" Tanya Laila ragu. Ya dia ragu karena khawatir jika Nenek Dewi memintanya untuk menerima lamaran dari cucu nya. Jujur, Laila masih belum siap menikah.
"Semenjak dekat dengan kamu, Julian banyak berubah. Bahkan kemarin dia sempat bilang ingin belajar ilmu agama karena katanya jika ingin mendapatkan wanita seperti kamu maka dia juga harus memiliki ilmu agama yang baik. Untuk itu Nenek minta agar kamu terus memberinya dorongan untuk menjadi lebih baik lagi, sepertinya kamu bisa memberi dia semangat apalagi jika kamu memberi kesempatan untuk Julian menempati sedikit saja tempat di hati kamu." Nenek Dewi menggenggam jemari Laila yang bertumpu di atas meja.
Sontak Laila tercengang kaget, ia bingung harus bagaimana dan harus berkata apa.
Mungkin untuk membantu Julian menjadi orang yang lebih baik, Laila bisa memberinya suport. Tapi itupun tergantung dari keinginan dan tekad Julian sendiri, apakah dia akan Istiqomah setelahnya atau tidak. Semua tergantung pribadi masing-masing.
Dan masalah hati, Laila belum bisa memastikan apakah Julian menempati tempat khusus di hatinya atau tidak.
"Insyaallah saya akan suport Julian untuk belajar agama, tapi kalau masalah di luar itu saya tidak janji dan saya pun belum tau kedepannya akan seperti apa." Laila tampak tak enak hati harus berkata demikian makanya ia sangat berhati-hati saat mengutarakan tak ingin menyinggung perasaan Nenek Dewi.
"Apa kamu sudah punya calon?" Selidik Nenek Dewi.
"Tidak, belum!" Laila menjawab cepat sambil menggelengkan kepala.
Nenek Dewi mengulum senyum.
"Berarti Julian masih punya kesempatan memiliki kamu. Semoga setelah belajar agama nanti, Julian menjadi pria yang lebih baik dan sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan." Nenek Dewi tampak optimis.
Laila hanya mengulas senyum kaku, ia tak pernah tau tentang rahasia hati. Biarkan saja waktu yang akan menjawab semuanya. Laila tak pernah membayangkan atau berangan-angan tentang pasangan hidup, jika jodoh maka tak akan kemana. Siapapun itu asalkan bisa membawa Laila selamat dunia akhirat. Laila percaya jodoh adalah urusan Tuhan, ia serahkan semuanya pada Tuhan.
__ADS_1
bersambung,