Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 28


__ADS_3

Sore itu Handoko mengajak keluarganya untuk berbuka bersama di sebuah cafe. Kebetulan dia mendapatkan rezeki lebih jadi sekali-kali dia ingin mengajak keluarganya untuk berbuka di luar.


Aldo dan Qadar tampak senang sekali saat tahu jika Handoko mengajak mereka makan di sebuah cafe.


Pukul 17.00 mereka berangkat dari rumah. Sesampainya di sebuah cafe tak sengaja mereka bertemu dengan keluarga Restu yang kebetulan juga akan berbuka di sana.


Sebelumnya keluarga Handoko tidak menyadari keberadaan Restu dan keluarganya. Namun saat Restu memanggil Laila baru mereka menyadari dan melihat ada Syarif di sana.


"Laila, Qadar!" sahut Restu.


Kedua kakak beradik itu pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama mereka.


Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui keberadaan Restu yang tentunya dia bersama Syarif juga Ambar.


Mira yang tahu dan mengenali Syarif hampir saja memanggil namanya. Ia tercengang saat melihat Syarif bersama wanita lain.


Untung saja Handoko berhasil mencegah Mira agar temannya hut memanggil nama Syarif. Handoko memberi kode pada istrinya agar berpura-pura tidak mengenal Syarif. Mira mengerti mengapa Handoko mencegahnya memanggil Syarif kakak iparnya. Yang mungkin saat ini Syarif sedang bersama keluarga barunya, pikir Mira.


Kedua keluarga itu pun bertemu saling berhadapan.


"Ini yang waktu itu jualan takjil kan?" tanya Ambar menunjuk Dita dan Laila.


"Iya tante," jawab Dita seakan mencari perhatian dari orang tua Restu.


Tatapan mata Handoko bertemu dengan Syarif. Tampaknya Syarif seringkali memalingkan wajah menghindar dari tatapan Handoko. Hatinya gelisah dan panik ia takut Handoko membongkar semuanya mengatakan pada Ambar tentang Laila dan Qadar. Andai Laila tak pernah mencegahnya untuk mengatakan kebenaran tentang siapa Syarif di hadapan istri pertama dan anak Syarif mungkin Handoko sudah membongkar semuanya.


Handoko tampak geram ia mengepalkan kedua tangan melihat Syarif kakak iparnya kini bersama keluarga barunya hingga melupakan Laila dan Qadar yang juga darah daging pria itu.


"Ibu sama Ayahnya Restu ya?" Mira melempar senyum kaku seakan tak percaya jika Restu adalah anak Syarif kakak iparnya.

__ADS_1


"Iya saya ibunya dan ini ayah Restu, anda Bibinya Laila, ibunya Dita maksud saya!" jawab Ambar.


"Saya Bibinya Laila, yang jualan takjil itu Bu. Senang bertemu dengan ibu. Oh ya, ini suami saya, dan ini anak bungsu saya Aldo. Kalo yang sebelah Laila itu adik Laila namanya Qadar," ucap Mira memperkenalkan mereka satu persatu kepada Ambar.


"Oh jadi kalian merawat dua keponakan sekaligus?" Ambar manggut-manggut.


"Iya Bu, kebetulan ibunya Laila sama Qadar sudah meninggal beliau kakaknya suami saya," jawab Mira sesekali ia menoleh ke arah Syarif yang terus membuang wajah. bisa Mira lihat betapa gugupnya pria itu.


"Lalu ayah mereka ke mana?" tanya Ambar.


Sontak Handoko, Mira, dan Laila menoleh ke arah Syarif membuat Syarif semakin gugup.


"Emm..."


"Beliau sudah meninggal," Handoko mendahului Mira berbicara, Handoko mencegah istrinya itu agar tak berkata yang tidak-tidak.


Namun Mira yang mendengar itu kini menoleh ke arah Syarif seakan sedang menertawakan pria itu. Mira yang awalnya membenci keberadaan Laila dan Qadar di tengah-tengah keluarganya, kini menjadi prihatin kepada dua keponakannya itu setelah tahu bagaimana kelakuan Syarif ayah mereka.


Mira merasa heran kenapa Handoko dan Laila hanya diam dan tidak mengatakan hal yang sebenarnya di hadapan istri Syarif.


"Bukannya kemarin Restu bilang sedang berusaha mencari Ayah Laila?" tanya Ambar karena seingatnya Restu pernah bercerita tentang hal itu.


"Ya saya memang mencarinya tapi sekarang saya tahu jika ayah saya telah meninggal." manik mata Laila kini menatap tajam ke arah Syarif seakan memberi penekanan saat dia mengucapkan kata 'meninggal'.


'Hatinya lah yang telah mati hingga tak mau mengakui anak-anaknya,' batin Laila.


Mata Syarif tampak memerah menahan amarah,malu dan rasa takut.


"Semoga Allah melimpahkan rezeky yang besar pada Om dan Tante karena sudah mau merawat anak-anak yatim piatu ini, Laila juga Qadar!" kata Restu merasa iba.

__ADS_1


"Aamiin."


"Om pasti akan merawat mereka sebaik mungkin seperti Om perawat anak kandung Om sendiri. Kasihan mereka berdua tak bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua, tapi dengan begitu Om yakin Laila dan Qadar akan menjadi anak yang sukses kelak dan membuktikan kepada kedua orang tuanya jika mereka bisa bertahan hidup meski tanpa ada kedua orang tua di samping mereka. Terutama sosok ayah yang sama sekali tak pernah ada dalam kehidupan mereka berdua," tegas Handoko seraya menatap tajam pada Syarif. Membuat Syarif makin gugup dan salah tingkah.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Syarif pada Ambar dan Restu.


"Loh kok pergi bukannya kita mau buka di sini?" Ambar merasa heran karena tiba-tiba suaminya mengajaknya pulang.


"Lain kali saja aku gak enak badan," kata Syarif beralasan.


"Kenapa terburu-buru? kita bisa buka puasa sama-sama!" Mira seakan dengan sengaja menahan kepergian mereka.


Mira tampak gemas melihat kelakuan Syarif. Mira yang judes saja tak habis pikir melihat Syarif yang tidak mau mengakui kedua anaknya.


"Tidak, terima kasih lain kali saja Bu, ini suami saya sepertinya tidak enak badan," tolak Ambar.


"Kami permisi!" Mereka pun berlalu dari hadapan Handoko sekeluarga.


Handoko merasa tak puas jika tidak meluapkan emosinya pada Syarif, kalau saja ia sedang tidak puasa mungkin Syarif akan mendapatkan tinju darinya.


"Kok kamu gak pernah bilang sama aku soal ini?" tanya Mira pada suaminya.


Kini mereka sudah duduk di salah satu bangku di cafe tersebut. Anak-anak sedang sibuk memesan makanan yang mereka inginkan. Kecuali Laila ia hanya diam tak bicara apapun bahkan sepertinya napsu makan pun hilang setelah bertemu kembali dengan ayahnya.


"Laila memintaku merahasiakan ini dari kalian terutama Qadar," bisik Handoko.


Seketika Mira menoleh pada Laila. Kini Mira merasa kasihan melihat Laila yang ternyata sudah banyak menanggung derita di usianya yang masih sangat muda.


bersambung,

__ADS_1


__ADS_2