Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 23


__ADS_3

''Laila tolong belanja ke pasar ya, hari ini Bibi gak enak badan. Kamu aja yang belanja ya!" pinta Mira.


"Iya Bi." Laila menghampiri Bibi nya yang sedang menuliskan bahan belanjaan di secarik kertas.


"Nih tulisannya dan ini uangnya. Kamu tau kan pasarnya, gak jauh dari komplek ini kok jalan kaki juga nyampe gak usah naik angkot biar ngirit!" kata Mira.


Laila mengangguk pelan, meraih secarik kertas berisi daftar belanjaan dan sejumlah uang.


Dari komplek ke pasar tradisional sebenarnya cukup jauh jaraknya tapi Mira malah menyuruh Laila untuk berjalan kaki sementara belanjaan pasti banyak dan berat.


Laila tak heran karena Mira memang suka itung-itungan masalah duit yang gak seberapa. Cuman ongkos angkutan umum saja sepertinya dia keberatan mengeluarkan uang. Untung Laila masih menyimpan uang hasil keuntungan dari penjualan takjil jadi bisa dia pergunakan untuk ongkos angkot dan jaga-jaga kalau uang yang di berikan bibinya pas-pasan bahkan mungkin bisa saja kurang.


Laila bergegas pergi mumpung hari masih pagi dan cuaca belum terlalu panas.


Di depan komplek Laila menyetop angkot yang mana angkot tersebut akan melewati jalur ke pasar.


Angkot itu pun berhenti di depan Laila. Segera gadis remaja itu naik dan duduk di deretan bangku yang berhadap-hadapan.


Suara knalpot meraung ketika mobil itu kembali melaju, mengeluarkan asap tebal yang mengkontaminasi udara pagi bercampur dengan asap kendaraan lainnya di jalan raya tersebut.


Keadaan di dalam angkot berdesak-desakan, cukup membuat Laila merasa pengap apalagi ia duduk di tengah-tengah para penumpang lain.


"Minggir bang!" sahut seroang pria memakai pakaian hitam yang duduk di samping Laila.


Sopir angkot pun menginjak rem hingga mobil itu berhenti meski agak lamban.


Pria itupun turun lalu membayar ongkos pada sopir. Angkot kembali melaju membelah jalanan raya.


Merasa sebentar lagi sampai Laila pun merogoh saku celananya hendak mengambil dompet kecil untuk membayar ongkos.


Namun setelah ia meraba-raba dia tak menemukan dompet kecil itu dalam saku celananya.


Mata Laila membulat sempurna ia terkejut saat mengetahui jika dompetnya sudah raib. Kemungkinan pria yang turun tadi adalah copet yang telah mengambil dompet Laila.


"Kenapa dek?" tanya ibu-ibu berbadan gempal yang duduk di depan joknya, ia melihat Laila seperti orang kebingungan.


"Dompet saya hilang Bu, "jawab Laila dengan panik.

__ADS_1


Spontan semua orang yang ada di dalam angkot itu tampak terkejut menoleh ke arah Laila, termasuk sang sopir ia melirik lewat kaca spion.


"Wah jangan-jangan orang yang tadi turun lagi copetnya!" sahut sang sopir masih sibuk mengemudikan mobilnya.


"Bisa jadi tuh, keliatannya mencurigakan!" ucap para penumpang lain.


"Kalau gitu berhenti di sini saja Pak!" pinta Laila dengan keadaan panik dan bingung.


Sopir itu pun menghentikan laju kendaraannya.


"Maaf sebelumnya pak tapi saya tidak punya uang lagi, semua uang saya ada dalam dompet itu, " kata Laila setelah ia turun dari mobil.


"Sudah biar saya saja yang bayar ongkos anak itu," kata Ibu-ibu berbadan gempal tadi.


Laila melongok ke pintu belakang.


"Makasih Bu, semoga Allah melipatgandakan rezeky ibu." Laila merundukan badan.


"Aamiin, sama-sama."


Mobil angkot pun berlalu dari hadapan Laila.


"Siapa tau beneran kecopetan kan pak, lagian aku liat dia anak baik." Ibu berbadan gempal lebih percaya pada Laila.


"Ya anak jaman sekarang mah suka menipu pakai penampilan dan keluguan mereka, " sang sopir seakan tak mau kalah debat.


"Biarin aja aku ikhlas bayar kok pak, gak sampe sejuta ini ongkos angkot!" kata ibu berbadan gempal membungkam mulut si sopir.


Sementara itu Laila berjalan seperti orang linglung. Dia bingung bagaimana bisa belanja kalau uang untuk belanjanya saja hilang di ambil orang. Tak terbayang bagaimana marahnya Mira nanti kalau tau uang belanjaannya di copet. Laila pasti akan kena marah.


Di rumah pun dia tak punya uang untuk mengganti uang belanjaan Bibinya. Laila bingung harus bagaimana. Kini ia terus berjalan kembali ke rumah.


Apapun yang terjadi nanti akan dia hadapi, semua ini memang salahnya yang terlalu ceroboh. Dia terbiasa tinggal di desa dimana jarang terjadi tindak kriminal. Dia lupa saat ini berada di kota besar di mana para penjahat berkeliaran selagi ada kesempatan maka mereka akan bertindak sekalipun korbannya itu anak kecil. Mereka bergerak tak pandang bulu. Padahal jika di pikir uang yang di ambil dari anak sepantaran Laila tak akan seberapa jumlahnya. Namun tetap saja mereka mau mencopet karena kesempatan itu ada saat Laila lengah.


Tiba di rumah Laila siap-siap kena omelan bibinya. Sudah pasti Mira akan memarahinya.


Benar saja, Mira membelalakkan mata saat melihat Laila pulang dengan tangan kosong. Tanpa ada belanjaan di tangannya.

__ADS_1


Di tambah lagi Laila begitu cepat kembali padahal dia baru saja pergi.


"Loh kok udah balik lagi, mana belanjaannya?" tanya Mira.


"Maaf Bi, pas di angkot tadi aku kecopetan. Dan dia mengambil dompetku. Semua uang belanja Bibi aku masukkan ke dompet itu," jawab Laila.


"Apa? Kecopetan kamu bilang?" Mira tampak terkejut sambil bertolak pinggang.


"Jangan bohong kamu. Pasti uangnya Kamu pakai kan?" tuding Mira.


"Enggak Bi, emang beneran kecopetan. Aku nggak mungkin berani pakai uang bibi." Laila membantah tuduhan Mira.


"Halah... ngaku aja deh! Aku tahu kamu butuh uang. Secara kamu kan nggak pernah aku beri jajan, pasti kamu pakai uangnya kan?" Mira kekeh menuduh Laila yang bukan-bukan.


Seketika Dita keluar dari kamar setelah mendengar ribut-ribut di ruangan televisi.


"Ada apaan sih ribut-ribut?" tanya Dita.


"Ini nih anak kurang ajar ini pakai acara pura-pura kecopetan segala lagi. Uang belanja Ibu ludes nggak bersisa pasti di pakai sama dia!" Mira masih kekeh dengan persepsinya.


"Astaga berani sekali! Penampilannya aja yang lugu tahunya akhlak nya buruk!" hujat Dita.


Laila menggelengkan kepala dia tidak merasa seperti yang di tuduhkan Mira.


"Maafkan aku Bi, tapi beneran uangnya di copet orang. Biar nanti aku ganti, bi!" kata Laila.


"Ganti pakai apa? Pakai daon?" cibir Dita.


"Aku kan nanti dapat keuntungan dari jual takjil!" kata Laila.


"Biar aku cicil," lanjutnya.


"Halah.. Gak ada jual takjil hari ini! Modalnya aja udah kamu habisin mana bisa jualan! Bikin bangkrut orang aja! " geram Mira.


"Lama-lama bikin kita melarat nih orang!" sambung Dita.


Laila hanya tertunduk tak bisa berkata apapun bahkan untuk membela diri saja rasanya percuma mereka tidak akan percaya. Laila memilih diam daripada membuang energi untuk melawan mereka.

__ADS_1


bersambung,


__ADS_2