Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 6


__ADS_3

Saat Handoko berangkat kerja dan Dita pergi ke sekolah, Mira baru memberi Laila dan Qadar makan.


Namun yang Mira berikan hanya nasi putih tok tanpa tambahan apapun.


"Lauknya mana, Bi?" tanya Qadar dengan polosnya.


"Gak ada! Masih untung di kasih nasi, coba kalau kalian di kampung belum tentu ketemu nasi dari semalam sampai pagi ini, iya kan?" Suara Mira terdengar begitu galak dan lantang membuat Aldo yang sedang asyik bermain pun berjalan ke pintu dapur dan memperhatikan tiga orang yang ada di sana.


Aldo lihat Qadar dan Laila memegang dua piring nasi putih tanpa lauk. Aldo yang masih kecil pun bertanya tanya dalam hati kenapa Ibu nya tidak memberikan lauk untuk mereka.


"Boleh kami goreng nasinya?" tanya Laila memberanikan diri.


"Ada-ada aja! Ya udah sana goreng saja, tapi kecapnya habis jadi gak usah cari kecap." Mira melengos pergi dari dapur tak peduli mau di apakan nasi yang sudah ia berikan pada dua anak itu.


"Kita buat nasi goreng putih, kayak yang biasa ibu kita bikin." Laila berjalan menuju meja kompor mulai menggoreng nasi putih dengan sedikit bawang yang sudah ia iris sebelumnya.


"Wangi kak, sepertinya ini enak." Qadar mencium bau wangi nasi goreng yang sudah berada di atas meja makan.


"Tapi mungkin gak seenak buatan ibu, gak apa-apa kan?" Laila duduk di samping Qadar.


Seketika Aldo muncul menghampiri mereka berdua. Nasi goreng buatan Laila cukup membuat Aldo ngiler dan ingin mencicipinya.


"Kamu mau nasi gorengnya?" tanya Laila pada Aldo.


Anak kecil itu mengangguk pelan.


"Sini duduk dekat kakak, bentar kakak ambil piring dulu buat kamu. " Laila membawa piring di rak dekat meja kompor lantas kembali duduk dan membagi nasi goreng miliknya pada piring yang baru ia ambil tadi.


"Sebagian dari punya ku saja kak, " ucap Qadar menggeser piringnya agar miliknya di berikan pada Aldo sebagian.


Qadar tak tega jika kakaknya makan sedikit, agar adil Qadar juga membagi miliknya.


"Jangan banyak-banyak kak, Aldo perutnya kecil nanti gak muat! " cetus Aldo terdengar menggelitik di telinga dua adik kakak itu hingga mereka tertawa kecil.

__ADS_1


"Iya kakak tau, tapi kalau makan kamu banyak nanti kamu bakal cepet gede," ucap Laila seraya duduk dan memimpin doa sebelum makan.


Mereka mulai menyantap nasi goreng putih dengan lahapnya.


"Nasi gorengnya enak kak," puji Aldo.


"Nanti Aldo mau di buatin lagi sama kak Laila," lanjutnya dengan mulut penuh nasi goreng.


"Alhamdulillah kalau Aldo suka, nanti kakak pasti bakal buatkan lagi," kata Laila merasa lega karena nasi goreng buatannya cukup enak meski tak seenak buatan Marni ibunya.


Laila akan belajar lagi memberi bumbu pada nasi gorengnya agar nanti rasanya persis seperti buatan Marni. Hanya kurang sedikit saja perbedaan rasanya.


"Bener kak ini enak! Kakak emang jago kayak ibu," ucap Qadar mengacungkan jempol tangan.


" Makasih."


Mira yang kebetulan ingin membawa air ke dapur nampak penasaran sedang apa anak-anak itu di meja makan. Dia mengernyitkan dahi melihat Aldo ada bersama mereka.


Aldo rupanya sedang makan nasi goreng. Mira merasa heran, biasanya Aldo tak pernah makan dengan lahap bisa di bilang Aldo susah sekali makan. Tapi sekarang nasi dalam piring Aldo sudah kosong tak bersisa.


"Masa?" Mira melirik sekilas lantas ia segera mengambil air minum dari dispenser dan meneguk air tersebut sampai tandas.


"Bu, aku main sama mereka ya?" ucap Aldo.


" Iya, iya! " Mira melengos pergi ke ruangan lain. Ia sedang sibuk membaca novel online sambil ngemil di ruang tengah.


' Ada untungnya juga Laila sama Qadar, jadi aku gak di ganggu sama Aldo lagi saat baca novel,' batin Mira sambil rebahan di sofa.


***


Menjelang sore hari Handoko pulang kerja. Ia membawa buah tangan berupa berbagai snack, cokelat juga permen untuk kedua anaknya dan juga untuk keponakannya.


"Asyik Ayah bawa oleh-oleh!" Seru Aldo segera menghampiri Handoko yang baru sampai di ambang pintu. Dua kantong plastik dalam genggaman Handoko segera di sambar oleh Dita dan Aldo.

__ADS_1


" Hei itu punya Laila dan Qadar juga ya! Bagi-bagi rata!" seru Handoko sambil membuka sepatu.


Qadar tersenyum girang saat Aldo membongkar isi kantong plastik yang berisi banyak makanan.


"Wah! " mulut Qadar terbuka lebar melihat makanan yang banyak dan semua nampak enak. Qadar jarang sekali jajan makanan toko semacam itu hingga ia sangat senang saat di belikan oleh Pamannya.


Mira mendelik sambil tersenyum mengejek melihat ekspresi Qadar. Begitupun Dita ia terlihat sinis dan segera membawa jatahnya ke kamar.


"Bilang apa sama Paman?" bisik Laila.


" Makasih Paman!" seru Qadar sambil membuka salah satu makanan.


"Makasih ya Paman," ucap Laila pada Handoko.


" Iya sama-sama. Makan gih, semua spesial buat kalian, besok Paman beli lebih banyak lagi, " kata Handoko.


"Beli yang banyak, sama toko nya kalau perlu biar cepet melarat!" sindir Mira namun tak di gubris Handoko.


Sikap Mira lebih sentimen semenjak ada Laila dan Qadar. Handoko tau watak istrinya dan apa yang ada dalam pikiran Mira saat ini. Tapi Handoko tak mau ribut dengannya apalagi di depan anak-anak. Selama masih wajar, Handoko tak mau ambil pusing.


"Besok aku mau daftarkan mereka ke sekolah yang sama dengan Dita biar mereka sekalian barengan pergi sekolahnya. Di sana kan SD, SMP, sama SMA bersatu, jadi kita daftarkan Laila sama Qadar ke situ saja. " Handoko mengganti pakaian setelah ia membersihkan diri.


"Aku gak setuju! "


" Loh kenapa?"


"Kamu pikir kamu punya duit buat sekolahin mereka? Kalau mau Qadar saja yang sekolah, Si Laila gak usah," sungut Mira.


"Gaji kamu itu habis buat bayar cicilan rumah, belum lagi biaya sehari-hari. Biarin aja Laila berhenti sekolah, toh ujung-ujungnya nanti dia ke dapur juga kalau udah nikah. Buat apa repot-repot sekolah? Nih aku aja lulusan D3 malah masuk ke dapur lagi kan?" cerocos Mira.


"Tapi,,,."


" Udah jangan ngeyel. Kalaupun ada duit, mendingan di tabung buat biaya kuliahnya Dita. Bukan malah sekolahin Laila. Lagian si Laila udah tau kalau dia bakal putus sekolah, biar nanti dia aku ajak bisnis rumahan saja. Bentar lagi kan puasa, seperti biasa aku pasti banyak orderan takjil. Biar dia bantu aku jualan!" ucap Mira tanpa ingin di bantah.

__ADS_1


Handoko terdiam, ia sadar akan kondisi keuangan yang tak begitu baik. Masih untung Mira bisa membantunya menutupi kekurangan ekonomi keluarga. Handoko terpaksa menuruti keinginan Mira untuk tidak menyekolahkan Laila.


bersambung,


__ADS_2